kumparan
11 Januari 2018 8:35

Mengenal Noken: Tas Buatan Mama dari Bumi Cendrawasih

Noken, tas unik dari Papua yang dipakai di kepala
Noken, tas unik dari Papua yang dipakai di kepala (Foto: Instagram @anakhitspapua)
Mungkin sebagian dari kamu masih asing mendengar Noken, ya? Nyatanya, Noken telah diakui UNESCO sejak 4 Desember 2012 lalu. Tidak banyak yang tahu kalau Noken merupakan sebuah tas asal Papua, yang dipakai di atas kepala.
ADVERTISEMENT
Loading Instagram...
Walaupun Noken berbentuk tas, namun masyarakat Papua tak menyebut Noken sebagai tas karena bahan, jenis, model maupun bentuk pun berbeda dari yang diproduksi pabrik. Bagi masyarakat Papua, Noken dapat diartikan sebagai kerajinan tangan yang sudah bernorma, beradat, berbudaya dan beretika dari masa leluhur hingga sekarang.
Noken sendiri sudah ada sejak bertahun-tahun lamanya. Ada 250 suku di Papua yang mengenal dan mengenakan Noken dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan masyarakat Papua pun tak lepas dari Noken, kemanapun mereka pergi pasti Noken selalu dibawa.
Loading Instagram...
Noken dipakai di atas kepala yang mengarah ke bagian punggung dan dada.
Noken juga menjadi kebudayaan yang dikerjakan secara turun-temurun sehingga tak jelas bagaimana Noken berkembang di Papua. Bahkan, dulu ada anggapan kalau belum bisa membuat Noken, maka belum dianggap sebagai wanita dewasa.
ADVERTISEMENT
Tak hanya itu Noken juga dimaknai sebagai 'rumah berjalan' karena berisi segala kebutuhan. Noken juga dianggap sebagai simbol kesuburan perempuan, kehidupan yang baik dan perdamaian.
Loading Instagram...
Fungsi sehari-hari Noken adalah untuk membawa hasil kebun, hasil laut, kayu, sampai belanjaan. Noken juga dapat dipakai sebagai tutup kepala atau badan.
Noken juga memiliki beberapa sebutan misalnya di Hugula yang disebut Su, di Dani disebut Jum, di Yali disebut Sum, di Asmat disebut Ese dan lain sebagainya.
Di berbagai suku Papua, Noken menunjukan status sosial pemakainya. Orang terkemuka dalam masyarakat biasanya memakai Noken dengan pola dan hiasan khusus.
Noken sendiri dibuat oleh wanita atau mama-mama Papua yang telah berusia lanjut yang disebut "Mama Noken". Namun, di Suku Mee, Noken dikerjakan kaum laki-laki dan dinamakan Meuwodide.
ADVERTISEMENT
Loading Instagram...
Noken dibuat dari serat pohon, kulit kayu, daun pandan dan rumput rawa. Bahan baku itu yang kemudian digunakan untuk merajut. Kemudian bahan dianyam dengan berbagai pola yang menarik dan memiliki makna.
Namun, seiring perkembangan zaman, Noken mulai ditinggalkan dan tidak lagi digunakan dalam keseharian. Kemajuan teknologi, kesulitan mendapatkan bahan, proses pembuatan yang dianggap sulit dan membutuhkan waktu yang panjang, hingga tas modern yang memiliki fungsi sama, membuat Noken kini makin ditinggalkan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan