kumparan
Food & Travel25 Januari 2020 14:02

Merapah Indah di Raja Ampat, Papua

Konten Redaksi kumparan
Heritage - Festival Cap Go Meh
Raja Ampat. Foto: Andri Firdiansyah Arifin/kumparan
Raja Ampat, salah satu kawasan di Papua Barat siap menawarkan keindahan pemandangan laut yang berpadu dengan gugusan bukit karst (karang) yang elok dipandang mata setiap Insan yang memandangnya.
ADVERTISEMENT
Tak heran dan berlebih bila banyak yang mengatakan bahwa Raja Ampat adalah serpihan surga yang jatuh ke tanah Papua. Keindahan permukaan dan bawah laut dengan ragam flora dan faunanya yang mempesona membuat Raja Ampat menjadi primadona Wisatawan untuk dijelajahi.
Masih jelas diingatan, pagi itu kedatangan saya di Bandar Udara Domine Eduard Osok, Sorong, Papua disambut oleh awan hitam bergelayut dan gerimis setelah sebelumnya pesawat yang saya tumpangi harus mendarat sejenak di Bandara Udara Internasional Frans Kaisiepo, Biak, Papua dikarenakan cuaca yang kurang bersahabat.
Cap Go Meh, Raja Ampat
Pulau Wayag, Raja Ampat, Papua. Foto: Shutterstock
Setibanya di Bandar Udara Domine Eduard Osok, Sorong, Papua, perjalanan saya pun berlanjut ke penginapan yang berada di tengah kota Sorong. Sedikit di sesalkan, cuaca hari itu diwarnai dengan hujan sehingga saya lebih memilih untuk beristirahat di penginapan guna mempersiapkan diri menyeberang ke pulau Waisai di keesokan harinya.
ADVERTISEMENT
Hari pun berganti, tibalah hari untuk memulai petualangan saya di Raja Ampat, lebih tepatnya petualangan di Waisai dalam rangka mengikuti Festival Pesona Bahari Raja Ampat 2019.
Dari Sorong menuju Waisai, cara satu-satunya adalah dengan menyeberang menggunakan kapal Bahari Express yang waktu penyeberangannya dilayani dua kali dalam satu hari yaitu pukul 09.00 WIT dan pukul 14.00 WIT.
Cap Go Meh, Raja Ampat
Perjalanan menuju Pianemo, Raja Ampat, Papua Barat. Foto: Aria Sankhyaadi/kumparan
Sekali menyeberang, per orang dikenakan biaya sebesar Rp. 125 ribu untuk tiket kelas ekonomi dan Rp 250 ribu untuk tiket kelas VIP. Perbedaannya di sini tentunya terletak pada fasilitas ruangan yang lebih private (tidak diperbolehkan orang lain keluar masuk di ruangan VIP).
Setibanya di pelabuhan Waisai, gerimis kembali menemani saya. Tak perlu menunggu lama, mobil carteran pun telah siap mengantarkan saya ke penginapan yang letaknya bisa dibilang jauh dari pusat Kota Waisai.
ADVERTISEMENT
Kondisi jalan menuju ke sana masih kurang baik, penerangan jalan tidak terlalu banyak, sehingga tidak direkomendasikan bila melakukan perjalanan ke hostel sendirian pada malam hari.
Cap Go Meh, Raja Ampat
Pulau Wayag, Raja Ampat, Papua. Foto: Shutterstock
Hostel yang saya tempati ini unik serta menyenangkan sebab di belakang penginapan terdapat dermaga kecil untuk bersandar kapal, di tiap paginya pun kamu dapat mendengar kicauan burung yang bertengger di pepohonan di sekitar hostel.
Tempat yang cocok untuk memulai petualangan ke beberapa destinasi wisata yang ada di Waisai seperti Piaynemo, Kalibiru, Batu Berbentuk Kelamin.
Seperti apa kah keindahan dari semua tempat tersebut? Mari kita mulai.
Batu Berbentuk Kelamin yang Bikin Penasaran
Batu Kelamin
Peserta Festival Pesona Bahari Raja Ampat 2019 berfoto di depan Batu Kelamin, Raja Ampat, Papua Barat. Foto: Aria Sankhyaadi/kumparan
Pesona kekayaan alam Raja Ampat seolah tidak akan pernah ada habisnya untuk dikagumi dan dinikmati. Mulai dari keindahan alam yang memesona, hingga panorama alam bawah lautnya.
ADVERTISEMENT
Salah satunya seperti lokasi destinasi wisata unik berikut ini yaitu Batu Kelamin yang berlokasi di kawasan Teluk Mayalibit, Raja Ampat, Papua Barat.
Disebut Batu Kelamin karena di tempat ini terdapat batu karang yang bentuknya mirip dengan alat kelamin pria atau penis. Perjalanan dari penginapan ke lokasi Batu Kelamin, memerlukan waktu kurang lebih 45 menit (tergantung ombak juga kecepatan kapal motor).
