Kumparan Logo

Foto: Merawat Tradisi Tani Kampung Naga, Desa Neglasari, Tasikmalaya

kumparanTRAVELverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

Kampung Naga merupakan dataran tinggi nan subur yang terletak di ketinggian 1200 mdpl, di pinggiran Sungai Ciwulan. Secara administratif, Kampung Naga berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salwu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Masyarakat Kampung Naga masih memegang tradisi nenek moyang mereka. Salah satunya adalah tradisi panen padi.

Tradisi panen raya yang masyarakat Kampung Naga lakukan adalah melakukan ritus ngukusan atau pembacaan doa sebelum memanen padi. Sebelum melakukan upacara pembukaan, para petani terlebih dahulu meletakkan empat dedaunan di beberapa titik sawah yang siap panen.

Empat daun tersebut yakni daun pucuk kawung, daun darandan, daun pacing, gadog, dan seeur. Daun - daun itu diletakkan di beberapa titik seperti di setiap pojok sawah, atau di area tengah.

Suasana Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
Dua warga adat kesepuhan Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
zoom-in-whitePerbesar
Dua warga adat kesepuhan Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
Warga memotong kayu bakar untuk persedian bahan bakar memasak di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
zoom-in-whitePerbesar
Warga memotong kayu bakar untuk persedian bahan bakar memasak di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

Kemudian, padi yang sudah dipanen tidak langsung ditumbuk. Padi tersebut kemudian dikumpulkan di ruang terbuka, kemudian para petani melakukan upacara ngaleseuhan yakni upacara pembacaan doa.

Pembacaan doa dipimpin oleh petani laki-laki, sementara para perempuan menunggu di samping sawah, namun tetap mengikuti proses pembacaan doa. Upacara pembacaan doa itu sebagai wujud ucapan syukur kepada sang pencipta sebelum hasil padinya itu dinikmati oleh masyarakat.

Warga menanam benih padi di lahan Kampung Naga, Kabupetan Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
zoom-in-whitePerbesar
Warga menanam benih padi di lahan Kampung Naga, Kabupetan Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
Sejumlah warga memanen padi di Kampung Naga, Kabupetan Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah warga memanen padi di Kampung Naga, Kabupetan Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
Warga merontokan padi saat panen raya di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
zoom-in-whitePerbesar
Warga merontokan padi saat panen raya di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
Batu yang dipakai warga untuk merontokan padi saat panen raya di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
zoom-in-whitePerbesar
Batu yang dipakai warga untuk merontokan padi saat panen raya di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
Warga memanen padi di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
zoom-in-whitePerbesar
Warga memanen padi di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

Ketua Kepemanduan Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Ucu Suherlan, mengungkapkan, masyarakat melakukan panen raya dua kali dalam setahun.

Biasanya, waktu tanam padi menggunakan sistem Januari-Juli. Terdapat sekitar lima hektare area persawahan di Naga. Rata-rata produksi padi mencapai lima kilogram per bata (14 meter). Sementara, per kepala keluarga biasanya memiliki 30 bata.

Warga menjemur padi hasil panen raya di halaman rumahnya di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
zoom-in-whitePerbesar
Warga menjemur padi hasil panen raya di halaman rumahnya di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
Seekor ayam yang sedang bertelur di salah satu rumah di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
zoom-in-whitePerbesar
Seekor ayam yang sedang bertelur di salah satu rumah di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
Warga memotong kayu bakar untuk persedian bahan bakar memasak di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
zoom-in-whitePerbesar
Warga memotong kayu bakar untuk persedian bahan bakar memasak di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)