Menelusuri ‘Grand Canyon’ dari Timur: Pesona Magis Air Terjun Tanggedu Sumba

1 Desember 2025 18:01 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menelusuri ‘Grand Canyon’ dari Timur: Pesona Magis Air Terjun Tanggedu Sumba
Menelusuri ‘Grand Canyon’ dari Timur: Pesona Magis Air Terjun Tanggedu Sumba.
kumparanTRAVEL
Pemandangan alam menuju Air Terjun Tanggedu, Sumba Timur, Kamis (27/11). Foto: Vincentius Mario/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pemandangan alam menuju Air Terjun Tanggedu, Sumba Timur, Kamis (27/11). Foto: Vincentius Mario/kumparan
ADVERTISEMENT
Matahari Sumba Timur siang itu bersinar terik, menyengat kulit, tetapi sekaligus menjadi sorot alami yang memamerkan keindahan lanskap pulau ini. Kamis (27/11), kami menantang debu dan jarak, meninggalkan Kota Waingapu demi sebuah oase tersembunyi di utara bernama Air Terjun Tanggedu.
ADVERTISEMENT
Terletak di Desa Tanggedu, Kecamatan Kanatang, air terjun ini kerap dijuluki sebagai 'Grand Canyon' asli Sumba. Relief bebatuan kapurnya yang memukau membuat banyak wisatawan menayamakannya dengan ngarai besar yang terbentuk oleh Sungai Colorado di utara Arizona, Amerika Serikat.
Namun, untuk menyaksikan kemegahan lokal ini, ada harga berupa peluh dan keringat yang harus kamu bayar.

Jalan Setapak dan Senyum Anak Sekolah

Perjalanan dari Kota Waingapu memakan waktu sekitar 40 menit berkendara dengan mobil. Di sepanjang jalan, sejauh mata memandang, kami dimanjakan oleh hamparan bukit savana yang menguning kecokelatan, kontras dengan langit biru yang bersih.
Jalanan berkelok melengkung, membuat kami tak henti-hentinya bersyukur atas nikmat Tuhan. Hamparan bukit, savana yang membentang, dan kuda yang beristirahat meminum air, menyambut kami memasuki area wisata Tanggedu.
Kawasan Air Terjun Tanggedu, Sumba Timur, Kamis (27/11/2025). Foto: Vincentius Mario/kumparan
Saat tiba di area desa, suasana berubah menjadi lebih hangat. Di sebuah jembatan kecil sebelum menuju Tanggedu, kami berpapasan dengan anak-anak sekolah yang baru saja bubar kelas.
ADVERTISEMENT
Berseragam putih merah berdebu, mereka melempar senyum malu-malu, dan melambaikan tangan. Saat ke Sumba, buku-buku bacaan saya di koper melebihi pakaian yang saya bawa. Saya lalu menyapa mereka dan mempersilakan mereka mengambil buku dari tas jinjing kecil.
Senyum mereka menghangatkan. Mereka hampir berebut mengambil buku yang lebih tebal. Saya pikir, untuk akses sekolah yang terbatas, buku bisa jadi barang langka di kampung ini. Antusias mereka membayar rasa lelah dan dahaga kami di tengah teriknya matahari.
Setelah ngobrol dan bercanda dengan anak-anak, kami disambut jembatan besi kecil. Jembatan ini jadi penanda batas kendaraan roda empat.
Akses menuju bibir tebing air terjun Tanggedu selanjutnya hanya berupa setapak kecil yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Bagi pengunjung yang membawa mobil, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki atau menggunakan jasa ojek warga sekitar dengan merogoh kocek Rp 50.000 pulang pergi.
Pemandangan alam menuju Air Terjun Tanggedu, Sumba Timur, Kamis (27/11). Foto: Vincentius Mario/kumparan
Dari jembatan kecil itu kami diantar dengan motor menuju titik gerbang Tanggedu. Sumba tetaplah Sumba. Di titik manapun, dengan kendaraan apa pun, keindahan tetap bisa terlihat sejauh mata memandang.
ADVERTISEMENT
Tiba di gerbang masuk Tanggedu, tantangan fisik baru dimulai. Tanggedu tidak menyambut tamunya tepat di pinggir jalan. Ia bersembunyi di lembah.
Kami harus menuruni tepat 242 anak tangga untuk bisa menyentuh airnya. Angka yang cukup membuat betis menegang, tetapi suasana sambil menuruni anak tangga itu membius rasa lelah.
Semakin ke bawah, suara bising kendaraan dan perkotaan di benak saya, hilang total. Suara yang tergantikan oleh orkestra alam. Ada kicauan burung yang saling bersahutan, desau angin yang menabrak tebing, dan tentu saja, gemuruh air yang kian lama kian jelas terdengar.

