Disebut Buatan Alien oleh Elon Musk, Ini Fakta Pembangunan Piramida Mesir

CEO Tesla dan Space X, Elon Musk, membuat pernyataan yang menggemparkan dengan menyebut piramida di Mesir dibangun oleh makhluk asing dari planet lain alias alien. Hal itu diungkap Elon Musk lewat Twitter pada 31 Juli lalu dan sudah mendapat hampir 600 ribu like.
Menanggapi cuitan salah satu orang terkaya di dunia itu, Pemerintah Mesir langsung mengundang Elon Musk bertandang ke Piramida. Mereka meminta Elon Musk membuktikan pernyataannya.
“Saya mengikuti dan mengagumi karya Anda. Saya mengundang Anda dan Space X untuk mengeksplorasi penulisan tentang bagaimana piramida dibangun dan juga untuk melihat makam para pembangun piramida. Tuan Musk, kami tunggu kehadirannya,” tulis Rania A. Al Mashat, Menteri Kerja Sama Internasional Mesir di akun Twitter resminya.
Dilansir The Vintage News, para peneliti dari French Institute for Oriental Archaeology di Kairo dan University of Liverpool, Inggris menemukan bukti bahwa Piramida dibangun sekitar 3.800 tahun lalu. Para arkeolog mengungkapkan jika mereka menemukan sisa-sisa dari metode pembangunan piramida.
Temuan itu berupa sistem yang digunakan untuk mengangkut dan memindahkan material balok batu dari tambang batu pualam atau Hatnub yang digunakan untuk membangun piramida. Pola itu berupa sebuah jalanan agak miring yang diapit oleh beberapa lubang tiang kecil.
"Dengan menggunakan semacam kereta luncur, orang Mesir kuno bisa membawa balok batu dari tambang di lereng yang curam dengan mengikatnya dengan tali pada tiang kayu,” ujar Yannis Gourdon, salah satu arkeolog yang terlibat.
Tiang kayu itu berada sejajar dengan tangga yang mengapit landasan miring tersebut. Sementara tali yang diikatkan pada tiang dapat membantu para pekerja untuk menarik balok pualam.
"Sistem semacam ini tidak pernah ditemukan di tempat lain," lanjut Gourdon.
Gourdon menambahkan, jika sistem ini digunakan pada masa pemerintahan Khufu. Yang berarti pada saat itu orang Mesir kuno tahu bagaimana caranya memindahkan balok batu besar dari lereng yang sangat curam, yang bisa digunakan untuk membangun Piramida.
Selain itu, sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Amerika dan Prancis, Profesor Gilles Hug dan Profesor Barsoum menegaskan bahwa Piramida terbesar, Giza, terbuat dari dua jenis batu, yaitu batu alam dan batu-batu yang dibuat secara manual.
Menurutnya, model pembuatan batu tersebut dengan dibakar di bawah kayu, lalu kayu tersebut dipanaskan sehingga membentuk batu keras yang hampir normal. Ilmuwan ini juga menyebutkan, sebenarnya Firaun sangat mahir dalam ilmu kimia dan mengelola tanah liat.
Dalam penelitian yang dipublikasikan majalah Journal of American Ceramic Society disebutkan, Firaun menggunakan jenis tanah slurry untuk membangun monumen yang tinggi secara umum. Demikian juga untuk pembangunan Piramida dengan bahan yang sama. Batu-batu besar yang tersusun membentuk Piramida dibuat dengan cara dibakar.
Menurut para ilmuwan, tidak mungkin mengangkat batu yang beratnya ribuan kilogram tersebut. Inilah yang membuat Firaun menggunakan batu alam untuk membangun dasar. Batu lumpur tersebut dibakar, kemudian disusun membentuk Piramida.
Model pembakaran batu lumpur tersebut dicampur dengan lumpur kapur di tungku perapian yang dipanaskan dengan uap air garam. Setelah itu, uap air ini ikut membentuk campuran tanah liat. Tahapan selanjutnya dengan membuat cetakan di atas kayu dan dituangkan dalam tempat yang disediakan di dinding piramida.
Selain itu, profesor asal Prancis Joseph Davidovits, juga melakukan eksperimen selama 20 tahun. Ia menemukan Piramida dibangun dari lumpur, terutama di bagian puncak di mana sulit untuk menaikkan batu alam.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona).
