kumparan
search-gray
Food & Travel17 Februari 2018 12:12

Mengenal Pondok Pesantren Pertama Cheng Hoo di Banyuwangi

Konten Redaksi kumparan
Video
Keberadaan Masjid Cheng Hoo di berbagai kota di Indonesia menjadi catatan sejarah. Ada sekitar sepuluh Masjid Cheng Hoo yang telah dibangun sebagai bentuk penghormatan pada sang laksamana asal Tiongkok yang pernah singgah dan menyebarkan agama Islam di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Dari beberapa Masjid Cheng Hoo yang tersebar di Indonesia itu, hanya ada satu masjid yang sekaligus memiliki pondok pesantren (ponpes). Masjid dan ponpes itu berada di Banyuwangi, Jawa Timur. Namanya Pondok Pesantren Adz-Dzikra Muhammad Cheng Hoo.
Masjid Cheng Hoo Banyuwangi
Masjid Cheng Hoo Banyuwangi. (Foto: Sari Kusuma Dewi/kumparan)
“Boleh dikatakan bahwa masjid kita ini adalah Masjid Cheng Hoo yang ke-10 di Indonesia dan pondok (pesantren) kita ini adalah pondok (pesantren) pertama di Indonesia,” ujar Ketua Yayasan Masjid Adz-Dzikra Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi Ayub Hidayat kepada kumparan (kumparan.com), Jumat (10/11/17).
Sejak awal diresmikan pada 26 November 2016 hingga sekarang, pria yang kerap disapa Bang Ayub ini mengatakan bahwa terdapat 53 santri yang tinggal di ponpes. Terdiri dari 23 santri perempuan dan 30 santri laki-laki.
ADVERTISEMENT
Para santri yang tinggal di sini tak hanya berasal dari Banyuwangi. Beberapa dari mereka juga ada yang datang dari luar daerah seperti Bali, Kalimantan, Cirebon, Padang, Madura, dan Jember.
Lalu, kegiatan apa saja yang mereka lakukan di ponpes?
Masjid Cheng Hoo Banyuwangi
Salat Jumat di Masjid Cheng Hoo Banyuwangi. (Foto: Sari Kusuma Dewi/kumparan)
Sama seperti ponpes pada umumnya, para santri yang tinggal di sini harus belajar mandiri --karena jauh dari orang tua-- dan yang terpenting adalah mendalami ajaran agama.
Mengaji adalah salah satu kegiatan rutin para santri setiap harinya. Selain itu, membaca kitab kuning juga menjadi fokus kegiatan yang dilakukan di ponpes.
Kitab kuning atau kitab gundul merupakan kitab tradisional yang berisi pelajaran-pelajaran agama Islam. Karena disebut sebagai kitab gundul, kitab ini tidak memiliki harakat (tanda bunyi) alias berisi tulisan arab gundul, tak seperti Al-Quran.
ADVERTISEMENT
Jika di ponpes lain, membaca kitab kuning ditempuh selama bertahun-tahun. Di ponpes ini terdapat metode cepat yang membuat santri harus bisa menyelesaikan kitab kuning dalam kurun waktu enam bulan.
“Dengan perkembangan metode yang kita ajarkan di sini salah satunya adalah metode cepat dengan membaca kitab kuning. Ini rutin kita lakukan setiap hari dan alhamdulillah metode ini diterima oleh semua,” kata Bang Ayub.
Masjid Cheng Hoo Banyuwangi
Masjid Cheng Hoo Banyuwangi. (Foto: Sari Kusuma Dewi/kumparan)
Bang Ayub menambahkan, metode cepat membaca kitab kuning terus dikembangkan di Ponpes Adz-Dzikra Muhammad Cheng Hoo. Karena, metode itu dapat mempermudah para santri menyelesaikan membaca Al-Quran.
Dialog dengan para santri menjadi tugas para ustaz dan bagian dari proses belajar mengajar. Sehingga para santri memahami isi dari kitab kuning, bukan sekadar menghapalnya.
ADVERTISEMENT
Para pengajar di ponpes itu pun membagi dua bagian untuk mereka yang belajar kitab kuning ataupun mengaji.
“Untuk anak kecil dari TK, PAUD, dan SD mulai mengaji dari setelah asar hingga magrib. Untuk anak-anak santri yang ada di sini dari SMP hingga kuliah dilakukan setiap habis magrib sampai pukul 20.00 WIB,” jelas Bang Ayub.
Masjid Cheng Hoo Banyuwangi
Toilet di Masjid Cheng Hoo Banyuwangi. (Foto: Sari Kusuma Dewi/kumparan)
Di samping mendalami agama Islam, para santri di sini juga diajarkan untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan masjid maupun ponpes.
Hal itu diakui Bang Ayub karena untuk melatih para santri saat sudah selesai pendidikan di ponpes dan mereka harus terjun langsung ke masyarakat.
“Minggu kemarin kita dapat juara 1 sekabupaten Banyuwangi tentang kebersihan. Dapat dilihat toilet kita bersih. Alhamdulillah dapat juara 1,” pungkas Bang Ayub berbangga hati.
Masjid Cheng Hoo Banyuwangi
Masjid Cheng Hoo Banyuwangi. (Foto: Sari Kusuma Dewi/kumparan)
Meski baru berusia selama satu tahun, para pengurus dan jemaah pun terus mengembangkan Ponpes Adz-Dzikra Muhammad Cheng Hoo. Salah satunya dengan membangun tempat tinggal untuk calon penghuni baru ponpes.
ADVERTISEMENT
“Kita semua sepakat untuk menambah tempat tinggal santri. Mudah-mudahan bisa segera selesai sehingga santri-santri yang (masuk) belakangan bisa tempati (ponpes). Yang jelas (ponpes) sudah tidak mencukupi,” tutur pria berusia 52 tahun itu.
Ponpes Pertama Cheng Hoo di Banyuwangi
Ponpes Pertama Cheng Hoo di Banyuwangi. (Foto: Sari Kusuma Dewi/kumparan)
Di samping pengembangan yang terus dilakukan, tempat ini belum mempunyai wadah pendidikan formal sendiri untuk para santri. Sampai saat ini, mereka mengenyam pendidikan formal di luar ponpes.
“Di sini pendidikan formalnya ada TK dan PAUD. Mudah-mudahan ke depannya kita bisa nambah lagi untuk (membangun) SD, SMP, sampai SMA. Sehingga para santri tidak perlu keluar (sekolah di luar -red),” tutup Bang Ayub.
Masjid Cheng Hoo ke-10 di Banyuwangi
Masjid Cheng Hoo ke-10 di Banyuwangi. (Foto: Muhammad Faisal Nu'man/kumparan)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white