Kumparan Logo

Kisah Pria 'The Terminal' dari Iran: Meninggal Usai 18 Tahun Tinggal di Bandara

kumparanTRAVELverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mehran Karimi Nasseri, pria yang tinggal di Bandara Charles de Gaulle di Prancis Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Mehran Karimi Nasseri, pria yang tinggal di Bandara Charles de Gaulle di Prancis Foto: Shutter Stock

Mehran Karimi Nasseri, pria yang tinggal di bandara Prancis selama belasan tahun, mengembuskan napas terakhirnya pada Sabtu (12/11) waktu setempat. Pria tersebut meninggal dunia setelah "terjebak" di Bandara Charles de Gaulle, Prancis selama 18 tahun lamanya.

Ia mengembuskan napas terakhir di Terminal 2F setelah diduga mengalami serangan jantung. Polisi dan tim penyelamat sudah berusaha untuk menyelamatkan nyawanya, namun upaya tersebut tidak berhasil.

Pria yang juga dikenal sebagai Sir Alfred Mehran dinyatakan meninggal dunia di usia 77 tahun. Kisah hidup Mehran Karimi Nasseri tak hanya mengundang rasa takjub, tetapi juga simpati karena ia tak bisa kembali ke negaranya.

Terjebak di Bandara Usai Cari sang Ibu

Mehran Karimi Nasseri, pria yang tinggal di Bandara Charles de Gaulle di Prancis Foto: Shutter Stock

Pria kelahiran Khuzestan, Iran, tahun 1945 ini mulanya terbang dari kampung halamannya menuju Eropa untuk mencari ibunya. Ia melakukan perjalanannya tersebut pada tahun 1980-an, seperti dilansir Unilad.

Ia melakukan perjalanan ke beberapa negara di Eropa untuk mencari sang ibu. Ayahnya adalah orang Iran, sementara ibunya dari Inggris.

Hanya saja, pencariannya terhenti ketika ia tak bisa menunjukkan surat izin tinggal atau dokumen imigrasi yang diperlukan. Karena tak memiliki dokumen resmi, ia pun diusir dari negara-negara Eropa, seperti Inggris, Belanda, hingga Jerman.

Otoritas Iran juga tak bisa menerima Nasseri tanpa dokumen yang lengkap yang membuatnya terusir dari negaranya sendiri. Karena tak memiliki dokumen yang resmi, Nasseri pun diberi hak suaka untuk mencari perlindungan di Belgia.

Ilustrasi pria di bandara. Foto: TonyV3112/Shutterstock

UNHCR di Belgia memberinya hak sebagai pengungsi, tetapi dia mengatakan tasnya yang berisi sertifikat pengungsi dicuri di stasiun kereta Paris.

Polisi Prancis kemudian menangkapnya, tetapi tidak dapat mendeportasinya ke mana pun karena dia tidak memiliki dokumen resmi.

Nasseri berakhir di Bandara Charles de Gaulle pada Agustus 1988 dan mulai tinggal di sana. Sejak saat itu, ia pun tak bisa kembali ke negaranya dan terjebak di Prancis.

Bandara Jadi Rumah

Bandara Charles de Gaulle di Paris, Prancis Foto: Shutter Stock

Karena tak punya tempat tinggal, Nasseri akhirnya menjadikan Bandara Charles de Gaulle dianggap sebagai rumahnya sendiri. Nasseri menyulap salah satu ruang tunggu di bandara sebagai rumahnya.

Selama bertahun-tahun, ia hanya tidur di sebuah bangku plastik di ruang tunggu penumpang yang ia sulap menjadi tempat tinggal kecilnya.

Kesehariannya ia habiskan dengan membaca buku dan koran, ataupun menulis tentang hidupnya di buku catatan miliknya. Ia juga mengumpulkan barang-barang yang ia ditemukan di bandara.

Nasseri juga berteman dengan staf bandara, mandi di fasilitas staf, hingga mengamati penumpang yang lewat. Setelah viral, kisah Nasseri akhirnya mendapat simpati banyak orang, bahkan internasional.

Selain itu, Nasseri juga menjadi selebriti di antara penumpang. Karena banyak yang ingin melihat langsung kehidupannya dari dekat.

Kisah Hidupnya Pernah Diangkat ke Layar Lebar

Bandara Charles de Gaulle di Paris, Prancis Foto: Shutter Stock

Kisah hidup Nasseri nyatanya juga menyita perhatian media internasional.

Sutradara terkenal Stephen Spielberg juga mengangkat kisah terjebaknya Nasseri di bandara dalam film layar lebar yang berjudul The Terminal. Film yang dirilis pada tahun 2004 tersebut dibintangi oleh Tom Hanks dan Catherine Zeta-Jones. Selain itu, autobiografinya diterbitkan juga diterbitkan sebagai buku, The Terminal Man, pada tahun 2004.

Selama tinggal di bandara, Nasseri sebenarnya pernah diberikan status pengungsi dan hak tetap untuk tinggal di Prancis pada tahun 1999. Ia tinggal di bandara sampai tahun 2006, saat dirinya harus dibawa ke rumah sakit untuk dirawat karena sakit.

Begitu keluar dari bandara, Nasseri tinggal di tempat penampungan di Paris. Staf bandara Charles de Gaulle mengatakan bahwa pada minggu-minggu terakhir sebelum kematiannya, dia mulai tinggal di bandara lagi.

Selama tinggal di bandara, staf khawatir Nasseri tidak dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan di luar. Hanya saja, takdir berkata lain, ia akhirnya meninggal terkena serangan jantung saat berada di Terminal 2F. Bandara tersebut akhirnya jadi rumah terakhir dari kisah hidup Nasseri.