Kumparan Logo

Menengok Lokomotif Warisan Kolonial di Museum Kereta Api Ambarawa

kumparanTRAVELverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Koleksi Museum Kereta Api Ambarawa. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Koleksi Museum Kereta Api Ambarawa. (Foto: Wikimedia Commons)

Sejarah bangsa Indonesia rasanya tak bisa dipisahkan dengan perkembangan kereta api di Nusantara. Moda transportasi itu turut menyumbang kontribusi penting, mulai dari mengangkut hasil bumi, warga sipil, hingga mengirimkan pasukan militer untuk meredam pemberontakan rakyat kepada kolonial. Ya, kereta api adalah warisan pemerintah Hindia Belanda.

Museum Kereta Api Ambarawa adalah contoh jelas peninggalan tersebut. Museum itu adalah bekas stasiun kereta api yang dibangun pada 1873 atas perintah Raja Willem I. Dilansir dari situs PT KAI, stasiun yang dulu dikenal sebagai Stasiun Willem I itu dulu difungsikan untuk mengangkut komoditas ekspor dan militer ke Semarang.

instagram embed

Kemudian pada 6 Oktober 1976, stasiun itu dialihkan menjadi menjadi museum oleh Gubernur Jawa Tengah saat itu, Supardjo Rustam. Sebab lokomotif uap mulai tergerus masa dan kemunculan moda transportasi lain yang dianggap lebih efiesien.

Namun sejarah lokomotif harus tetap dilestarikan. Akhirnya, Museum Kereta Api Ambarawa yang berada di kompleks Stasiun Ambarawa, Jawa Tengah, didirikan.

instagram embed

Museum Kereta Api Ambarawa mengkoleksi 26 lokomotif uap dan 4 lokomotif diesel dari era kolonial hingga pra kemerdekaan. Di antaranya terdapat tiga lokomotif uap yang dapat dioperasikan menjadi kereta wisata hingga kini. Meski telah berusia ratusan tahun, kereta berbahan bakar kayu itu dapat membawamu melalui rute pendek.

Jalur kereta wisata yang ditawarkan adalah Ambawara-Bendono dan Ambaraw Tuntang. Melintasi jalur Bendono, kamu akan dibawa menikmati pemandangan elok Gunung Merbabu, Bukit Telomoyo, dan Rawa Pening yang menyejukkan mata. Jarak yang ditempuh sekitar 9 kilometer.

instagram embed

Sementara itu untuk jalur menuju Stasiun Tuntang, jaraknya lebih pendek yakni hanya 7 kilometer. Melewati jalur ini, kamu juga akan disuguhi panorama pegunungan dan danau Rawa Pening.

Kereta wisata rute Ambarawa-Tuntang hanya bisa dilalui menggunakan lokomotif diesel yang beroperasi tiap akhir pekan dan hari libur. Untuk menaikinya kamu bisa membeli tiket reguler yang dipatok Rp 50 ribu per orang.

instagram embed

Kamu juga bisa naik lokomotif diesel kuno menuju Jalur Ambarawa-Bendono. Rute itu juga menyediakan lokomotif uap bergerigi yang berusia ratusan tahun. Lokomotif uap bisa disewa secara berkelompok dengan kapasitas per gerbong 40 orang. Satu gerbong disewakan Rp 10 juta. Biasanya disewa keluarga besar atau liburan perusahaan.

instagram embed

Tiket masuk Museum Kereta Api Ambarawa sendiri dipatok Rp 5 ribu untuk anak-anak dan Rp 10 ribu untuk dewasa. Kereta wisata reguler hanya berangkat dua kali sehari tiap akhir pekan. Dijamin perjalananmu menjajal kereta kuno dari era kolonial Belanda akan menyenangkan. Kapan lagi bisa merasakan sensasi naik gerbong lawas selagi plesiran?

Yuk agendakan!