Kumparan Logo

Mengunjungi Piaynemo, Spot Paling Instagrammable di Raja Ampat

kumparanTRAVELverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Speedboat sedang merapat ke pulau Piaynemo. Foto: Adhie Ichsan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Speedboat sedang merapat ke pulau Piaynemo. Foto: Adhie Ichsan/kumparan

Berkunjung ke Raja Ampat, Papua Barat, belum lengkap jika tak mampir ke Piaynemo di Distrik Waigeo Barat Kepulauan. Di sinilah spot paling instagrammable di Raja Ampat.

Berkembangnya era digital dan media sosial dalam satu dekade terakhir turut membantu berkembangnya tempat-tempat wisata di berbagai belahan dunia. Sebut saja Desa Gamcheon di Korea, Kuil Fushimi Inari di Kyoto hingga Machu Piccu di Peru, yang sering kita lihat berseliweran di feed Instagram, termasuk Piaynemo yang juga tergambar di uang kertas Rp 100 ribu.

Butuh waktu sekitar 1 jam 30 menit dari Waisai ke Piaynemo menggunakan speedboat. Jika cuaca sedang bagus, bisa lebih cepat. Sepanjang perjalanan kita disuguhi pemandangan pulau-pulau kecil dan batuan karst dengan air laut di sekitar yang tenang dan jernih berwarna biru.

Buat sebagian orang yang sudah dua tahun di rumah aja saat pandemi, disuguhkan pemandangan seperti itu seperti meminum sebotol air dingin saat kehausan di tengah gurun. Vitamin untuk jiwa dan pikiran.

Gugusan pulau di Piaynemo, Raja Ampat, Papua Barat. Foto: Adhie Ichsan/kumparan

Sama seperti tempat wisata lainnya, Raja Ampat juga mengalami dampak pandemi yang menghentikan sementara roda perekonomian. Namun seiring dengan status zona hijau COVID-19, Raja Ampat dapat membangkitkan kembali pariwisata dengan sejumlah aturan protokol kesehatan.

Ada hikmah di balik keterpurukan Raja Ampat karena pandemi. Menurut Vice President Asia-Pacific Field Division Conservation International, Mark Erdman, ekologi di Raja Ampat pun membaik selama beberapa bulan belakangan. Tingkat underwater noise, atau suara kebisingan dari kapal-kapal yang biasa mengangkut wisatawan berkurang. Hal tersebut membuat hewan-hewan laut yang sebelumnya bersembunyi pun muncul kembali.

"Kita lihat terumbu karang dan mega fauna di Raja Ampat justru diberikan istirahat pada saat ada masa COVID-19. Di beberapa dive site yang dulu menjadi sangat crowded justru terumbu karang tumbuh dengan baik tanpa adanya divers atau snorkelers," katanya pada Juni lalu.

Pengunjung bisa check-in dengan aplikasi Peduli Lindungi di pintu masuk. Foto: Adhie Ichsan/kumparan
Pintu masuk Geosite Piaynemo. Foto: Adhie Ichsan/kumparan.

Protokol Kesehatan di Raja Ampat

Ketika kumparan mengunjungi Piaynemo pada Selasa (26/10) siang, pengunjung bisa check-in melalui aplikasi Peduli Lindungi dan menunjukkan sertifikat vaksin. Hal ini sesuai Surat Edaran (SE) nomor 440/377/Setda tentang pelaksanaan Vaksinasi sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19 di Kabupaten Raja Ampat resmi berlaku pada 3 Juli 2021. Di beberapa tempat menuju pintu masuk disediakan toilet dan tempat cuci tangan serta hand sanitizer.

Untuk menuju Top View Piaynemo, kamu harus mempersiapkan stamina, dan disarankan membawa air minum. Ada sekitar 320 anak tangga yang harus dinaiki untuk mendapatkan pemandangan terbaik. Namun kamu enggak perlu khawatir, karena ada beberapa titik pemberhentian untuk beristirahat atau mengambil napas sejenak.

Di bagian kanan dan kiri tangga, tumbuh pepohonan rindang. Beberapa bagian batang pohon menyembul di lantai tangga kayu. Menurut pemandu wisata kami, batang pohon-pohon tersebut memang dibiarkan tumbuh alami tanpa ditebang untuk menjaga kelestarian alam.

Pengunjung harus menaiki 320 anak tangga menuju puncak Piaynemo. Foto: Adhie Ichsan/kumparan
Pengunjung bisa beristirahat di titik pemberhentian. Foto: Adhie Ichsan/kumparan

Begitu sampai di posisi puncak, peluh keringat yang menetes sepadan dengan pemandangan yang tersaji di depan mata. Ooh.. Surga dunia. Nama Piaynemo berasal dari bahasa Biak, yang berarti sambungan antara kepala dan gagang tombak bertali yang digunakan untuk menangkap ikan. Orang lokal menyebutnya harpun. Jika dilihat di peta, bentuk gugusan pulaunya memanjang seperti senjata dan terbagi dalam tiga bagian.

Bentuk pulau Paynemo seperti harpun. Foto: Google Maps
Keindahan dari puncak Piaynemo. Foto: Adhie Ichsan/kumparan
Pemandangan Piaynemo yang menjadi vitamin bagi jiwa dan pikiran. Foto: Adhie Ichsan/kumparan

Sebagian pengunjung buru-buru mengeluarkan gadget dan kamera masing-masing. Mencari posisi terbaik untuk mengambil gambar dan direkam ke dalam memori. Kamu juga bisa langsung update di media sosial karena jaringan internet di puncak Piaynemo cukup kuat untuk salah satu provider.

Setelah puas menikmati pemandangan dari puncak Piaynemo, kami memanjat tebing karang menuju ke puncak Telaga Bintang. View-nya nggak kalah keren tapi aksesnya lebih sulit. Tunggu ceritanya di kumparan!