Maracaibo, Danau Berusia 36 Juta Tahun yang Paling Sering Disambar Petir

Danau Maracaibo di Venezuela mendapat predikat "ibu kota petir di dunia". Hal itu bukan tanpa alasan, sebab tempat tersebut mengalami sambaran petir yang menerangi langit hampir 300 malam setiap tahunnya, menurut sebuah penelitian NASA.
Dilansir Live Science, Danau Maracaibo adalah danau terbesar di Amerika Selatan, terletak di sepanjang Pegunungan Andes bagian utara. Pegunungan yang menjadi penghalang alami mendorong udara ke atas lalu mencampurkannya dengan udara hangat dan lembab di atas danau untuk menciptakan badai petir di malam hari.
Para peneliti menemukan danau itu selalu dihantam 233 petir per kilometer persegi setiap tahunnya. Selain itu, Danau Maracaibo menjadi salah satu danau tertua di dunia dengan usia sekitar 20-36 juta tahun. Diketahui, danau ini juga menyimpan cadangan minyak terbesar untuk Venezuela.
Rutinnya petir yang datang ke sini membuat masyarakat sekitar menyebutnya dengan fenomena kilat catatumbo. "Danau Maracaibo memiliki geografi dan klimatologi unik yang ideal untuk perkembangan badai," kata seorang ilmuwan peneliti di Universitas Alabama di Huntsville, Dennis Buechler, dalam sebuah pernyataan.
Afrika tetap menjadi benua dengan titik petir paling banyak, menurut penelitian tersebut. Ini adalah rumah bagi enam dari 10 area di dunia yang sering disambar petir, yang semuanya terletak di sepanjang Pegunungan Mitumba di Kongo Timur.
Asia memiliki titik petir terbesar kedua, dengan wilayah teraktifnya terletak di pegunungan Himalaya di barat laut, dekat Daggar, Pakistan. Amerika Selatan berada di urutan ketiga, diikuti oleh Amerika Utara dan Australia, menurut penelitian yang dipublikasikan di Bulletin of the American Meteorological Society.
Di Amerika Serikat, para peneliti menemukan bahwa petir paling banyak terjadi di dekat Orangetree, Florida. Kota di Florida selatan ini menempati urutan ke-14 di Amerika Utara untuk tempat paling rawan petir dan 122 secara global, disambangi 79 petir per kilometer persegi setiap tahunnya, menurut penelitian tersebut.
Petir terjadi saat udara dingin dan udara hangat berinteraksi. Udara dingin memiliki kristal es, udara hangat memiliki tetesan air. Gesekan dari tetesan dan kristal yang saling bertabrakan menciptakan muatan listrik positif dan negatif di awan.
Ketika muatan negatif di dasar awan menjadi cukup kuat, energi listrik dilepaskan dalam bentuk petir yang melompat ke struktur positif lain di tanah atau di awan. Badai yang menggemparkan ini cenderung terkonsentrasi di daratan dan biasanya terjadi pada sore hari, sementara petir di lautan biasanya lebih sedikit. Ketika badai ini benar-benar terjadi, petir cenderung lebih aktif di malam hari, menurut penelitian.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona).
