Food & Travel
·
11 Oktober 2020 8:07

Mengenal Suku Chimbu, Manusia Kerangka dari Papua Nugini

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Mengenal Suku Chimbu, Manusia Kerangka dari Papua Nugini (197020)
searchPerbesar
Suku tengkorak yang ada di Papua Nugini Foto: Shutter Stock
Selain Suku Asaro yang dijuluki 'manusia lumpur' karena topeng tanah liat yang mereka gunakan, Papua Nugini juga punya suku yang tak kalah uniknya.
ADVERTISEMENT
Ialah Suku Chimbu, yang terkenal karena punya tradisi unik mengecat seluruh tubuhnya layaknya kerangka manusia. Suku ini dijuluki sebagai 'manusia kerangka' dari Papua Nugini.
Dilansir Ripley, sebelumnya tak banyak informasi mengenai keberadaan Suku Chimbu karena mereka menetap di sebuah dataran tinggi terpencil di Papua Nugini.
Bahkan mereka baru pertama kali berkontak dengan dunia barat pada 1934, ketika penjelajah Australia Michael Leahy dan James Taylor bertemu mereka dalam perjalanan untuk pemetaan.
Suku ini punya kebiasaan nyentrik, yaitu mengecat tubuh dengan motif kerangka. Konon, tradisi ini sudah dilakukan sejak lama dan sedari dahulu kala mereka sengaja berdandan seperti itu untuk mengintimidasi musuh.
Mengutip National Geograpchic, Suku Chimbu mengecat dirinya menggunakan material atau bahan-bahan dari alam. Mereka menggunakan tanah liat yang diambil dari sungai. Tanah liat tersebut lalu dicampur dengan air dan abu yang dibakar dari berbagai jenis kayu.
ADVERTISEMENT
"Itu adalah sebuah proses kreatif. Hal ini yang membuatku tertarik dengan bentuk lukisan kerangka di tubuh mereka dan bagaimana mereka bisa bersatu. Itu seperti sebuah puzzle manusia," ungkap fotografer Roberto Falck yang berkunjung ke Desa Chimbu untuk melakukan liputan khusus untuk National Geographic.
Nama Chimbu sendiri berasal dari kata Sim­bu yang berarti terima kasih dalam dialek me­reka. Itu adalah kata-kata yang di­ucapkan orang-orang Chimbu ke­tika per­tama kali bertemu para pen­jelajah Aus­tralia. Hal inilah yang menyebabkan nama Chimbu dikenal hingga sekarang.
Namun, seiring berjalannya waktu dan meningkatknya interaksi dengan wisatawan, mereka mulai memadukan cat tubuh itu dengan tarian. Kini, Suku Chimbu juga bergabung dengan suku lain guna merayakan acara adat Sing Sing.
ADVERTISEMENT
Wisatawan juga dapat menyaksikan pertunjukan bu­daya yang diselenggarakan di perbu­kitan Papua Nugini.
Selain festival bernyanyi yang ada di propinsi Chimbu, ada juga festival lain di Goroka dan Gunung Hagen. Festival Gunung Hagen dimulai pada tahun 1961, sedangkan acara Goroka pertama kali di selenggarakan pada tahun 1957.
Para peneliti layak berterima kasih pada Sing Sing. Berkat ritual ini, pengetahuan tentang Suku Chimbu atau manusia kerangka dapat digali lebih banyak lagi.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)