Kumparan Logo

Mbah Agus: Tua-Tua Naik Gunung

kumparanTRAVELverified-green

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Agus Pratikno (Foto: Instagram @agusnurpratikno)
zoom-in-whitePerbesar
Agus Pratikno (Foto: Instagram @agusnurpratikno)

Mendaki gunung tentu membutuhkan fisik dan mental yang prima serta yang tak kalah penting adalah waktu. Hal ini membuat naik gunung identik dengan pendaki-pendaki mahasiswa atau pemuda yang berusia 20an yang berada dalam usia fisik yang prima dan memiliki waktu luang karena kesibukan yang tidak terlalu padat.

Namun hal ini tidak berlaku bagi Agus Pratikno atau yang lebih dikenal di kalangan pendaki dengan panggilan Mbah Agus. Di usia yang bagi sebagian orang sudah dapat disebut dengan kakek, Mbah Agus justru sedang menggilai dunia pendakian.

Mbah Agus lahir di Jogja 5 Mei 1960 dan tepatnya kini berusia 56 tahun. Bayangkan, di usia tersebut ia justru aktif mendaki disaat sebagian orang seusianya lebih memilih mengistirahtakan tubuh dan menjauhi kegiatan-kegiatan ekstrim.

instagram embed

Kakek yang memiliki dua anak dan 1 cucu ini, rutin mendaki gunung setelah pensiun sebagai PNS Provinsi DIY pada 2010 lalu. Bahkan semenjak pertengahan 2016 ia mendaki sebuah gunung tiap minggunya yang ditargetkan dilakukan selama setahun.

Meski hamparan tanah di seluruh puncak gunung Jawa Tengah seperti Gunung Slamet, Sumbing dan Merapi telah ia cicipi, Mbah Agus tetap bersemangat untuk mencapai target naik gunung seminggu sekalinya itu.

Kegiatan sehari-hari Mbah Agus selain mendaki biasanya diisi dengan menemani sang istri mengurus warung makan di Klaten, dan menemani sejumlah pendaki yang berkunjung ke rumahnya untuk berwisata di Umbul Manten dan Umbul Ponggok yang tak jauh dari rumahnya.

Mbah Agus merupakan sosok yang ramah dan mudah dihubungi, terlebih lagi ia cukup eksis dan aktif di Instagram dengan hampir 10 ribu followers.

instagram embed

Di kalangan pendaki Jawa Tengah sosoknya sudah sangat populer karena sering bertemu di tengah pendakian, seorang diri. Ya, Mbah yang satu ini selalu mendaki seorang diri meski dirinya memiliki riwayat penyakit darah rendah dan pernapasan.

“Untuk olahraga dan menikmati keindahan alam simbah mencontoh orang asing makanya simbah sering sendiri” kata Mbah Agus kepada Kumparan saat ditanya tentang alasannya mendaki Gunung.

instagram embed

Mbah Agus bercerita bahwa saat usia 13 tahun ia sering mengunjungi kawasan Dieng Wonosobo dan penasaran tentang apa yang membuat mereka tertarik mengunjungi Dieng.

“Ya umur 13 ngikutin orang asing karena kepo” lanjutnya.

Mbah Agus kemudian mengikuti para wisatawan asing tersebut yang ternyata secara khusus datang ke Dieng untuk mendaki gunung-gunung di sekitar kawasan tersebut. Semenjak itu ia mulai tertarik mendaki gunung.

instagram embed

Ia juga sempat mengajak anak dan istrinya untuk mendaki namun karena kesibukan masing-masing, Mbah Agus akhirnya mendaki sendiri.

Saat masih aktif bekerja sebagai PNS, hobi naik gunung Mba Agus sempat mati suri karena kesibukan yang sangat menyita waktu. Dia baru bisa kembali mendaki setelah ia memutuskan pensiun dini.

Bagi Mbah Agus mendaki bukanlah untuk mencari prestise atau sekedar untuk pamer di media sosial. Mendaki gunung merupakan kegiatan yang membuat dirinya senang dan bisa memiliki banyak teman. Hal itu menurutnya merupakan obat paling manjur untuk kesehatannya.

instagram embed

Berikut ini merupakan catatan pesan berharga dari Mbah Agus yang ia ceritakan lewat salah satu postingannya di Instagram:

“OBAT PALING MANJUR : HATI SENANG

Jangan dikira mbah ini sehat. Mbah sakit2an mungkin gegara jenuh berkutat dengan birokrasi.Akhirnya mbah mengajukan pensiun dini th 2010. Waktu itu naik motor 40km aja sudah minta ampun capeknya.

Pernah hanya mendaki gunung api purba nglangeran baru stng jln sudah mau pinsan.Setelah pensiun simbah nikmati dengan jln2 naik motor lama2 bisa kuat jauh. Akirnya tiap hari bisa menempuh hampir 300km.

Trus mencoba naik gunung lagi lawu merbabu merapi sekitar th 2012. Walau terasa berat dan butuh waktu lama tapi akhirnya sampai puncak. Dan sekarang ada kemajuan waktu tempuh lebih cepat.

DARI PENGALAMAN INI, mbah DAPAT MENGAMBIL KESIMPULAN BAHWA OBAT YG PALING MUJARAB ADALAH HATI SENANG

Pertanyaannya adalah apakah kalian semua senang mendaki?

Jika senang maka hidup kalian semua akan lebih sehat.”