Kumparan Logo

Menyusuri Taman Kehati AQUA Klaten, Ruang Hijau di Tepian Sungai Pusur

kumparanTRAVELverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Taman Kehati Klaten. Foto: Dok. AQUA
zoom-in-whitePerbesar
Taman Kehati Klaten. Foto: Dok. AQUA

Udara terasa lebih sejuk saat memasuki kawasan Taman Kehati AQUA Klaten di Jawa Tengah. Suara gemericik air Sungai Pusur terdengar bersahut dengan kicau burung dari balik rimbunnya pepohonan. Sulit membayangkan, kawasan hijau seluas 4,6 hektare ini dulunya merupakan area transisi sawah dan ladang.

Di tempat inilah PT Tirta Investama atau AQUA membangun ruang konservasi yang bukan hanya menjadi paru-paru hijau, tetapi juga laboratorium hidup untuk belajar tentang alam.

“Kalau tadi dari sawah panas, di sini terasa lebih adem ya? Itu kontribusi pohon memang sangat signifikan,” ujar Koordinator Pengelola Taman Kehati AQUA Klaten, Nanda Satya Nugraha, dalam acara media trip "Kaum Adem" AQUA yang digelar belum lama ini.

Taman Kehati Klaten. Foto: Dok. AQUA

Di sepanjang jalur setapak, hampir setiap pohon memiliki label biru kecil yang menempel di batangnya. Label itu disebut sebagai “KTP pohon”.

Bukan sekadar penanda nama, melainkan identitas lengkap yang mencatat diameter batang, tinggi pohon, hingga data biomassa untuk menghitung kemampuan serapan karbon.

Total ada 1.517 pohon dari 151 spesies yang tumbuh di kawasan ini. Mulai dari tanaman lokal hingga pohon-pohon konservasi yang sengaja ditanam untuk membangun ekosistem baru.

Taman Kehati ini berada di kawasan riparian Sungai Pusur yang terhubung langsung dengan wilayah hulu lereng Merapi hingga aliran sungai di kawasan hilir. Karena itu, kawasan ini tak hanya berfungsi menjaga keanekaragaman hayati, tetapi juga mendukung pengelolaan sumber daya air terpadu.

Taman Kehati Klaten. Foto: Dok. AQUA

Pengunjung yang datang tak hanya diajak menikmati suasana hijau. Kawasan ini juga menjadi tempat belajar terbuka bagi siswa sekolah hingga akademisi.

Anak-anak diajarkan mengenali pohon lewat bentuk batang dan daun, mengamati burung, reptil, amfibi, hingga mempelajari kualitas sungai menggunakan metode biotilik.

Di salah satu sudut taman, terdapat laboratorium biotilik sederhana yang digunakan untuk memantau kesehatan sungai melalui keberadaan serangga makroinvertebrata. Pengunjung bahkan bisa mencoba langsung menyaring organisme kecil dari sungai menggunakan alat sederhana seperti jaring.

“Ini dibuat supaya anak-anak bisa praktik sendiri di rumah. Jadi mereka bisa lebih peka terhadap kondisi lingkungan,” lanjut Nanda.

Laboratorium Biotilik AQUA di Taman Kehati, Klaten Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Dari kawasan itu, aliran Sungai Pusur tampak jernih mengalir di antara bebatuan. Sesekali, wisatawan river tubing melintas mengikuti arus sungai.

Namun di balik pemandangan tenang tersebut, pengelola menyebut menjaga sungai tetap bersih bukan perkara mudah. Sampah rumah tangga hingga limbah aktivitas warga masih menjadi tantangan yang terus dipantau bersama masyarakat dan pemerintah daerah.

Rumah Sumber 2 AQUA di Taman Kehati, Klaten Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Karena itu, berbagai program pendampingan dijalankan, mulai dari pengelolaan sampah desa, pertanian sehat, hingga pemanfaatan limbah ternak menjadi biogas agar tidak mencemari sungai.

Menariknya, Taman Kehati ini juga menjadi habitat alami berbagai satwa liar yang datang sendiri seiring terbentuknya ekosistem. Burung cekakak jawa dan cekakak sungai kerap terlihat saat sore hari. Bahkan ular piton pernah ditemukan di kawasan tersebut.

“Satwa-satwa itu datang sendiri, artinya ekosistemnya mulai terbentuk,” ujar pengelola.

Rumah Sumber AQUA

Rumah Sumber 1 AQUA di Taman Kehati, Klaten Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Tak jauh dari kawasan taman, terdapat sumber air artesis yang menjadi salah satu sumber air baku AQUA. Air dari dalam tanah itu keluar alami tanpa pompa karena tekanan akuifer pegunungan.

Sebagian sumber air juga didedikasikan untuk kebutuhan masyarakat di lima desa sekitar melalui program akses air bersih.

Bagi AQUA, kawasan ini bukan sekadar area hijau pelengkap operasional perusahaan. Taman Kehati menjadi bagian dari upaya mengembalikan keseimbangan alam, mulai dari menjaga resapan air, konservasi keanekaragaman hayati, hingga edukasi lingkungan bagi masyarakat.

Di tengah isu krisis lingkungan dan berkurangnya ruang hijau, Taman Kehati AQUA Klaten menghadirkan pengalaman berbeda yaitu belajar tentang alam langsung dari alam itu sendiri.