kumparan
14 April 2019 10:00

Legenda Pasola, Adu Lembing Mencekam dari Tanah Sumba

Acara Pasola di Sumba Barat Daya. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Debu-debu beterbangan bersama embusan angin laut di lapangan Desa Wainyapu, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Puluhan kuda berderap dengan kecepatan tinggi di siang terik itu. Masing-masing membawa penunggang yang menarik tali kekang kencang-kencang.
Sambil menjaga keseimbangan di atas pelana, para penunggang kuda yang terbagi dalam dua kelompok dari desa berbeda itu saling melempar pandang garang ke arah pasukan lawan, mengintai momen tepat untuk melontarkan lembing kayu sepanjang satu meter.
Hap, lembing dilempar ke udara, meluncur ke tubuh “musuh”. Dua ratusan penonton berteriak tegang. Sebagian cemas jagoannya terluka, sebagian berharap lembing tepat sasaran mengenai badan lawan lalu membuatnya tersungkur. Suasana mencekam.
Teriakan pengunjung rupanya menjadi energi bagi para penunggang kuda tak kenal takut itu. Tak sedikit yang jatuh dari kuda lantaran kurang menjaga keseimbangan saat menghindari lemparan lembing lawan di sepanjang acara yang berlangsung tiga jam tersebut.
Mereka yang jatuh bergegas menaiki lagi kudanya, atau bakal menjadi sasaran empuk seteru. Bila semua lembing di tangan sudah habis dilempar, penunggang kuda akan kembali menuju kelompoknya agar tak jadi bulan-bulanan lawan.
Sekali waktu, peserta yang nahas bahkan terkena lemparan lembing di area mata. Ia segera dibopong keluar lapangan untuk mendapat pertolongan pertama berupa percikan air sakral berisi untaian doa penawar luka. Air ajaib itu ditaruh dalam wadah khusus—tempayan.
Salah satu penunggang kuda saat Pasola. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Korban jatuh tak bikin acara berhenti. Permainan terus berlanjut, bahkan makin seru karena semangat para penunggang lain seolah kian terbakar. Makin sering serang, teriakan penonton bertambah kencang. Whoaaa… whoaaa…
Kucuran keringat tengik dari tubuh peserta tak ada apa-apanya dibanding antusiasme mereka. Pukul 13.00 ketika matahari masih membara, acara akhirnya ditutup. Ada korban jatuh, namun tak ada api dendam bersemayam.
Itulah Pasola—permainan lempar lembing sambil berkuda asal tanah Sumba.
Video
Pasola bukan adu tangkas biasa. Ia merupakan upacara tradisional bagi warga Sumba yang memeluk kepercayaan lokal bernama Marapu.

Misalnya mati tidak apa-apa, tidak ada dendam. (Pemerintah) mendorong Pasola justru karena tidak ada yang mati, kalau cedera iya.

