Indonesia Penyumbang Sampah Plastik Ketiga di Dunia, Ini Respons Sandiaga
ยทwaktu baca 2 menit

Sebuah studi yang dirilis peneliti Universitas Leeds mengungkap daftar negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia. Dalam penelitian dengan bantuan pemodelan teknologi kecerdasan buatan (AI) ini terungkap ada 10 negara yang bertanggung jawab atas sampah plastik terbesar setiap tahunnya.
Dilansir Metro, India menjadi negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia, dengan total sampah mencapai 9,3 juta ton per tahun. Sementara itu, Nigeria berada di posisi kedua dengan total sampah 3,5 juta ton. Menariknya, Indonesia berada di peringkat ketiga sebagai negara penyumbang sampah plastik dengan total 3,4 juta ton.
Para peneliti memperkirakan bahwa sekitar 52,1 juta ton sampah menjadi polusi setiap tahunnya. Sebagian besar atau 57 persen sampah plastik tersebut dibakar, baik di pekarangan rumah, jalan, atau di tempat pembuangan sampah sementara.
Berikut daftar negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia menurut studi Universitas Leeds:
India: 9,275,777 ton
Nigeria: 3,532,479 ton
Indonesia: 3,352,229 ton
China: 2,808,179 ton
Pakistan: 2,567,461 ton
Bangladesh: 1,748,215 ton
Russia: 1,702,453 ton
Brasil: 1,444,824 ton
Thailand: 995,718 ton
Republik Demokratik Kongo: 963,328 ton
Tanggapan Menparekraf Sandiaga Uno
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno, mengatakan bahwa secara global industri pariwisata menyumbang sekitar 8 persen dari emisi karbon, termasuk sampah plastik. Sandiaga pun menanggapi hal ini dengan serius, dan mengajak seluruh stakeholder terkait untuk mengembangkan pariwisata yang berkualitas.
"Kami menyikapi ini dalam situasi yang sangat serius. Kini, program Kemenparekraf diarahkan ke pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan, termasuk (penanganan) sampah plastik," ujar Sandiaga, dalam Weekly Brief with Sandi Uno yang digelar di Gedung Sapta Pesona, Senin (9/9).
Sandiaga mengatakan penanganan sampah plastik harus dilakukan dengan baik, khususnya dalam penyelenggaraan event-event besar. Hal ini perlu dilakukan, agar setiap penyelenggaraan event tidak meninggalkan banyak sampah.
"Jadi sampah plastik ini harus betul-betul ditangani dengan baik, seperti konser dan sebentar lagi akan saksikan Synchronize Fest sudah memberikan komitmen semua sampah akan dikelola, sehingga tidak membebani tempat pembuangan akhir di Bantar Gebang," kata Sandiaga.
Tak hanya itu, wisatawan juga bisa berkomitmen untuk menerapkan wisata yang berkelanjutan, atau pariwisata hijau untuk mengurangi sampah plastik. Langkah-langkah tersebut bisa dilakukan dari cara yang sederhana, mulai dari menggunakan tumbler sebagai pengganti air minum kemasan, memakai produk yang ramah lingkungan ataupun daur ulang, serta mengurangi jejak karbon.
"Jadi, kalau semuanya bisa berkomitmen untuk menangani sampah di fasilitas pariwisata dan ekonomi kreatifnya, maka kita akan mampu mereduksi secara signifikan sampah plastik yang akhirnya menjadi beban permasalahan ini," pungkas Sandiaga.
