Kumparan Logo

Memahami Sejarah, Arti, hingga Tradisi Malam Satu Suro yang Sakral

kumparanTRAVELverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga menampilkan atraksi sembur api saat Tradisi Sedekah Kepala Kerbau Gunung Merapi di Lencoh, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (29/7) Foto: ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho
zoom-in-whitePerbesar
Warga menampilkan atraksi sembur api saat Tradisi Sedekah Kepala Kerbau Gunung Merapi di Lencoh, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (29/7) Foto: ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho

Untuk menyambut 1 Muharam, biasanya ada pelaksanaan malam satu suro yang dilakukan di berbagai daerah. Mulai dari arak obor hingga melakukan pengarakan benda pusaka.

Biasanya saat malam 1 suro datang, masyarakat yang berada di Jawa umumnya melakukan ritual tirakatan, lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk), dan tuguran (perenungan diri sambil berdoa).

Bahkan sebagian orang akan memilih untuk melakukan semedi di tempat sakral seperti puncak gunung, tepi laut, pohon besar, atau di makam keramat.

Dilansir Peta Budaya Kemendikbud, untuk masyarakat Jawa, bulan suro merupakan awal tahun Jawa yang dianggap sebagai bulan yang sakral dan suci.

Warga membawa kepala kerbau saat Tradisi Sedekah Kepala Kerbau Gunung Merapi di Lencoh, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (29/7). Foto: ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho

Tentu bulan tersebut dianggap sebagai bulan yang sakral dan suci dan tepat untuk merenung, tafakur, dan introspeksi demi mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Cara yang biasa digunakan masyarakat Jawa untuk berintrospeksi adalah dengan lelaku, yaitu mengendalikan hawa nafsu.

Sepanjang bulan itu, masyarakat Jawa akan berusaha untuk bersikap waspada dan tetap eling di setiap kegiatannya agar selalu ingat Tuhan dan terhindar dari hal yang menyesatkan.

Oleh karena itu masyarakat Jawa pantang melakukan hajatan pernikahan selama bulan suro. Peringatan malam 1 suro harus berjalan dengan khusyuk, karena itu menjadi momen untuk membersihkan diri lahir batin, introspeksi, dan bersyukur kepada Tuhan.

Sejarah Perayaan Malam 1 Suro

Dalang Ki Sang Pandyo memainkan wayang kulit di Balai Desa Menang, Kediri, Jawa Timur, Jumat (29/7). Foto: ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani

Tentu setiap tradisi memiliki sejarah panjang di baliknya. Sama halnya sejarah perayaan malam 1 suro.

Perayaan ini untuk menyambut 1 Muharam, hal tersebut juga digunakan untuk memperkenalkan kalender Islam di kalangan masyarakat Jawa.

Saat itu Sultan Agung ingin menyatukan rakyatnya untuk menyerang Belanda di Batavia, dan mau menyatukan Pulau Jawa. Sultan Agung tidak ingin rakyatnya terbelah yang disebabkan oleh agama.

instagram embed

Sultan Agung Hanyokrokusumo juga ingin menyatukan kelompok santri dan abangan. Mulai saat itu setiap Jumat legi, dilakukanlah laporan pemerintahan sambil melakukan pengajian dengan para penghulu kabupaten.

Bukan hanya pengajian, sekaligus melakukan ziarah kubur dan haul ke makam Ngampel dan Giri. Akibatnya, 1 Muharam (1 Suro Jawa) yang dimulai pada hari Jumat legi juga ikut dikeramatkan, bahkan dianggap sial jika ada orang yang memanfaatkan hari tersebut di luar kepentingan mengaji, ziarah, dan haul.

Tradisi Perayaan Malam 1 Suro

video youtube embed

Biasanya tradisi perayaan malam 1 suro akan dilakukan tepat pada pukul 24.00 dalam pergantian tahun jawa. Perayaan tersebut biasanya dilakukan secara bersamaan di Keraton Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat.

Di Keraton Surakarta Hadiningrat, biasanya pihak keraton akan melakukan kirab malam 1 Suro yang dipimpin oleh Kebo Bule Kyai Slamet sebagai Cucuking Lampah.

Kebo Bule merupakan hewan kesayangan susuhunan yang dianggap keramat. Di belakang Kebo Bule barisan berikutnya adalah para putra Sentana Dalem (kerabat keraton) yang membawa pusaka, kemudian diikuti masyarakat Solo dan sekitarnya seperti Karanganyar, Boyolali, Sragen, dan Wonogiri.

Dalang Ki Sang Pandyo memainkan wayang kulit di Balai Desa Menang, Kediri, Jawa Timur, Jumat (29/7). Foto: ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani

Sementara itu di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, memperingati malam 1 suro dengan cara mengarak benda pusaka mengelilingi benteng keraton yang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya.

Selama melakukan ritual mubeng beteng tidak diperkenankan untuk berbicara seperti halnya orang sedang bertapa. Inilah yang dikenal dengan istilah tapa mbisu mubeng beteng.