- Ndara Tanggu Kaha, Wakil Bupati Sumba Barat Daya

Sebagian penganut Marapu meyakini, prosesi Pasola harus digelar tiap tahun untuk menghindari musibah. Bila sampai terlewat dalam 12 bulan, maka bencana bisa datang menerjang. Sebut saja tsunami, gempa bumi, angin ribut, atau kematian dalam wujud apa pun.
Rumah adat di Sumba Barat Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Desa Wainyapu hanya salah satu lokasi tempat Pasola dihelat. Ia jadi wilayah terakhir yang menggelar Pasola tahun ini, dengan peserta dari dua kecamatan di Sumba Barat Daya, yakni Kodi dan Kodi Balaghar.
Meski menegangkan, Pasola selalu jadi atraksi budaya menarik bagi warga lokal maupun wisatawan domestik dan mancanegara. Tak kurang dari 200 orang—yang dijaga seratusan polisi—memenuhi pinggir lapangan tempat Pasola berlangsung, walau harus menantang ganas panas matahari.
Saking membeludaknya penonton, di antara mereka ada yang rela berdiri di atas motor supaya bisa menyaksikan permainan dengan jelas. Ada pula yang naik ke atas kuburan batu karena tidak kebagian tempat di pinggir lapangan.
Warga Sumba hendak menonton Pasola. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Kisah Cinta Segitiga
Ada legenda berbalut asmara di balik Pasola. Menurut Wakil Bupati Sumba Barat Daya, Ndara Tanggu Kaha, Pasola bermula dari rasa cinta dua lelaki pada seorang perempuan.
“Dalam legenda, Pasola sebetulnya merayakan datangnya binatang laut, yaitu nyale—cacing laut. Dahulu, ada dua orang kakak beradik yang senang dengan satu perempuan. Mereka memperebutkannya dengan saling serang menggunakan tombak. (Tak ingin perseteruan dua saudara bikin celaka), perempuan itu terjun ke laut. Ia meminta untuk digelar perayaan bila ada binatang laut kecil (nyale) yang datang,” kata Ndara di sela keriuhan Pasola, Rabu (27/3).
Nyale itu jelmaan si perempuan yang terjun ke laut. Namun, itu bukan satu-satunya versi cerita. Kisah lain seperti dimuat Intisari menyebutkan, perempuan yang diperebutkan itu bernama Rabu Kaba. Ia janda dari Umbu Dulla, salah satu pemimpin Kampung Waiwuang di Sumba Barat. Umbu Dulla tak jua kembali dari melaut, sehingga warga kampung menganggap ia meninggal.
Setelah melewati masa perkabungan, istri Umbu Dulla—Rabu Kaba—jatuh hati dengan lelaki dari kampung lain bernama Teda Gaiparona. Teda berasal dari Kampung Kodi di Sumba Barat Daya. Namun, jalinan kasih Teda dan Rabu rupanya tak direstui keluarga Rabu, sehingga Teda membawa Rabu ke kampungnya sendiri.
Anak lelaki menatap batu kubur di area rumah adat Sumba. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Masalah baru muncul saat Umbu Dulla yang dikira mati ternyata muncul kembali ke Kampung Waiwuang. Ia rupanya tak pergi melaut, melainkan mencari padi ke Sumba Timur untuk warga kampungnya yang dilanda kelaparan.
Setibanya di Waiwuang, Umbu Dulla mencari istrinya, Rabu Kaba, yang telah dibawa Teda Gaiparona. Namun Rabu tak mau kembali ke Umbu Dulla, dan meminta Teda untuk mengganti belis—mas kawin—yang dulu ia terima dari keluarga Umbu Dulla.
Teda pun membayar belis pengganti karena telah mengambil Rabu dari Umbu Dulla. Selanjutnya, setelah seluruh belis dibayarkan, dihelatlah pesta perkawinan Rabu Kaba dan Teda Gaiparona. Di akhir pesta, keluarga Umbu Dulla berpesan kepada warga Waiwuang untuk menggelar Pasola untuk meluapkan duka mereka karena telah kehilangan Rabu Kaba.
Perempuan Sumba tengah menenun. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Akhir cerita Rabu Kaba bahkan punya versi lain. Versi berbeda ini memiliki kemiripan dengan legenda pertama. Rabu Kaba disebut melompat ke laut karena tak ingin jatuh korban jiwa antara pasukan Waiwuang yang dihimpun Umbu Dulla, suami pertamanya, dengan warga Kodi tempat suami keduanya tinggal.
Setelah Rabu terjun ke laut, ia menjelma menjadi nyale agar bisa dinikmati semua warga desa di Sumba. Hingga kini, nyale menjadi santapan khas warga Sumba dan Lombok di Nusa Tenggara. Cacing laut itu berwarna-warni—merah, jingga, hijau—dan disebut bergizi tinggi.
