Makan Abu dan Tulang Jenazah, Cara Suku Yanomami Mengantarkan Keluarga ke Surga

23 Mei 2021 7:48
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Suku Yanomami di hutan Amazon Foto: . REUTERS/Carlos Garcia Rawlins
zoom-in-whitePerbesar
Suku Yanomami di hutan Amazon Foto: . REUTERS/Carlos Garcia Rawlins
ADVERTISEMENT
Ritual pemakaman menjadi sebuah proses akhir untuk mengantarkan seseorang yang sudah meninggal dunia ke tempat peristirahatan terakhirnya. Isak tangis dan kesedihan biasanya mengiringi proses pemakaman seseorang yang telah meninggal dunia.
ADVERTISEMENT
Namun, bagi beberapa suku, kesedihan tersebut diubah menjadi sebuah tradisi untuk melakukan penghormatan terakhir. Salah satu ritual pemakaman yang dilakukan adalah praktik kanibalisme.
Salah satu kelompok atau suku di dunia yang masih menerapkan tradisi itu adalah Suku Yanomami di pedalaman sungai Amazon, Brasil. Suku ini menjadikan kanibalisme sebagai cara mengungkapkan kasih sayang pada keluarganya yang sudah meninggal dunia.
Tradisi kanibalisme yang disebut dengan Endocannibalisme ini dianggap sebagai simbol ikhlas dalam melepaskan sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia. Penduduk Suku Yanomami meyakini bahwa roh orang yang sudah meninggal dunia dapat beristirahat dengan tenang, jika tubuh jenazah dibakar dan dimakan oleh kerabat yang masih hidup.
Penduduk suku pribumi Amazon Ekuadro Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Penduduk suku pribumi Amazon Ekuadro Foto: Shutter Stock
Selain itu, menyantap abu orang yang dicintai akan membuat jiwa mereka terbebas dari kutukan yang mengharuskan mereka tinggal di dunia peralihan. Yakni dunia yang berada di antara kehidupan dan kematian.
ADVERTISEMENT
Berbeda dengan upacara pemakaman konvensional, suku Indian asli ini membakar jenazah dan mengecat wajah mereka dengan kotoran dari tubuh jenazah yang dibakar. Kemudian, saat prosesi pemakaman, mereka akan bernyanyi sambil menangis untuk mengungkapkan kesedihan mereka atas kepergian keluarga tercinta.
Pada tahap kedua, kelompok suku tersebut akan mengumpulkan tulang yang tersisa dari tubuh yang terbakar. Kemudian, tulang-tulang itu ditumbuk hingga halus dan dicampurkan bersama abu jenazah yang sudah dibakar.
Ilustrasi Hutan Amazon. Foto: AFP/MAURO PIMENTEL
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Hutan Amazon. Foto: AFP/MAURO PIMENTEL
Sisa abu dan tulang bekas kremasi akan dimasak bersama dengan pisang fermentasi menjadi sebuah sup. Makanan lokal yang kerap disajikan sebagai hidangan duka ini akan diberikan kepada semua pelayat.
Untuk memakannya pun juga tak boleh sembarangan. Jika jenazah meninggal dunia akibat dibunuh oleh musuh dari suku lain, maka hanya wanita saja yang akan memakan sup tersebut. Selain itu, mereka hanya diizinkan makan makanan tersebut saat malam hari, ketika Suku Yanomami melakukan balas dendam terhadap tersangka.
ADVERTISEMENT
Mereka percaya bahwa menyelesaikan ritual penguburan jenis kanibalisme ini, merupakan satu-satunya cara jiwa bisa mencapai kedamaian abadi. Bukan hanya itu, memakan abu jasad diyakini Suku Yanomami dapat membantu orang yang mereka kasihi untuk memasuki surga dan bereinkarnasi.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona).
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020