Kumparan Logo

Ini Alasan Kereta Api Jadi Transportasi Paling Ramah Lingkungan, Sudah Tahu?

kumparanTRAVELverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
com-Ilustrasi kereta api Foto: Dok. Kementerian Pariwisata
zoom-in-whitePerbesar
com-Ilustrasi kereta api Foto: Dok. Kementerian Pariwisata

Kereta api menjadi salah satu transportasi andalan traveler untuk bepergian. Selain bebas macet dan bisa menjangkau tempat yang jauh, tiketnya yang terjangkau menjadi alasan kenapa banyak traveler yang memilih 'ular besi' tersebut.

Namun, tak sampai itu, sebagai transportasi massal, nyatanya kereta api menjadi salah satu transportasi yang ramah lingkungan. Jika dibandingkan transportasi lain, seperti pesawat ataupun mobil, kereta api memiliki emisi (gas buang) yang lebih rendah.

Ilustrasi kereta api. Foto: dok. KAI

Berdasarkan keterangan resmi yang diterima kumparan dari PT Kereta Api Indonesia (KAI), keunggulan kereta api yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di antaranya efisiensi pada penggunaan ruang dan energi.

Hal itu pun diungkapkan langsung oleh VP Pubic Relations KAI Joni Martinus. Joni mengatakan efisiensi kereta api dapat dilihat dari kapasitas angkut yang besar.

Dalam sekali jalan, 1 rangkaian Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) terdiri dari 8 hingga 14 gerbong dengan kapasitas hingga 1.120 tempat duduk.

Kereta api (KA) Cikuray rute Garut - Pasar Senen. Foto: KAI

Sementara itu, jika dibandingkan dengan kendaraan lainnya, seperti mobil pribadi ataupun motor, kereta api memiliki daya angkut yang tiada duanya.

Sebagai contoh, mobil yang bisa membawa 7 orang atau motor dengan kapasitas 2 orang, maka 1 perjalanan kereta api dapat menggantikan 160 mobil atau 560 motor.

Dengan begitu, kereta api dapat memberikan banyak manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh pelanggan, berupa layanan yang aman, nyaman, dan tepat waktu. Selain itu, ada pula manfaat tidak langsung yang bisa dirasakan, yaitu peningkatan kualitas udara dan berkurangnya beban jalan raya.

“Angkutan kereta api baik untuk perjalanan jarak jauh ataupun commuter hendaknya dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh masyarakat. Dengan beralihnya pengguna kendaraan pribadi ke kereta api, maka akan dapat mengurangi angka kecelakaan, kemacetan, emisi gas buang kendaraan, serta mengefisienkan waktu dan tenaga,” kata Joni.

Kereta Api Jadi Transportasi Ramah Lingkungan

Kereta api (KA) Cikuray rute Garut - Pasar Senen. Foto: KAI

Selain daya angkut yang besar, kereta api nyatanya menjadi transportasi paling ramah lingkungan. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menilai bahwa emisi yang dihasilkan kereta api jauh lebih kecil, jika dibandingkan dengan mobil atau pesawat.

Dalam 200 mil atau 321 kilometer (km) perjalanan misalnya, emisi yang dihasilkan mobil atau pesawat 5 kali lipat, jika dibandingkan dengan kereta api.

Ilustrasi penumpang kereta api. Foto: Dok. Humas KAI

Sementara itu, berdasarkan penelitian dari Departemen Bisnis, Energi, dan Strategi Industri Inggris via Our World in Data, emisi setara CO2 per penumpang per km pada kereta adalah 41 gram, sepeda motor 103 gram, dan mobil 192 gram.

Sehingga perjalanan kereta dengan 1.120 penumpang hanya menghasilkan 45.920 gram CO2 per km, jauh lebih rendah dibanding motor sebanyak 115.360 gram CO2, dan mobil sebanyak 215.040 gram CO2.

Sebuah kereta rel listrik (KRL) Commuterline memasuki Stasiun KA Bogor di Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (19/10/2020). Foto: ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA FOTO

KAI juga memiliki layanan kereta ramah lingkungan dengan menggunakan sumber energi listrik yang bebas emisi, yakni KRL Jabodetabek, KRL Yogyakarta-Solo, KA Bandara Soekarno-Hatta, serta LRT Sumatera Selatan. Ke depan juga akan hadir kereta berenergi listrik pada LRT Jabodebek dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Untuk perjalanan kereta commuter, 1 rangkaian KRL terdiri dari 8 hingga 12 kereta dengan kapasitas maksimal 3.000 pelanggan sebelum pandemi. Jumlah 1 rangkaian KRL ini mampu menggantikan penggunaan 428 mobil pribadi dan 1.500 motor.

Kenaikan BBM Dongkrak Perjalanan Kereta Api

Ilustrasi penumpang kereta api di stasiun. Foto: dok. KAI

Tak hanya itu, Joni menilai kenaikan BBM bersubsidi yang ditetapkan pemerintah sejak Sabtu (3/9) lalu, turut berdampak pada peningkatan volume pelanggan Kereta Api Jarak Jauh.

Pada periode 4-10 September 2022, KAI melayani sebanyak 593.471 pelanggan atau rata-rata 84.782 pelanggan per hari. Jumlah ini naik 3 persen dibanding pekan sebelumnya, yaitu 28 Agustus hingga 3 September 2022, sebanyak 573.176 pelanggan atau rata-rata 81.882 pelanggan per hari.

KAI juga melihat adanya peningkatan masyarakat yang menggunakan kereta api dalam beberapa pekan terakhir. Hal itu sesuai harapan pemerintah yang mendorong masyarakat untuk beralih ke transportasi umum.

“Kereta api memiliki peran yang besar dalam melestarikan lingkungan dan menyediakan mobilitas bagi masyarakat. KAI bersama-sama seluruh stakeholder akan terus mengembangkan layanan kereta api, agar kereta api semakin maju dan dapat memberikan nilai lebih secara berkelanjutan,” pungkas Joni.