Nyale biasa disantap mentah dalam keadaan segar oleh sebagian warga lokal, tapi bisa juga dimasak dengan cara digoreng, dipepes, atau diberi kuah santan.
Nyale itu enak dimakan—dimasak, dikasih bumbu-bumbu. Bahkan sampai setahun disimpan pun ia tidak membusuk. Tetap awet,” kata Oktavianus Dare, tokoh adat Kodi Balaghar, di kediamannya di Desa Wainyapu, Selasa (26/3).
Nyale atau cacing laut tangkapan warga Wainyapu. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Kisah lain lagi tanpa unsur asmara diceritakan Oktavianus. Menurutnya, seseorang bernama Inya Nyale ialah nenek moyang bangsa manusia.
“Legendanya, dulu manusia pertama—Ina Nyale—menjelma menjadi nyale (cacing laut) dan menikah dengan seekor ikan. Saat menjelma nyale, keluarganya berpesan bahwa setiap tahun harus melakukan Pasola untuk menambah berkat panen, ternak, kesehatan,” ujar dia sambil menyesap kopi khas Sumba.
Patung Putri Mandalika (paling kiri) di Pantai Seger., Lombok Tengah. Foto: ANTARA/Ahmad Subaidi
Perkara perempuan terjun ke laut lalu menjelma nyale tak hanya ada di legenda Sumba. Cerita hampir serupa dapat ditemui pada kisah Putri Mandalika di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Alkisah, Putri Mandalika yang jelita jadi rebutan para pangeran dari berbagai kerajaan. Saking banyak pangeran yang berniat melamarnya, pertempuran bisa pecah di tanah Sasak. Alhasil, Putri Mandalika mencari akal untuk menghindari perang yang sia-sia.
Ia mendapat jalan keluar. Pagi buta, Mandalika mengumpulkan para pangeran dan rakyatnya di pantai, mengumumkan menerima pinangan semua pangeran itu, dan melompat ke laut.
Rakyat negerinya pun dihantam gelombang kaget. Mereka sontak berduyun-duyun mencari Mandalika di laut. Alih-alih menemukan tubuh sang putri, mereka malah dihampiri sekumpulan cacing berwarna-warni—nyale. Nyale itu lantas dianggap sebagai jelmaan Putri Mandalika.
Bulan Mati ke Batu Kubur
Kembali ke Pasola, ia tak boleh digelar di sembarang waktu. Tetua adat Marapu—yang biasa disebut rato—harus menetapkan periode acara berdasarkan perhitungan bulan mati (bulan gelap/bulan baru) dan bulan terang (bulan purnama).
“Patokan dari warisan leluhur itu Februari dan Maret saat musim hujan dan nyale sedang keluar,” kata Rato Woraledde di rumahnya, Senin (25/3). Woraledde bicara dalam bahasa lokal Sumba yang dialihbahasakan untuk kumparan oleh Gerson, salah satu warga Wainyapu.
Setelah tanggal Pasola ditentukan, rato akan membakar ayam. Ritual ini berfungsi untuk memberi tahu dan memanggil leluhur orang Marapu bahwa Pasola akan dilaksanakan, juga untuk memperkirakan apakah Pasola bakal berjalan lancar atau tidak.
Bila terdapat bintik atau lubang di usus, hati, dan darah ayam, Pasola diyakini menyimpan bahaya yang perlu diantisipasi. Contohnya saja, berjaga-jaga bilamana peserta terluka.
Selanjutnya, usai tanggal ditetapkan hingga Pasola tiba, sejumlah aturan harus dipatuhi. Bila sampai dilanggar, bencana dipercaya bakal datang. Misalnya, angin puting beliung.
Aturan-aturan tersebut antara lain melarang rato keluar rumah kecuali untuk ke kakus; juga melarang warga desa membuat anyaman tikar, menjemur pandan di bawah sinar matahari, mengambil kerang di laut, memukul gong dalam rangkaian acara penguburan, dan melarang penduduk memotong batu yang digunakan untuk batu kubur—sebutan untuk kuburan batu atau sarkofagus di Sumba.
Batu kubur di Sumba. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Ritual bakar lilin di batu kubur, malam sebelum Pasola. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Malam sebelum Pasola, warga desa akan melakukan ziarah batu kubur dengan menaruh sirih pinang dan lilin saat berkunjung ke makam leluhur. Lilin-lilin itu kemudian dibiarkan menyala hingga habis.
Maka, Desa Wainyapu—yang punya banyak batu kubur dan belum dialiri listrik—seolah dipenuhi kelap-kelip kunang-kunang di malam terang berbintang, berkat nyala api dari ratusan lilin itu.
Malam hari penuh bintang di Desa Wainyapu yang tidak dialiri listrik. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Memancing Cacing
Hari H. Pagi hari pukul 06.00 sampai 07.00, warga Desa Wainyapu mencari nyale alias cacing laut di Pantai Wainyapu yang berjarak tak sampai satu kilometer dari lapangan Pasola. Ini juga bagian dari rangkaian ritual pra-Pasola.
Warga Wainyapu mencari nyale di pantai. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Berbekal ember, jaring, dan alat-alat tangkap lain, penduduk turun ke Pantai Wainyapu untuk berburu nyale. Mereka menyusuri pantai demi meraup cacing. Sayangnya, hingga pukul 07.00, tak banyak nyale yang berhasil ditangkap.
Padahal, jumlah nyale yang muncul di pinggir pantai dipercaya menjadi tanda intensitas hujan setahun ke depan. Jika nyale yang didapat banyak, maka hujan diprediksi deras mengguyur sehingga panen bakal melimpah. Sebaliknya, bila nyale yang terkumpul sedikit, maka kekeringan mengintai tanah Wainyapu.
Suasana saat acara Pasola berlangsung. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Kuda Keramat
Rampung mencari nyale di pantai, kuda-kuda yang hendak mengikuti Pasola mulai disiapkan pukul 09.00. Ada dua jenis kuda yang penting di sini, yakni Nyale dan Halato yang dianggap keramat. Keduanya tak bisa dipisahkan dan harus dihadirkan saat menggelar ritual.
Ritual terkait kuda ini diawali dengan berputarnya kuda Halato bersama penunggangnya di depan rumah si empunya sebanyak dua kali. Selanjutnya, kuda Halato mendekati kuda Nyale dan mereka bersama-sama berputar dua kali di depan rumah ketua adat atau rato.
Sesudah berputar-putar itu, kuda Nyale dan kuda Halato pergi bersama ke pantai untuk mencari kelapa. Berikutnya, usai mendapatkan kelapa dan meminum airnya, penunggang kuda Halato akan membuang kelapa itu ke arah matahari terbedam (barat). Sementara penunggang kuda Nyale melempar kelapa ke arah matahari terbit (timur).
Lepas membuang kelapa, mereka kembali ke desa untuk beristirahat sejenak. Setelahnya, Yohanes Ndara Kepala—penunggang kuda Halato yang juga peserta Pasola—beranjak bersama kudanya untuk menghampiri lagi kuda Nyale.
Perlengkapan Pasola. Infografik: Putri Sarah Arifira/kumparan
Kuda Halato dan kuda Nyale kembali berputar di muka rumah rato, disusul aksi Ratu Nyale—sebutan untuk istri rato—bersama beberapa ibu mengelilingi batu kubur di depan kediaman itu, sembari menyanyi dan melempar sirih pinang serta beras ke kuburan leluhur mereka tersebut.
Begitu kidung usai, kuda Nyale dan kuda Halato dibawa menuju tanah lapang tempat Pasola digelar. Kedua kuda kemudian berlari mengelilingi lapangan empat kali, diakhiri adegan penunggang kuda membuang lembing ke empat arah mata angin—utara, timur, selatan, barat—sebagai aba-aba bahwa Pasola siap dimulai.
Seorang peserta melempar lembing di Festival Pasola. Foto: ANTARA/Kornelis Kaha
Saat Pasola dimulai, kuda Halato ikut bermain, sedangkan kuda Nyale menjadi pengawas. Itu sebabnya di sepanjang acara, kuda Nyale terus ditunggangi oleh anak sulung rato—yang kelak menggantikan ayahnya—di luar lapangan. Bila putra rato sampai turun dari kuda, pemain Pasola dikhawatirkan bakal celaka, entah terjatuh atau tersambar petir.
Sehari usai Pasola, ada ritual terakhir yang tak boleh terlupa, yakni menutup acara dengan membakar ayam. Ritus ini berfungsi untuk membawa arwah leluhur kembali ke alamnya. Roh para leluhur itu berada di sekeliling rato selama Pasola berlangsung. Mereka sengaja didatangkan untuk Pasola, dan karenanya dipulangkan setelah Pasola tuntas.

Pasola ini supaya leluhur menghargai kami yang hidup, dan sebagai tanda bahwa kami juga menghargai nenek moyang kami.

- Yohanes Kahele, warga Desa Wainyapu

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan