kumparan
Food & Travel11 Januari 2018 10:19

Keunikan Rumah dan Tradisi Suku Sasak di Desa Sade, Lombok Tengah

Konten Redaksi kumparan
Menenun, salah satu kewajiban wanita Suku Sasak
Menenun, salah satu kewajiban wanita Suku Sasak (Foto: Instagram @danielesaputra)
Lombok tak hanya kaya akan potensi wisatanya saja namun juga memiliki potensi wisata budaya yang sayang jika dilewatkan. Jika ingin menikmati wisata budaya di Lombok kamu harus berkunjung ke Desa Sade.
ADVERTISEMENT
Adalah desa tempat bermukimnya Suku Sasak yang merupakan suku asli masyarakat Lombok. Kabarnya kebudayaan suku ini juga tercatat dalam Kitab Negara Kertagama karangan Mpu Nala dari Kerajaan Majapahit.
Letaknya berada di daerah Rambitan yang juga tak jauh dari pusat kota. Tepatnya bisa kamu temukan di Kecamatan Puju, Kabupaten Lombok Tengah. Hanya butuh waktu 15 hingga 20 menit dari Bandara Internasional Lombok.
Warga Sasak tak menutup diri kepada wisatawan. Justru mereka dengan terbuka menjadikan tempat bernaungnya untuk objek wisata. Siapa pun boleh datang, siapapun boleh berkunjung ke Desa Sade.
Tiba di sana, kamu akan disambut dengan tulisan "Selamat Datang di Desa Sade" yang berhiaskan ijuk khas atap rumah tradisional suku Sasak.
ADVERTISEMENT
Suku Sasak memiliki magnet yang kuat untuk menarik pengunjung untuk datang. Salah satunya adalah bangunan rumah yang masih menjaga keaslian adat istiadat.
Bagian atap terbuat dari ijuk jerami atau rumbia. Untuk dinding atau bilik semuanya dari bambu. Sedangkan lantainya dibuat dari campuran getah pohon, abu jerami dan tanah liat.
Desa ini berada di perbukitan tanah liat, jarak antara bangunan sangat rapat, tersusun rapi ke atas. Masing-masing bangunan dihubungkan dengan jalan setapak.
Menurut penggunaanya, bangunan ini dibagi menjadi tiga tipe. Bale Bonter yaitu rumah milik pejabat desa, Bale Kodong untuk warga yang baru menikah atau untuk para orang tua yang ingin menghabiskan masa tunya. Dan Bale Tani, tempat tinggal bagi yang berkeluarga dan memiliki keturunan.
ADVERTISEMENT
Pintu masuk rumahnya juga unik. Dibuat serendah mungkin sebagai simbol penghormatan kepada pemilik rumah.
Bagian rumah juga terbagi menjadi dua yaitu rumah belakang yang letaknya lebih tinggi. Berfungsi untuk anak gadis sebagai kamar tidur, dapur dan tempat melahirkan. Ruang depan yang berfungsi untuk ruang tamu sekaligus kamar tidur.
Ruangan bagian depan bagian kanan untuk kamar tidur bapak dan ibu. Sedangkan bagian kiri untuk kamar tidur anak laki-laki, ruang tamu dan langit-langitnya terdapat rak untuk menyimpan pusaka dan benda berharga.
Di tengah rumah yang sempit terdapat tiga buah anak tangga untuk menghubungkan ruangan depan dan belakang. Anak tangga pertama menyimbolkan Tuhan, kedua adalah ibu dan yang terakhir adalah bapak.
ADVERTISEMENT
Yang menjadi keunikan lainnya adalah kebiasaan masyarakat untuk mengepel lantai dengan kotoran kerbau. Penggunaan kotoran kerbau ini berfungsi untuk membersihkan lantai dari debu dan membuat lantai terasa halus dan lebih kuat.
Mereka percaya kotoran kerbau ini dapat mengusir serangga sekaligus menangkal serangan magis untuk penghuni rumah. Tradisi ini dilakukan setiap sekali dalam seminggu atau pada waktu-waktu tertentu seperti sebelum dimulainya upacara adat.
Lantai rumah digosok dengan kotoran kerbau kemudian dicampur dengan air. Setelah kering disapu dan digosok dengan batu.
Namun, jangan salah sangka, biarpun menggunakan kotoran kerbau nyatanya tidak ada bekas bau kotoran kerbau yang tercium sama sekali.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan