Di Kolombia Ada Suku yang Bertugas Menjaga Keseimbangan Alam Semesta

Sebuah suku pedalaman hidup di puncak Pegunungan Sierra Nevada, Kolombia. Selama lebih dari 2.000 tahun, mereka menjadikan kawasan yang berkabut dan tertutup awan itu sebagai rumahnya.
Seakan ingin hidup selaras dengan alam, suku pedalaman itu mempertahankan cara hidup para leluhur yang dilakukan berabad-abad lalu. Hidup tanpa sentuhan teknologi tinggi, mereka mengandalkan kegiatan bercocok tanam untuk menyambung kehidupan.
Dalam kehidupannya, mereka percaya satu hal. Merekalah yang bertugas menjaga keseimbangan alam dan semesta. Orang-orang mengenal mereka sebagai Suku Wiwa.

Berpakaian putih-putih, tanpa aksesoris yang berlebihan atau corak yang ramai, dalam sekali pandang Suku Wiwa mirip dengan Suku Baduy. Bedanya, mereka tidak pernah menggunakan warna hitam, dan tinggalnya pun bukan di Indonesia.
Selain menggunakan pakaian yang serba putih, Suku Wiwa juga biasanya membiarkan rambut mereka tumbuh panjang, baik para pria maupun wanita. Mereka mengidentifikasi diri dengan menggunakan topi lebar berwarna putih pula sebagai tanda perdamaian.
Suku Wiwa adalah keturunan langsung dari orang-orang Tairona yang hidup pada 200 SM. Di zamannya, mereka punya peradaban yang besar.

Orang-orang Tairona adalah kumpulan orang-orang yang unggul dengan keterampilan yang mengesankan dalam bidang arsitektur dan mengolah emas. Namun, di masa kini, generasi penerusnya lebih memilih untuk hidup sesuai dengan budaya kuno, walaupun modernisasi dan pariwisata hadir di sekelilingnya.
Bersama dengan tiga suku lainnya, yaitu Arhuaco (Ika), Kogi, dan Kankuamo, Suku Wiwa mendiami Pegunungan Sierra Nevada yang berlokasi sekitar 5.000 kilometer jauhnya dari Pantai Karibia Utara, Kolombia.
Bagi suku Wiwa, Pegunungan Sierra Nevada bukan sekadar tempat tinggal. Tapi juga detak jantung dunia dan penghubung antara dunia nyata dengan dunia spiritual.

Mirip dengan suku pedalaman yang hidup di Pegunungan Andes di Peru dan Bolivia, Suku Wiwa menganggap bumi sebagai dewi mereka. Puncak berselimut kabut, hutan tropis yang rimbun, padang rumput yang luas, dan setiap bagian dari Pegunungan Sierra Nevada dianggap sakral.
Apalagi karena Pegunungan Sierra Nevada mampu mencukupi kebutuhan mereka, seperti makanan, air, dan tanaman obat-obatan. Suku Wiwa merasa mereka mesti melanjutkan kehidupan leluhur, untuk melindungi dan menenangkannya.

Dengan populasi berjumlah sekitar 7 ribu orang, Suku Wiwa menjadi kelompok etnis terkecil yang tinggal di Pegunungan Sierra Nevada. Mereka menyebut diri mereka sebagai kakak laki-laki.
Sedangkan orang-orang di luar mereka, dijuluki sebagai adik laki-laki. Suku Wiwa percaya bahwa mereka memiliki kebijaksanaan dan pemahaman tentang mistis yang lebih luas dari pada orang lain.
Karena itu, mereka juga menyebut diri mereka sebagai Damanas, yang berarti Pelindung Bumi. Suku Wiwa percaya bahwa sebagai kakak laki-laki, mereka bertanggung jawab untuk menjaga keseimbangan alam semesta.

Sehingga ketika ada badai, kekeringan, atau kelaparan di seluruh dunia, mereka akan mengira bahwa merekalah yang menjadi alasan kegagalan manusia untuk hidup harmonis dengan alam.
Oleh sebab itu, Suku Wiwa menjalani kehidupan yang sangat sederhana. Mereka mempersembahkan sebagian besar kehidupannya untuk menjaga alam.
Di tengah-tengah kehidupan mereka, ada pula seorang pemimpin spiritual yang dikenal sebagai Mamos. Mamos bertanggung jawab menjaga ketertiban dalam masyarakat, mempertahankan tatanan alam fisik dan spiritual melalui meditasi, ritual, dan lagu.

Dalam beberapa kesempatan, Mamos juga bertindak sebagai dokter jika ada yang membutuhkan. Untuk menjadi Mamos, pria suku Wiwa harus dilatih sejak masih sangat muda. Biasanya butuh waktu hingga 18 tahun untuk menyelesaikannya.
Pria muda yang menjadi Mamos akan dibawa ke pegunungan tinggi. Lalu diajarkan untuk merenungkan alam dan dunia roh. Mamos kemudian akan menjadi pendeta, guru, dan dokter bagi Suku Wiwa yang dipimpinnya.
Memilih Mamos pun tidak bisa sembarangan. Ada sebuah wadah kecil berwarna jingga bernama Poporo yang diberikan para penatua pada pria muda yang dianggap cukup bijaksana.
Poporo yang diberikan berisi tumbukan bubuk dari cangkang kerang dan daun koka, sebelum akhirnya ia dibawa ke puncak pegunungan.
Dalam tradisi Suku Wiwa, daun koka memegang peranan penting. Daun yang juga dikenal sebagai cikal bakal kokain ini dianggap sebagai salah satu cara menenangkan Pegunungan Sierra Nevada.

Para wanita biasanya akan mengumpulkan daun koka. Setelah bersulang, mereka akan melemparkan daun yang telah dikumpulkan ke dalam tas dengan batu panas. Kemudian menaruhnya ke dalam tas anyaman kecil untuk dibawa ke mana pun mereka pergi.
Selayaknya rokok, daun koka akan dikunyah di setiap kesempatan. Sari dari daun koka diyakini Suku Wiwa mampu memberikan mereka energi dan menghubungkan mereka ke tingkat spiritual yang tinggi.
Sebagai tanda hormat, daun koka juga menjadi alat tukar setiap kali Suku Wiwa bertemu satu dengan yang lain. Itu sebabnya, hampir semua pria Suku Wiwa memiliki Poporonya sendiri sejak mereka berusia 18 tahun.
Menggunakan Poporo dan mengunyah daun koka dipercaya sebagai tradisi yang dalam, menghubungkan dengan leluhur, sambil membantu mereka menghadapi dunia yang terus berubah.
Sayang, cara hidup mereka dimanfaatkan pihak tertentu yang tak bertanggung jawab dengan menanam daun koka sebagai bahan baku perdagangan narkoba.
Dilansir Survival Internatinal, hasil perdagangan narkoba itu pula yang dijadikan sebagai sumber dana untuk membiayai konflik bersenjata dalam perang saudara yang terjadi di Kolombia.
Sehingga sering kali Suku Wiwa terperangkap dalam baku tembak antara tentara dan kelompok bersenjata ilegal. Banyak dari mereka yang kemudian terbunuh atau terpaksa melarikan diri dari perang sipil yang terjadi di tanah mereka.
