Kumparan Logo

Korsel Tawarkan Insentif hingga Rp 470 Juta Bagi Pasangan yang Pacaran-Menikah

kumparanTRAVELverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pernikahan di Korea. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pernikahan di Korea. Foto: Shutterstock

Pemerintah Korea Selatan (Korsel) punya cara unik untuk mendorong para generasi muda, agar lebih berani menjalin hubungan yang serius dan berujung pada pernikahan. Program ini hadir sebagai respons terhadap tingkat kelahiran yang terus menurun, dan angka pernikahan yang semakin rendah di Korea.

Dilansir South China Morning Post, tidak hanya memberi subsidi kelahiran, sejumlah pemerintah daerah kini menawarkan insentif pernikahan bernilai fantastis, bahkan mencapai 29.000 dolar AS atau sekitar Rp 470 juta, lengkap dengan dukungan biaya kencan, pertunangan, hingga bulan madu.

“Ini adalah salah satu komponen kebijakan kependudukan kami untuk mengatasi krisis angka kelahiran rendah dan penurunan regional,” kata seorang pejabat distrik.

Ilustrasi pernikahan di Korea. Foto: Shutterstock

Sebagai contoh, di Distrik Saha, Busan, pasangan yang menikah setelah mengikuti acara pencarian jodoh akan menerima hingga 20 juta won (Rp 240 juta). Paket ini mencakup 500 ribu won (Rp 5,9 juta) untuk biaya kencan, 1 juta won (Rp 11,9 juta) untuk acara pertunangan, dan 10 juta won (Rp 119 juta) sebagai subsidi perjalanan bulan madu.

Artinya, selain menikah, pasangan juga terdorong untuk mengeksplorasi destinasi domestik, dari Pantai Busan yang ikonik, hingga wisata pedesaan yang otentik.

Insentif Lain Pernikahan di Korea

Ilustrasi pernikahan di Korea. Foto: Shutterstock

Tren insentif ini meluas ke berbagai provinsi. Geochang di Gyeongsang Selatan memberi tunjangan tahunan 600 ribu won (Rp 7,1 juta) bagi pasangan yang menetap minimal tiga tahun.

Hadong menaikkan insentif pernikahan menjadi 6 juta won (Rp 71,7 juta), sementara Sunchang di Jeolla Utara menawarkan 10 juta won (Rp 119 juta) dalam bentuk mata uang lokal bagi pasangan yang tinggal setidaknya setahun.

Tak hanya wilayah pedesaan, kota besar seperti Seoul juga ikut serta. Mulai Oktober, Ibu Kota Korea Selatan itu akan memberikan “marriage starter fund” senilai 1 juta won (Rp 11,9 juta) untuk pasangan baru, yang sekaligus bisa menjadi daya tarik agar pasangan muda tetap tinggal dan berkontribusi pada perekonomian kota.

Apakah Insentif Pernikahan Efektif?

Ilustrasi pernikahan di Korea. Foto: Shutterstock

Meski begitu, efektivitas program masih diperdebatkan. Beberapa daerah mencatat pemberian insentif tidak berbanding lurus dengan kenaikan angka pernikahan.

Contohnya, di Jangsu yang sudah delapan tahun memberikan 10 juta won (Rp 119 juta), angka pernikahan tetap menurun, kecuali lonjakan kecil pada 2023-2024.

Para ahli menilai, insentif berbasis tunai saja tidak cukup. Dibutuhkan kebijakan jangka panjang yang mendukung keseimbangan kerja-keluarga, akses perumahan yang terjangkau, dan iklim sosial yang ramah bagi pasangan muda.

Meski banyak kritik, program insentif ini menciptakan citra unik bagi Korea Selatan di mata wisatawan internasional maupun calon ekspatriat.Bayangan tentang “menikah di Korea” kini bukan hanya romantis, tetapi juga bernilai ekonomi.

Dengan tambahan subsidi untuk bulan madu, pasangan dapat memilih menjelajahi destinasi populer seperti Pulau Jeju, Busan, hingga pedesaan Jeolla yang indah.