Menyusuri Pasar Seni Ubud, Surga Oleh-oleh di Bali

6 November 2018 7:37 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Pasar Seni Ubud, Bali (Foto: Retno Wulandari / kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pasar Seni Ubud, Bali (Foto: Retno Wulandari / kumparan)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Pada Kamis (1/11), tim kumparanTRAVEL memutuskan untuk melajukan kendaraan ke salah satu pasar yang ada di Bali. Kali ini kami berangkat menuju Pasar Seni Ubud yang berlokasi di Ubud.
ADVERTISEMENT
Ya, pasar yang menjadi lokasi syuting Eat, Pray, Love ini tak hanya terkenal di mata wisatawan lokal saja. Tapi, turis asing pun kerap kali memadatinya.
Benar saja, pertama kali kami menginjakan kaki di sini, terlihat banyak wisatawan berlalu-lalang. Tua, muda, laki-laki, perempuan, dari Eropa, Timur Tengah hingga Asia, semua berkumpul untuk belanja atau sekadar menyegarkan mata.
Sejauh mata memandang terlihat kios-kios pedagang yang berjualan aneka ragam cenderamata. Mulai dari lukisan, sandal, tikar, cangkir, kipas, kain khas Bali, kaus, celana, tas, patung, aroma terapi, hingga buah-buahan. Pasar Seni Ubud bak surga bagi para pencari cenderamata.
Para pedagang juga berlomba menjajakan dagangannya agar laris manis habis dibeli. Mereka mengeluarkan berbagai 'jurus' untuk memikat pembeli agar tertarik untuk memborong.
ADVERTISEMENT
Walau dijual di pasar, tapi jangan salah sangka. Sebab, barang di sini memiliki kualitas yang bagus, harga yang ditawarkan juga masih bisa turun.
Dalam beberapa kesempatan, ada pedagang yang mengakui bila mereka memberikan harga yang lebih tinggi bila turis asing yang membeli. Dan sebaliknya, jika yang membeli orang lokal, maka diberi harga jauh lebih murah.
Seperti kami yang bisa mendapatkan dua kain khas Bali dengan harga Rp 50 ribu saja. Sementara turis asing diberikan harga Rp 75 hingga Rp 100 ribu per kain.
Umumnya, antara kios yang satu dengan yang lain memang mematok harga yang tak jauh berbeda. Barang yang dijual hampir seragam, tapi tak serupa.
Selama kaki melangkah menyusuri Pasar Seni Ubud, terdengar pula pembeli dan penjual yang bernegosiasi soal harga. Tak jarang, bila harga kurang sreg pembeli akan pergi mencari toko lain.
ADVERTISEMENT
Yang menjadi catatan, kamu harus rela membagi jalan dengan pengendara motor. Kejadian ini sering kami alami. Sedang santai berjalan dan melihat-lihat, tiba-tiba kami harus melipir lantaran motor hendak lewat, padahal jalanannya pun tak terlalu lebar.
Belum lagi saat berada di depan pasar, ada beberapa pedagang seperti memaksa kami untuk membeli dagangannya. Pernah juga saat kami tidak sreg dengan harga yang ditawarkan, sang penjual langsung menggurutu dan mengeluarkan wajah masamnya.
Meskipun demikian, Pasar Seni Ubud tetap menjadi salah satu destinasi yang bisa kamu kunjungi saat berada di Bali. Keunikannya membuat kamu serasa mendapatkan pengalaman baru di sana.