Wajah Ganda Tanggedu di Sumba

Air Terjun Tanggedu, Sumba Timur, Kamis (27/11). Foto: Vincentius Mario/kumparan
Sesampainya di dasar lembah, lelah terbayar lunas. Tanggedu menyuguhkan pemandangan dinding tebing batu yang terpahat alami oleh aliran air selama ratusan tahun.
ADVERTISEMENT
Kondisi air di Tanggedu memiliki wajah ganda, tergantung musim. Jika berkunjung pada rentang April hingga Oktober saat curah hujan rendah, air di sini akan berwarna hijau toska yang jernih memukau.
Namun, sayangnya, kunjungan kami jatuh di akhir November di mana hujan mulai turun deras. Debit air cukup tinggi dan warnanya sedikit keruh. Meski demikian, hal itu tak mengurangi kegagahan tebing-tebing batu yang mengapit aliran sungai tersebut.
Meski begitu, ada satu lokasi, jika kamu mau sedikit lagi bersusah payah menaiki tebing kapur area 'lantai 2' Tanggedu. Di sana, air lebih jernih berwarna hijau toska dan udara semakin dingin berkat pepohonan yang rindang di sekitar.

Kisah Ibu Bola

Pemandangan alam menuju Air Terjun Tanggedu, Sumba Timur, Kamis (27/11). Foto: Vincentius Mario/kumparan
Wisata di Tanggedu tak hanya soal pemandangan, tetapi juga tentang napas ekonomi bagi warga sekitar. Pertumbuhan pariwisata di Sumba Timur yang kian pesat usai pandemi membuat masyarakat lokal mulai berdaya.
ADVERTISEMENT
Di area atas, saya bertemu Ibu Bola, wanita paruh baya yang membuka sebuah warung kecil. Tak bisa membayangkan perjuangan keluarganya membawa bahan makanan dan minuman untuk dijual di sini.
Mereka harus menempuh jarak 10 kilometer, memikul kelapa, mie instan, beras, telur, ikan, ayam, untuk disuguhkan kepada para wisatawan yang kelelahan di Tanggedu.
Dengan tangkas, Mama Bola membelah sebutir kelapa muda untuk saya. Mama Bola adalah satu dari beberapa warga yang mencari peruntungan dengan berjualan makanan dan minuman di lokasi wisata.
"Kelapa mudanya dua puluh ribu (rupiah) satu butir," ujarnya ramah sambil menyeka keringat.
Bagi Ibu Bola, ramainya wisatawan di Tanggedu adalah berkah. Warung sederhananya menjadi tempat istirahat favorit bagi mereka yang 'ngos-ngosan' setelah menuruni, atau sebelum menaiki ratusan anak tangga.
ADVERTISEMENT

Panduan Menuju Tanggedu

Kawasan Air Terjun Tanggedu, Sumba Timur, Kamis (27/11/2025). Foto: Vincentius Mario/kumparan
Bagi kamu yang berencana mengunjungi surga tersembunyi ini, Air Terjun Tanggedu buka setiap hari mulai pukul 07.00 WITA hingga selesai. Tiket masuknya sangat terjangkau, hanya Rp 10.000 per orang.
Untuk akses transportasi, wisatawan memiliki beberapa opsi sewa kendaraan di Sumba Timur. Pertama, ada sewa motor berkisar Rp 150.000 hingga Rp 300.000 per hari. Ada juga sewa mobil jenis Grand Innova dibanderol sekitar Rp 900.000 hingga Rp 1.000.000 per hari (sudah termasuk BBM dan pengemudi).
Jika kamu membawa mobil dan enggan berjalan kaki dari jembatan kecil menuju titik tangga, warga menyediakan jasa ojek motor dengan tarif Rp 50.000 pulang-pergi (PP).
Tanggedu adalah bukti bahwa Sumba Timur bukan hanya sekadar savana. Di balik bukit keringnya, tersimpan aliran air yang menghidupi dan mempesona siapa saja yang rela mengayunkan kaki menuruni lembah.
ADVERTISEMENT

Reporter: Vincentius Mario