Batu Kelamin
Disebut Batu Kelamin karena bentuknya mirip dengan alat kelamin pria atau penis. Foto: Aria Sankhyaadi/kumparan
Pagi itu, dari Gurara Dive Resort (tempat saya menginap), saya bertolak menuju lokasi Batu Kelamin menggunakan speedboat (kapal motor). Perlu diperhatikan, mobilitas dari destinasi wisata yang satu ke yang lain di Waisai hanya bisa menggunakan speedboat. Untuk harga sewa speedboat per hari, bujet yang harus disiapkan sebesar Rp 6 juta dengan kapasitas maksimal 10 orang.
ADVERTISEMENT
Di sepanjang perjalanan, indera penglihatan saya dimanjakan dengan keindahan gugusan pulau karang dan panorama alam yang asri di sekitar Teluk Mayalibit. Tak lupa, gerimis kecil dan riak ombak sesekali hadir menemani perjalanan saya.
Sesampainya di lokasi, perahu yang saya naiki pun berusaha untuk lebih dekat ke lokasi batu berada. Saya dan wisatawan yang mengikuti Festival Pesona Bahari Raja Ampat 2019 pun langsung dapat melihat Batu Kelamin tersebut.
Bahkan, di antara mereka pun ada yang tertawa geli, manakala melihat dua buah batu besar berjejeran menggantung di salah satu karang yang tak berpenghuni dan memiliki bentuk sangat mirip dengan kelamin pria.
Batu Kelamin
Batu Kelamin salah satu destinasi wisata unik yang layak dikunjungi wisatawan saat ke Raja Ampat, Papua Barat. Foto: Aria Sankhyaadi/kumparan
Menurut Ferdinand, guide yang saat itu menemani saya ke lokasi Batu Kelamin, batu ini sudah ada sejak lama dan bahkan mungkin sudah ada sejak zaman nenek moyang masyarakat Raja Ampat mulai tinggal di sana.
ADVERTISEMENT
Ferdinand pun menceritakan batu kelamin ini juga memiliki mitos yang dipercayai oleh warga setempat, yaitu barangsiapa yang datang dan meletakkan uang logam di Batu Kelamin, maka perjalanannya akan selamat dan keinginannya bisa dikabulkan.
“Wisatawan tinggal memegang atau menyentuh Batu Kelamin, lalu meletakkan uang koin di bagian kepala batunya, kemudian berdoa di dalam hati kepada Sang Pencipta. Niscaya permohonan Anda akan direstui,” ujar Ferdinand.
Sebenarnya saat itu saya dan peserta lainnya ingin berada lebih dekat dan berlama-lama di lokasi ini, namun harus melanjutkan perjalanan, sang nahkoda pun bergegas membelokkan perahunya tuk menuju destinasi wisata lainnya.
Terlepas dari mitos yang dipercayai warga setempat, Batu Kelamin ini memang unik dan layak dikunjungi bagi kamu yang ingin berlibur ke Raja Ampat. Nah, di mana lagi coba kamu dapat melihat Batu Kelamin berukuran raksasa kalau bukan di Raja Ampat?
ADVERTISEMENT
Jernihnya Air di Kalibiru
Kalibiru Raja Ampat
Di titik tertentu kedalaman sungai mencapai lima meter. Foto: Aria Sankhyaadi/kumparan
Terletak di kawasan Teluk Mayalibit, Raja Ampat, beningnya Kalibiru telah menjadi buah bibir di kalangan para traveler. Lantas benarkah demikian? Sebagai pembuktian, saya pun berkesempatan untuk mengunjungi Kalibiru.
Untuk menuju Kalibiru, dari Waisai, saya menempuh perjalanan kurang lebih sekitar satu jam menggunakan speedboat. Namun, perjalanan selama itu akan sepadan dengan keajaiban alam yang akan dijumpai, terutama bagi kamu yang senang akan petualangan.
Sebab, tak hanya dapat melihat lanskap khas Raja Ampat, kamu nantinya juga harus berjalan masuk ke dalam hutan selama kurang lebih 30 menit, dari muara sungai tempat kapal bisa bersandar.
Kalibiru Raja Ampat
Tarif masuk per orang ke Kalibiru adalah Rp 150 ribu. Foto: Aria Sankhyaadi/kumparan
Setelah kapal aman bersandar dan tanpa menunggu lama, saya beserta peserta Festival Pesona Bahari Raja Ampat 2019 lainnya langsung bergegas memulai petualangan.
ADVERTISEMENT
Siang itu, ditemani embusan angin yang bertiup di antara rindangnya pepohonan membuat perjalanan saya menuju Kalibiru semakin bersemangat. Dan setelah berjalan melewati sungai yang cukup lebar dan memakan waktu kurang lebih 30 menit, sampailah saya di hadapan Kalibiru, Raja Ampat.
Ternyata, memang benar adanya. Warna biru turquoise langsung terpancar dari atas sungai, sinar matahari yang bersinar pun dengan mudahnya menembus permukaan air di sungai yang memiliki lebar empat sampai lima meter itu.
