Kumparan Logo

Mengapa Pesawat Selalu Gunakan Roda Belakang saat Mendarat? Ini Alasannya

kumparanTRAVELverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bandara. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bandara. Foto: Shutterstock

Saat di bandara, kamu tentu pernah menyaksikan pesawat yang akan mendarat selalu menggunakan roda bagian belakangnya, baru bagian depan. Pernahkah traveler bertanya-tanya mengapa demikian? Kenapa tidak roda bagian terlebih dahulu? Ini alasannya.

Dilansir Simple Flying, alasan kenapa pesawat terbang selalu menggunakan roda belakang saat mendarat adalah berkaitan dengan pusat gravitasi. Pesawat modern memiliki dua set roda pendaratan, yakni main gear dan nose gear.

Ilustrasi pesawat di bandara. Foto: aapsky/Shutterstock

Main gear terletak di pusat gravitasi pesawat dan dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menahan berat serta benturan pesawat saat mendarat. Sementara itu, nose gear berada di depan dan hanya mampu menahan 15 persen dari berat total bobot pesawat keseluruhan.

Selain itu, roda bagian depan ternyata ditujukan untuk mengarahkan pesawat untuk berbelok saat di darat. Meski dilengkapi dengan rem, nose gear tidak digunakan untuk melambatkan laju pesawat saat mendarat.

Ilustrasi landasan pacu bandara. Foto: Shutter Stock

Sebagai gantinya, pilot akan mengandalkan rem yang ada di roda bagian utama, yakni main gear, untuk menghentikan pesawat saat pesawat menyentuh landasan.

Pesawat harus mendarat di atas roda yang paling dekat dengan pusat gravitasi. Jika tidak, pesawat akan terlempar dengan keras.

Yang jadi pertanyaan, bagaimana jika pesawat mendarat dengan roda depan terlebih dahulu?

Jawabannya, pesawat akan mengalami patah as roda atau, lebih seramnya lagi, pesawat bisa saja terhempas dengan keras saat melakukan pendaratan.

Pesawat Harus Menggunakan Roda Pendaratan Utama

Ilustrasi roda pesawat. Foto: Shutter Stock

Sesuai dengan aspek keselamatan penerbangan, pesawat harus melakukan pendaratan dengan menggunakan main gear atau roda pendaratan utama. Sebab, saat hendak mendarat, pesawat terbang akan menggunakan flap yang ada di sayap pesawat untuk menambah lift saat take-off atau drag saat landing.

Sudut defleksi flap pada umumnya bervariasi, mulai dari 5 derajat, 10 derajat, 15 derajat, 20 derajat, dan 40 derajat, bergantung tipe pesawat terbang.

Sebagai contoh, pesawat Boeing 737-800 akan menggunakan flap 40 saat ingin mendaratkan di pesawat.

Pesawat Boeing 737 MAX sekembalinya dari penerbangan evaluasi di Boeing Field di Seattle, Washington, AA, (30/11). Foto: Mike Siegel/Pool via REUTERS

Bobot pendaratan juga dapat memengaruhi pengaturan flap, dengan bobot yang lebih berat membutuhkan pendekatan yang lebih tinggi dan kecepatan pendaratan yang meningkat.

Maskapai penerbangan lebih memilih untuk menggunakan flap 30 karena mengurangi beban pada flap, sehingga memperpanjang umurnya.

Biasanya, flap 40 hanya pernah digunakan di landasan pacu pendek dan bandara dengan jalur pendaratan yang curam.

Selain itu, bahan bakar ternyata juga menyumbang berat pesawat yang tentu akan memberi tekanan pada roda pendaratan. Untuk itulah, pilot akan membuang bahan bakar untuk mengurangi berat pesawat dalam keadaan darurat.

Hidung Pesawat Akan Dinaikkan Saat Mendarat

Ilustrasi pesawat Wings Air yang tengah mengudara Foto: Dok. Wings Air

Selain itu, untuk mengurangi tekanan yang diberikan pada roda utama pesawat, pilot akan menjaga hidung pesawat tetap berada ke atas sebelum menurunkannya.

Dengan hidung ke atas, main gear akan menyentuh landasan terlebih dahulu sebelum nose gear.

Lantas, bagaimana jika nose gear yang mendarat terlebih dahulu? Pesawat kemungkinan besar akan mengalami kecelakaan.

Insiden pesawat yang mendarat dengan nose gear terlebih dahulu pernah terjadi pada maskapai Southwest Airlines penerbangan 345 pada 22 Juli 2013 silam.

Pesawat kargo Boeing 757-200 yang dioperasikan oleh DHL melakukan pendaratan darurat sebelum tergelincir dari landasan pacu dan terbelah, di Alajuela, Kosta Rika, Kamis (7/4/2022). Foto: Mayela Lopez/REUTERS

Pesawat yang terbang dari Bandara Internasional Nashville (BNA) ke Bandara LaGuardia (LGN) ini membuat pesawat tergelincir di tengah-tengah landasan. Bagian depan roda pesawat hancur karena tidak dapat menerima beban dari pesawat.

Penyelidikan insiden selanjutnya oleh Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) mengungkapkan bahwa kapten telah mengubah pengaturan flap dari 30 derajat menjadi 40 derajat, 56 detik sebelum mendarat.