Kumparan Logo

Itinerary 3 Hari 2 Malam di Yogyakarta-Magelang, Bisa Ngapain Aja?

kumparanTRAVELverified-green

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
VW Safari Borobudur. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
VW Safari Borobudur. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Meski sudah dikunjungi berkali-kali, Yogyakarta selalu memberikan kesan tersendiri bagi wisatawan. Ya, enggak hanya budayanya yang otentik, kuliner hingga tempat wisatanya selalu punya daya tarik.

Hal ini pula yang kumparan rasakan saat berkunjung ke Yogyakarta beberapa waktu lalu. Dalam undangan media trip bersama Traveloka pada 11-13 Agustus, kumparan diajak menikmati keindahan Kota Gudeg. Namun, enggak hanya itu, kami juga diajak mengunjungi Magelang yang sama-sama nggak kalah indahnya.

Mulai dari mengunjungi tempat wisata yang erat dengan sejarah hingga menginap di hotel yang punya view menakjubkan. Berikut kumparan rangkum itinerary 3 hari 2 malam di Yogyakarta-Magelang yang menarik dikunjungi.

Hari Pertama

Mengunjungi Taman Sari

Taman Sari, Yogyakarta. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Buat kamu yang pertama kali liburan ke Yogyakarta, rasanya wajib banget berkunjung ke Taman Sari saat pertama kali tiba di kota ini. Erat kaitannya dengan Keraton Yogyakarta, di sini kamu bakal disuguhkan dengan bangunan bersejarah yang dulunya digunakan sebagai taman kerajaan.

Taman Sari memiliki kolam pemandian (Umbul Binangun), kompleks pemandian dengan bangunan-bangunan bersejarah, Gapura Panggung, Gedong Sekawan, dan Sumur Gumuling (masjid bawah tanah). Selain itu, Taman Sari juga memiliki nilai sejarah yang tinggi sebagai tempat rekreasi dan peristirahatan bagi Sultan dan keluarganya, serta memiliki arsitektur unik dengan perpaduan berbagai corak.

Taman Sari kini menjadi salah satu spot wisata heritage yang paling ikonik di Yogyakarta. Tempat wisata ini terletak di Patehan, Kraton, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Museum Benteng Vredeburg

Museum Vredeburg di Yogyakarta. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Kamu bisa menambah wawasan sejarahmu dengan mengunjungi Museum Benteng Vredeburg. Bangunan ini telah berdiri sejak abad ke-18 tepatnya pada tahun 1760. Sejak berdirinya benteng ini, Vredeburg beberapa kali beralih fungsi.

Sebelum menjadi museum, Benteng Vredeburg merupakan sebuah Benteng pertahanan untuk melindungi Keraton dan markas militer Belanda.

Benteng ini dulunya bernama Rustenburg yang artinya benteng peristirahatan, namun karena mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi pada tahun 1867 akhirnya Belanda merenovasi dan mengubah namanya menjadi Benteng Vredeburg atau Benteng Perdamaian. Pada tahun 1985, Bangunan Benteng ini dijadikan museum serta dibuka untuk umum.

Koleksi Museum Vredeburg di Yogyakarta. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Saat ini Museum Benteng Vredeburg menyimpan benda-benda koleksi bersejarah yang tersimpan di empat bangunan yaitu Diorama 1, Diorama 2, Diorama 3, hingga Diorama 4.

Diorama 1 menggambarkan peristiwa sejak periode Pangeran Diponegoro sampai masa pendudukan Jepang di Yogyakarta. Sementara itu, Diorama 2 menggambarkan peristiwa sejarah Proklamasi Kemerdekaan sampai dengan Agresi Militer Belanda di Indonesia. Diorama 3 menggambarkan peristiwa sejak adanya Perjanjian Renville sampai pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat. Lalu, Diorama 4 menggambarkan peristiwa sejarah pada saat periode Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai pada Masa Orde Baru.

Plataran Heritage Borobudur Hotel

Suasana kamar di Plataran Heritage Borobudur Hotel. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Di hari pertama, kamu bisa mengakhiri perjalanan dengan bepergian menuju Magelang dan menginap di Plataran Heritage Borobudur Hotel.

Terletak di kawasan strategis dan selangkah dari Candi Borobudur yang ikonik, Plataran Heritage Borobudur menawarkan akomodasi dengan perpaduan sempurna antara desain kontemporer dan warisan budaya.

Sunrise breakfast di Plataran Heritage Borobudur Hotel. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Dikelilingi keindahan pemandangan pegunungan yang asri dan atmosfer khas pedesaan Jawa Tengah, hotel bintang lima ini menjadi destinasi pilihan yang tepat untuk liburan berkesan.

Oh iya, selama menginap kamu juga bisa menikmati makanan otentik di Tiga Dari Restaurant yang menghadap langsung ke Candi Borobudur. Puas menikmati sajian kuliner yang khas kamu bisa beristirahat di kamar yang nyaman sebelum melanjutkan aktivitas di hari berikutnya.

Hotel ini terletak di Dusun Kretek, Karangrejo, Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Hari Kedua

Berkeliling Sambil Naik VW Safari Borobudur

VW Safari Borobudur. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Di hari kedua kamu bisa memulai perjalananmu menikmati indahnya Magelang dan juga kawasan Candi Borobudur dengan berkeliling naik VW Safari Borobudur.

Kamu bisa menikmati pengalaman unik menjelajahi Candi Borobudur dan sekitarnya dengan mobil klasik Volkswagen Safari beratap terbuka.

Belajar membuat rengginang di Rengginang Bu Yatin. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Wisatawan diajak menjelajahi rute-rute tersembunyi di kawasan sekitar Candi Borobudur dengan lanskap pedesaan Jawa Tengah yang asri dan autentik, serta berinteraksi langsung dengan pengrajin lokal.

Mulai dari belajar membatik hingga membuat rengginang, semuanya bisa kamu lakukan di sela-sela tur. Oh iya, terdapat beberapa pilihan rute sehingga experience yang ditawarkan pun berbeda-beda.

Enam Langit By Plataran

Enam Langit by Plataran. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Puas berkeliling kawasan Candi Borobudur, kamu bisa pergi makan siang di restoran yang unik. Salah satunya adalah Enam Langit by Plataran, restoran yang berada di ketinggian.

Berada di kawasan Bukit Menoreh, Enam Langit by Plataran menyuguhkan pemandangan gunung dan bukit di atas awan. Restoran ini menawarkan kuliner Yogyakarta yang khas hingga menu internasional.

Candi Borobudur

Candi Borobudur. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Setelah mengisi tenaga, kamu bisa melanjutkan perjalanan menunju destinasi berikutnya yakni Candi Borobudur.

Salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO serta destinasi spiritual berbasis budaya di Indonesia ini dibangun pada abad ke-8 oleh Dinasti Syailendra. Candi megah ini bukan hanya simbol kejayaan masa lalu, tetapi juga pusat spiritual dan budaya yang terus hidup hingga kini. Setiap tingkat pada struktur Candi Borobudur, ribuan panel relief dan ratusan arca Buddha, memiliki makna tersendiri dan menghadirkan pengalaman yang sarat makna bagi pengunjung di seluruh dunia.

Untuk mengetahui sejarah Candi Borobudur, kamu juga bisa mengunjungi Museum dan Kampung Seni Borobudur. Museum dan Kampung Seni Borobudur menawarkan berbagai atraksi menarik. Di dalamnya terdapat galeri seni, amfiteater, museum, pendopo, serta pusat produk UMKM dan kerajinan khas Borobudur. Selain itu, terdapat juga area kuliner dan oleh-oleh. Museum ini berlokasi di sebelah barat Candi Borobudur.

Royal Ambarrukmo Hotel

Suasana kamar di Royal Ambarrukmo Hotel. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Dari Borobudur, kamu bisa kembali lagi ke Yogyakarta dan menginap di Royal Ambarrukmo Hotel, salah satu hotel legendaris di Yogyakarta. Alasan kenapa kita harus kembali ke Yogyakarta adalah aksesnya yang lebih dekat dengan Yogyakarta International Airport.

