kumparan
11 November 2019 11:03

Menikmati Karya Seni Berlatar Deburan Ombak di Sculpture by the Sea

Karya seni di Sculpture by the Sea. Foto: Toshiko/kumparan
Salah satu keunikan dalam karya seni adalah ketika kita menikmatinya. Setiap orang mampu menginterpretasikan karya seni dengan caranya sendiri.
ADVERTISEMENT
Biasanya karya seni juga agak ringkih. Baik lukisan atau patung, biasanya tidak untuk dipegang. Tak heran kalau biasanya karya seni ditampilkan di sebuah galeri.
Namun, beda dengan konsep Sculpture by the Sea. Ajang pameran patung terbesar gratis untuk publik di dunia ini menampilkan karya terbaiknya di pinggir Pantai Bondi. Tahun ini, Sculpture by the Sea dihelat pada 24 Oktober - 10 November 2019.
Para penikmatnya bisa menikmati berbagai patung dari negara-negara partisipan sambil menyusuri Pantai Bondi, Australia.
Sculpture by the Sea. Foto: Toshiko/kumparan
Berdasarkan pemantauan kumparan ketika datang ke pameran tersebut (3/11) dalam famtrip Destination New South Wales, ada juga kok, pengunjung yang sambil jogging atau sekadar membawa peliharaan berjalan-jalan. Terlihat juga keluarga muda yang membawa anaknya untuk menyusuri instalasi patung ini.
ADVERTISEMENT
David Handley AM, Founding Director Sculpture by the Sea, mengungkapkan bahwa tahun 2019 adalah tahun ke-23 perhelatan Sculpture by the Sea. Ada 140 artist dari 18 negara dengan 111 patung karya mereka yang dipajang sekitar dua kilometer di sisi pantai.
David Handley AM, Founding Director Sculpture by the Sea. Foto: Toshiko/kumparan
"Kita pernah dapat partisipan dari Indonesia. Semua orang bisa apply dan kita akan seleksi. Saya tidak begitu ingat, mungkin ada dua atau tiga partisipan dari Indonesia yang apply di tahun ini, namun mereka tidak berhasil masuk ke tahapan selanjutnya. Ada 500 orang yang apply tahun ini," ungkap David.
Sebelumnya ada dua artist Indonesia yang berpartisipasi. Ada I Wayan Upadana di Sculpture by the Sea, Cottsloe, tahun 2018 dan Eko Bambang Wisnu di Bondi, tahun 2013.
ADVERTISEMENT
Sejauh perjalanan kami menyusuri Sculpture by the Sea, ada beberapa karya yang menarik perhatian. Misalnya ada Succah by the Sea yang menampilkan instalasi bak rumah Yahudi.
Succah by the Sea. Foto: Toshiko/kumparan
Berdiri sesaat di dalamnya bikin kamu merasakan sentuhan Yahudi yang begitu kentara. Mereka hanya meletakkan beberapa batu, sehingga membentuk rumah kecil. Namun, rasanya bangunan tersebut sangatlah kokoh.
Beberapa artist juga secara eksplisit menyuarakan aspirasi mereka terhadap isu global warming. Misalnya saja A Choir oleh Jane Gillings. Menurutnya, sebagaimana bumi semakin panas, begitu pun manusianya. Maka itu, kita mencoba untuk mendinginkan diri dan ikut berkontribusi dalam berkurangnya sistem energi.
A Choir oleh Jane Gillings. Foto: Toshiko/kumparan
Ada pula yang menyuarakan aspirasi politiknya, seperti Empires Dismantled oleh Richard Byrnes. Dalam katalognya, Richard mengungkap bahwa karyanya adalah hasil observasi dari standar dan institusi dalam kultur, edukasi, politik, dan lainnya.
Empires Dismantled oleh Richard Byrnes Foto: Toshiko/kumparan
Viewfinder karya Joel Adler juga patut diapresiasi. Karya laki-laki berusia 26 tahun ini bahkan didapuk sebagai yang paling Instagramable oleh Vogue Australia.
Viewfinder karya Joel Adler. Foto: Toshiko/kumparan
“Reflections can create new perspective, tulisnya pada katalog pameran tersebut.
ADVERTISEMENT
Viewfinder ini menampilkan hasil refleksi kaca yang diarahkan ke laut. Dengan demikian, kita bisa melihat deburan ombak sedekat mungkin. Mereka juga mengatur audionya, sehingga suara ombak terdengar lebih jelas. Sungguh menenangkan sekaligus mengagumkan.
Tak murah untuk mendatangkan karya seni ini. Menurut David, rata-rata biaya yang diperlukan untuk membawa hingga memasang karya seni di Sculpture by the Sea adalah 18 ribu dolar Australia atau sekitar Rp 180 juta.
Setelah 23 tahun pun, David mengaku bahwa dirinya dan tim masih kesulitan untuk mengamankan dana yang diperlukan.
“Memang agak sulit untuk menjadi artist. Namun, di sini kami juga membuka untuk sponsorship agar karya seni mereka bisa dipasang di sini, karena tidak murah. Harus membangunnya, kemudian membawanya ke sini, sangat kerja keras,” ungkapnya.
Sculpture by the Sea. Foto: Toshiko/kumparan
Karya seni di Sculpture by the Sea. Foto: Toshiko/kumparan
Dalam katalog, selain penjelasan soal karya seni, kamu bisa melihat sponsor karya seni itu juga. Kamu pun bisa melihat harganya, karena kebanyakan karya seni dalam Sculpture by the Sea itu dijual untuk umum.
ADVERTISEMENT
Sculpture by the Sea bisa jadi konsep yang sangat menarik untuk menghadirkan sebuah karya seni. Kendati medannya sangat sulit karena outdoor dan di pinggir laut, instalasi seni seperti ini bisa dinikmati siapa saja.
Jadi, pengunjung pun tak harus berpakaian rapi, sambil jogging ringan pun bisa. Menarik!
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan