kumparan
Food & Travel2 Oktober 2018 16:03

Menelusuri Jejak Sejarah Kampoeng Batik Laweyan di Solo

Konten Redaksi kumparan
Pengrajin Batik Laweyan
Pengrajin Batik Laweyan (Foto: solocity.travel)
Kampoeng Batik Laweyan merupakan satu dari sekian banyak kampung batik yang ada di Indonesia. Kampung batik tertua di Solo ini rupanya punya sejarah yang panjang hingga akhirnya menjadi cagar budaya.
ADVERTISEMENT
Dilansir dari situs resmi Kampoeng Laweyan, menurut sejarah yang ditulis oleh R.T Mlayadipuro, Kampoeng Laweyan sudah ada sebelum munculnya Kerajaan Pajang. Yang berarti muncul setelah Kyai Ageng Hanis bermukin di desa Laweyan pada tahun 1546 M silam.
Dahulu, Kyai Ageng Henis atau Kyai Ageng Laweyan juga mengajarkan teknik pembuatan batuk tulis pada santrinya. Kyai Ageng Henis sendiri merupakan putra dari Kyai Ageng Sela yaitu keturunan Raja Brawijaya V.
Ilustrasi Pengrajin Batik Laweyan Zaman Dulu
Ilustrasi Pengrajin Batik Laweyan Zaman Dulu (Foto: kampoengbatiklaweyan.org)
Rupanya, selain Kyai Ageng Henis, berbagai sumber juga mengatakan jika K.H Samanhudi turut ambil andil dalam sejarah Kampoeng Batik Laweyan. Di tahun 1905, K.H Samanhudi merupakan sosok yang memprakarsai terbentuknya Serikat Dagang Islam.
Selain itu, dirinya juga berhasil menghimpun para saudagar batik muslim yang ada di Laweyan untuk menghadapi Belanda yang pengaruhnya semakin kuat di kraton. Berawal dari itu, kini Laweyan punya 250 motif batik yang sudah dipatenkan dan penduduknya sebagian besar menjadi pengrajin batik.
ADVERTISEMENT
Menurut RT. Mlayadipuro, Pasar Laweyan dahulu merupakan pasar Lawe atau bahan baku tenun yang sangat ramai. Bahan baku kapas pada saat itu banyak dihasilkan dari desa Pedan, Juwiring, dan Gawok yang masih termasuk daerah Kerajaan Pajang, mengingat daerah Laweyan banyak ditumbuhi pohon kapas yang diolah menjadi benang lawe.
Pengrajin Batik Laweyan di Solo
Pengrajin Batik Laweyan di Solo (Foto: Flickr / Aditya Darmasurya)
Lebih lanjut, alasan Laweyan menjadi pusat perdagangan karena letaknya berada di tepi Sungai Banaran yang langsung terhubung dengan Sungai Bengawan. Di sungai ini pula ada Bandar Kabanaran, yaitu tempat berlabuh perahu yang menjadi arus perdagangan khususnya komoditas benang lawe dan batik.
Kini, kampoeng batik tertua di Indonesia itu menjadi salah satu daerah wisata yang sengaja di sediakan oleh pemerintah Kota Solo untuk mengundang wisatawan yang ingin mengenal batik, khususnya batik Solo. Dengan luas lahan sekitar 10 hektare, pengunjung bisa wisata belanja, wisata budaya, wisata sejarah dan wisata edukasi di satu lokasi.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan