Mengintip Masyarakat Bali Aga di Desa Tenganan

Ketika membicarakan soal desa adat di Bali, pasti kamu akan berpikir tentang Desa Panglipuran atau Desa Trunyan. Padahal ada banyak desa adat di Bali dengan karakter khasnya masing-masing. Salah satunya adalah Desa Tenganan.
Desa itu merupakan salah satu dari tiga desa Bali Aga atau Bali Asli, selain Desa Trunyan dan Desa Sembiran. Artinya, penduduk desa di sana masih memegang teguh pola hidup sesuai adat kebudayaan Bali. Mulai dari hukum adat yang dianut, bentuk rumah, hingga sistem perkawinan.
Desa Tenganan berada di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Jaraknya 56 km dari Denpasar, sekitar 1,5 jam berkendara. Meski tak begitu jauh dari pusat kota, suasana yang disajikan Tenganan sangat otentik.
Masuk ke kawasan Tenganan, pengunjung akan disambut oleh gerbang sempit dengan loket di sampingnya. Namun, kamu tidak diwajibkan membeli tiket di sana. Pengunjung diharapkan menyumbang donasi seikhlasnya untuk uang kebersihan Tenganan.
Suasana sejuk, asri, sekaligus tentram langsung menyeruak begitu kamu masuk ke desa seluas 10 kilometer persegi itu. Deretan rumah bermodel sama, sebagian beratap daun rumbi, diselingi pohon-pohon hijau. Tampak sebagian perempuan di sana masih memakai kemben dan kain gringsing sebagai bawahannya.
Kain gringsing memang salah satu komoditas utama warga Tenganan. Ditenun di depan rumah masing-masing, gringsing juga merupakan kebanggaan bagi penduduk setempat. Kain itu dipercaya punya kekuatan magis, yakni dapat melindungi dari kekuatan jahat dan penyakit.
Warga Tenganan juga punya ritual unik untuk menghormati Dewa Indra, yakni Perang Pandan atau Megeret Pandan. Berlangsung selama dua hari, semua warga akan memakai pakaian tradisional terbaik untuk menonton ritual tersebut. Dua pemuda yang terpilih diberi seikat daun pandan dan tameng untuk saling menyerang.
Sementara itu, tradisi untuk perempuan dinamakan Ngayun Damar. Sebanyak delapan perempuan muda yang belum baligh dipilih untuk menaiki ayunan setinggi lima meter. Bukan sembarang ayunan, tetapi merupakan warisan nenek moyang yang harus diupacarai dulu sebelum dimainkan.
Berminat mengunjungi Desa Tenganan?
