Foto: Merawat Tradisi Tani Kampung Naga, Desa Neglasari, Tasikmalaya

Kampung Naga merupakan dataran tinggi nan subur yang terletak di ketinggian 1200 mdpl, di pinggiran Sungai Ciwulan. Secara administratif, Kampung Naga berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salwu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
Masyarakat Kampung Naga masih memegang tradisi nenek moyang mereka. Salah satunya adalah tradisi panen padi.
Tradisi panen raya yang masyarakat Kampung Naga lakukan adalah melakukan ritus ngukusan atau pembacaan doa sebelum memanen padi. Sebelum melakukan upacara pembukaan, para petani terlebih dahulu meletakkan empat dedaunan di beberapa titik sawah yang siap panen.
Empat daun tersebut yakni daun pucuk kawung, daun darandan, daun pacing, gadog, dan seeur. Daun - daun itu diletakkan di beberapa titik seperti di setiap pojok sawah, atau di area tengah.



Kemudian, padi yang sudah dipanen tidak langsung ditumbuk. Padi tersebut kemudian dikumpulkan di ruang terbuka, kemudian para petani melakukan upacara ngaleseuhan yakni upacara pembacaan doa.
Pembacaan doa dipimpin oleh petani laki-laki, sementara para perempuan menunggu di samping sawah, namun tetap mengikuti proses pembacaan doa. Upacara pembacaan doa itu sebagai wujud ucapan syukur kepada sang pencipta sebelum hasil padinya itu dinikmati oleh masyarakat.





Ketua Kepemanduan Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Ucu Suherlan, mengungkapkan, masyarakat melakukan panen raya dua kali dalam setahun.
Biasanya, waktu tanam padi menggunakan sistem Januari-Juli. Terdapat sekitar lima hektare area persawahan di Naga. Rata-rata produksi padi mencapai lima kilogram per bata (14 meter). Sementara, per kepala keluarga biasanya memiliki 30 bata.



