Kumparan Logo

Kirab Mangayubagyo, Simbol Syukur dan Harmoni di Yogyakarta

kumparanTRAVELverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Momen Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menyerahkan kembali hasil bumi ke masyarakat melalui bupati wali kota di acara mangayubagya 80 taun yuswa dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, Kamis (2/4/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Momen Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menyerahkan kembali hasil bumi ke masyarakat melalui bupati wali kota di acara mangayubagya 80 taun yuswa dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, Kamis (2/4/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Sebanyak puluhan ribu warga, bersama lurah dan pamong kalurahan se-DIY menggelar kirab dan sowan massal ke Keraton. Mereka membawa aneka hasil bumi dari wilayah masing-masing sebagai bentuk penghormatan.

Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka perayaan Mangayubagyo Yuswa Dalem ke-80 Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Lantas, apa itu Kirab Mangayubagyo dan kenapa acara ini digelar?

Dikutip dari berbagai sumber, Kirab Mangayubagyo adalah sebuah tradisi budaya berupa arak-arakan atau prosesi kirab yang dilakukan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur, doa, dan harapan akan keselamatan serta kesejahteraan.

Peserta mengikuti Kirab memperingati HUT ke-80 Sri Sultan Hamengku Buwono X di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Kamis (2/4/2026). Foto: Andreas Fitri Atmoko/ANTARA FOTO

Kata “mangayubagyo” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti mendoakan kebahagiaan, keselamatan, dan keberkahan.

Dalam kirab tersebut, setiap kalurahan mengirim sekitar 20-30 perwakilan. Para peserta membawa aneka hasil bumi dan potensi unggulan dari wilayah masing-masing dikenal dengan istilah gelondong pengarem-arem sebagai bentuk simbolis penghormatan.

Hasil bumi yang dibawa sangat beragam, mulai dari singkong, pepaya, beras, kelapa, hingga ubi dan sayur-mayur. Rombongan juga membawa ternak seperti ayam, angsa, mentok, hingga burung.

Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama Permaisuri GKR Hemas melihat peserta yang membawa gunungan hasil bumi saat acara Kirab memperingati HUT ke-80 Sri Sultan HBX di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Kamis (2/4/2026). Foto: Andreas Fitri Atmoko/ANTARA FOTO

Dalam pelaksanaannya, Kirab Mangayubagyo umumnya menampilkan arak-arakan pusaka atau simbol budaya, peserta dengan busana adat Jawa, iringan musik tradisional seperti gamelan hingga doa atau ritual tertentu.

Kirab ini sering digelar dalam momen penting, seperti peringatan hari jadi daerah, acara adat atau keraton, penyambutan tamu penting, hingga perayaan budaya tertentu.

Secara makna, Kirab Mangayubagyo bukan sekadar prosesi seremonial, tetapi juga menjadi simbol pelestarian tradisi, penghormatan terhadap leluhur, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Bentuk Penghormatan Terhadap Sri Sultan HB X

Peserta berfoto di depan media informasi berupa ucapan selamat atas HUT ke-80 Sri Sultan Hamengku Buwono X saat mengikuti kirab di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Kamis (2/4/2026). Foto: Andreas Fitri Atmoko/ANTARA FOTO

Ketua Umum Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan DIY Nayantaka, Gandang Hardjanta, menyampaikan momentum ini menjadi bentuk penghormatan sekaligus ungkapan terima kasih masyarakat kepada Sri Sultan HB X.

“Sebagai gubernur sekaligus raja, bagaimana beliau menempatkan diri itu yang menjadi contoh bagi kami. Di usia ke-80 ini, kami ingin memberikan semangat serta penghargaan atas pengabdian beliau,” ujarnya, Senin (30/3) seperti dikutip dari Pandangan Jogja.

Ia menambahkan, kegiatan ini menjadi salah satu momen dengan keterlibatan luas dari kalurahan se-DIY.

Kirab kepala kerbau dan kepala kambing di tradisi Sedekah Laut, Desa Bendar, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah pada Minggu (29/3/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Dalam pelaksanaannya, peserta akan membawa hasil bumi atau potensi unggulan dari wilayah masing-masing sebagai bentuk simbolis. Gandang menegaskan tidak ada kewajiban dalam partisipasi tersebut.

“Tidak ada yang diwajibkan. Semua berdasarkan keikhlasan dan kemampuan masing-masing kalurahan. Apa yang dimiliki, itulah yang dibawa,” tegasnya.

Ia juga menegaskan bahwa hasil bumi yang dibawa tidak hanya menjadi simbol penghormatan, tetapi akan didistribusikan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan melalui pemerintah daerah.

“Bawa berdasarkan potensi masing-masing. Dekat pesisir bawa kelapa, ya monggo, yang penting jangan memberatkan,” katanya.