Kamomose, Tradisi Unik Cari Jodoh di Buton Tengah dengan Melempar Kacang

30 Januari 2022 7:30 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tradisi mensucikan putri-putri masyarakat Buton di Takawa, Indonesia. Foto: sahlan/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Tradisi mensucikan putri-putri masyarakat Buton di Takawa, Indonesia. Foto: sahlan/Shutterstock
ADVERTISEMENT
Mencari jodoh di era modern seperti sekarang bisa dibilang sebagai hal yang 'gampang-gampang, sulit'. Gampang karena ada sederet aplikasi online yang bisa kamu gunakan untuk mencari jodoh, tapi bisa dibilang sulit karena kamu harus mencari seseorang yang tepat di hatimu.
ADVERTISEMENT
Sebelum adanya aplikasi pencari jodoh seperti sekarang, Indonesia juga memiliki sederet tradisi unik untuk mencari jodoh, lho. Salah satunya tradisi unik yang dilakukan masyarakat Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara. Tradisi tersebut bernama Kamomose, yang menjadi ajang para muda-mudi Buton Tengah untuk mencari tambatan hatinya.
Seorang pengantin wanita mengenakan pakaian adat buton dan memperlihatkan henna di tangannya. Foto: JR Abd/Shutterstock
Kamomose berasal dari kata “Komomo” yang berarti bunga yang hampir mekar, dan kata “Poose-ose” yang artinya berjejer secara teratur. Sehingga Kamomose diartikan sebuah tradisi di mana para gadis yang menginjak usia remaja duduk berjajar, untuk kemudian dikenalkan kepada para pemuda.

Tradisi Unik Cari Jodoh dengan Melempar Kacang

Ada yang unik dalam ajang pencarian jodoh ini. Jika biasanya pencarian jodoh diawali dengan sebuah perkenalan, kemudian dari perkenalan itu dilanjutkan ke jenjang yang serius, di Kamomose justru akan ada ratusan gadis muda yang bisa dipilih sebagai calon istri.
ADVERTISEMENT
Para gadis ini akan berderet hingga seratus meter menggunakan pakaian adat. Mereka akan membawa sebuah loyang atau baskom besar yang berisi lilin yang diletakkan di hadapan mereka.
Jika pemuda tertarik dengan seorang gadis, ia akan melemparkan kacang tepat mengenai lilin yang telah tertancap di dalam loyang tersebut.
Lalu, yang jadi pertanyaan, kenapa tradisi Kamomose menggunakan kacang?
Menurut tokoh adat setempat, kacang hanyalah sebagai pengganti, karena pada zaman dahulu bukan kacang yang dilemparkan saat tradisi Kamomose, melainkan koin atau mata uang belanda. Kini, biasanya pemuda juga dapat melemparkan uang, minuman dingin, atau benda berharga lainnya.

Pertanda Mereka yang Berjodoh

Warga percaya bahwa pemuda yang berhasil memadamkan lilin tersebut adalah jodohnya. Kemudian, gadis tersebut akan membuat rundingan dengan orang tuanya, jika mereka setuju, maka akan dilanjutkan ke tahap yang lebih serius.
ADVERTISEMENT
Meski terlihat gampang, ternyata tak sedikit para pemuda yang gagal untuk mendapatkan tambatan hatinya. Bagi mereka yang gagal, biasanya akan mengikuti tradisi ini di tahun berikutnya.
Tradisi Kamomose merupakan warisan leluhur yang sudah dilaksanakan setiap tahun. Biasanya tradisi ini dimulai di hari kedua Idul Fitri dan berakhir pada hari ketujuh.
Lokasi pelaksanaannya pun ditempatkan di tanah lapang atau halaman rumah warga yang memiliki sebuah hajat. Setelah tercapai hajatnya, ia akan melaksanakan tradisi Kamomose tersebut.
Sayangnya, tradisi ini sempat terhenti karena adanya pandemi COVID-19. Meski begitu, Kamomose menjadi salah satu tradisi unik yang wajib diikuti para pejuang cinta.
***
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)