Terletak di jantung kota Yogyakarta, Royal Ambarrukmo Yogyakarta memadukan kemegahan warisan budaya Jawa dengan fasilitas modern berstandar internasional. Dikelilingi oleh situs-situs bersejarah termasuk Keraton Yogyakarta dan berlokasi tidak jauh dari kawasan Candi Prambanan, hotel bintang lima ini menjadi pilihan utama bagi wisatawan.

Royal Ambarrukmo Yogyakarta memiliki 247 kamar dengan fasilitas yang lengkap. Adapun fasilitas yang tersedia di hotel ini mulai dari kolam renang outdoor, pusat kebugaran, Nurkadatyan Spa dengan terapi tradisional, serta SamaZana Restaurant yang menyajikan ragam kuliner lokal dan internasional.

Menonton Pertunjukkan Ramayana Ballet Prambanan

Menyaksikan pertunjukkan Ramayana Ballet Prambanan. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Di malam harinya kamu bisa menonton pertunjukkan Ramayana Ballet Prambanan yang mengisahkan kisah Ramayana dan Shinta.

Sendratari Ramayana di Prambanan menceritakan kisah epos Ramayana melalui tari dan drama tanpa dialog, dengan latar belakang Candi Prambanan.

Kisahnya menceritakan tentang perjuangan Rama untuk menyelamatkan istrinya, Sinta, yang diculik oleh Rahwana, raja Alengka. Pertunjukan ini menggabungkan seni tari, musik gamelan, dan kostum yang indah, serta disesuaikan dengan budaya Jawa.

Hari Ketiga

Mengunjungi Keraton Yogyakarta (Museum Kedhaton)

Koleksi pameran temporer 'Hamong Nagari' di Keraton Yogyakarta. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Di hari terakhir, kamu bisa berkunjung ke Keraton Yogyakarta yang menjadi saksi sejarah terbentuknya Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan keberlanjutan tradisi kesultanan. Keraton ini juga menjadi pusat kebudayaan yang melestarikan tradisi Jawa dan menarik wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Dibangun pada tahun 1755 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, kompleks istana ini merepresentasikan filosofi tata ruang Jawa dan menjadi warisan hidup dari Kerajaan Mataram Islam yang masih lestari hingga kini.

Keraton Yogyakarta menawarkan pengalaman mendalam bagi wisatawan yang ingin menyelami budaya Jawa secara autentik. Dari arsitektur klasik yang megah, prosesi adat yang masih rutin digelar, hingga koleksi pusaka dan pertunjukan seni tradisional, setiap sudut Keraton menghadirkan cerita yang kaya makna.

Belanja Oleh-oleh

Tempat beli oleh-oleh di Candi Borobudur. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Sebelum ke bandara dan pulang ke tempat tujuan, kamu bisa membeli oleh-oleh untuk keluarga ataupun sahabat dan kerabat. Salah satu oleh-oleh khas Yogyakarta yang selalu laris manis dicari pembeli adalah bakpia.

Salah satu produsen bakpia terkenal di Jogja adalah Bakpia Pathok 25. Di sini, kamu akan menemukan berbagai varian bakpia dengan beragam rasa, mulai dari keju, cokelat, hingga kacang hijau.

Brand bakpia satu ini menawarkan dua jenis bakpia, yaitu bakpia biasa yang dibanderol dengan harga Rp 35.000 per kotak dan bakpia premium yang dijual dengan harga Rp 55.000 per kotak.

Hal utama yang membedakan keduanya adalah kuantitas dan ukuran bakpianya. Bakpia biasa ukurannya cenderung standar dan dalam satu kotak, hanya ada sepuluh buah bakpia.

Sementara itu, bakpia premium mempunyai ukuran yang lebih besar dari bakpia biasa dan jumlahnya juga lima buah lebih banyak.

Enggak hanya itu ada juga oleh-oleh khas Yogyakarta lainnya seperti wingko, brem seruling, lanting, keripik paru, makaroni, wajik, dan sebagainya.

Agar wisatamu semakin mudah dan seamless, kamu bisa menggunakan aplikasi Traveloka untuk melakukan pemesanan tiket atraksi wisata, pemesanan hotel, dan lain sebagainya.

Kamu juga bisa menikmati berbagai promo menarik untuk mengeksplorasi budaya, kuliner lokal hingga destinasi wisata Nusantara lainnya.