Kalibiru Raja Ampat
Suhu di Kalibiru dapat mencapai 10-20 derajat Celcius. Foto: Aria Sankhyaadi/kumparan
Bahkan, saking beningnya air, saya dapat menyaksikan dasar sungai yang diselimuti beberapa batuan besar serta pasir putih nan eksotis dengan menggunakan mata telanjang. Untuk kedalamannya sendiri, diperkirakan kedalaman Kalibiru mencapai lima meter.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, saya pun menceburkan diri ke dalam sungai. Byurrr! Benar saja, airnya terasa segar dan begitu dingin ketika mengenai tubuh.
ADVERTISEMENT
Karena warnanya yang sangat bening, wisatawan yang ingin berenang diharap tetap berhati-hati karena di beberapa titik Kalibiru bisa memiliki kedalaman sekitar lima meter dengan arus yang kuat.
Kalibiru Raja Ampat
Kebersihan di Kalibiru sangat terjaga. Foto: Aria Sankhyaadi/kumparan
Usai berenang, Ferdinand, guide yang menemani saya saat itu bercerita bahwa air di Kalibiru aman untuk diminum karena bersumber dari mata air alami.
"Peneliti dari Jepang sempat datang ke sini dan mengukur tingkat kejernihan air. Hasilnya, kualitas air di Kalibiru sama dengan air yang matang setelah dimasak di atas api," ucap Ferdinand.
Perlu dicatat, bagi kamu yang hendak datang ke Kalibiru, Raja Ampat, akan dikenakan biaya masuk per orang yaitu Rp 150 ribu (wisatawan lokal) dan Rp 200 ribu (wisatawan asing).
Indahnya Alam Bawah Laut Raja Ampat
Snorkeling Raja Ampat
Table coral juga memenuhi taman bawah laut Raja Ampat, Papua Barat. Foto: Muhammad Sri Dipo
Belum lengkap rasanya pergi ke Raja Ampat tanpa menikmati keindahan alam bawah lautnya. Bagi kamu yang tidak bisa atau terbiasa diving, jangan khawatir. Sebab kamu dapat menikmati keindahan alam bawah laut Raja Ampat hanya dengan snorkeling.
ADVERTISEMENT
Seperti halnya yang saya lakukan saat mengikuti Festival Pesona Bahari Raja Ampat 2019 beberapa waktu lalu. Saya melihat langsung keindahan alam bawah laut Raja Ampat dengan melakukan snorkeling di beberapa titik, yaitu Friwen Wall, Yenbuba, dan Sawandarek.
Ketiga titik tersebut masih berada di kawasan Waigeo, Raja Ampat Papua Barat. Terpilihnya tiga titik snorkeling tersebut pun dikarenakan masing-masing titik snorkeling menawarkan keindahan alam bawah laut Raja Ampat yang berbeda-beda.
Snorkeling Raja Ampat
Wilayah Laut Raja Ampat meliputi lebih dari 85% dari keseluruhan area Raja Ampat. Foto: Muhammad Sri Dipo
"Kalau di Friwen Wall, wisatawan dapat melihat beragam jenis dan warna terumbu karang. Sedangkan jika snorkeling di Sawandarek, wisatawan kemungkinan besar dapat melihat penyu," ucap Ian, guide yang mendampingi saya saat snorkeling hari itu.
Betul saja, setibanya di lokasi snorkeling yang pertama yaitu Friwen Wall, saya dapat dengan mudah menjumpai aneka ragam karang dari atas speed boat yang ditumpangi.
ADVERTISEMENT
Maklum saja, tanpa harus menyelam dan masuk ke laut dalam semua isi laut dangkalnya sudah terlihat dan mewakili hampir sebagian besar isi laut dalamnya. Ini dikarenakan juga tingkat kejernihan air laut Raja Ampat yang terus menerus dijaga agar tidak terpapar polusi dari sampah laut.
Cap Go Meh, Raja Ampat
Ikan dan terumbu karang warna-warni menghias alam bawah laut Raja Ampat. Foto: Shutter Stock
Selain itu, cahaya matahari pun dapat menembus kedalaman laut hingga 30 meter, tentu saja ini sangat baik bagi terumbu karang dan ikan-ikan laut Raja Ampat.
Perlu diingat bersama, snorkeling di Raja Ampat tidak diperbolehkan menggunakan sepatu katak dan wisatawan tidak dibolehkan untuk menyentuh apa pun yang dilihatnya saat sedang snorkeling.
"Hal ini bertujuan untuk menjaga ekosistem terumbu karang dan makhluk hidup lainnya yang ada di laut Raja Ampat. Sebab, apabila karang patah dan rusak, untuk tumbuh kembali membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun lamanya (tumbuh kembali 1-2 cm per tahun)," ungkap Ian.
ADVERTISEMENT
'Surga' di Puncak Piaynemo
Piaynemo, Raja Ampat
Suasana di Top view of Piaynemo. Foto: Marcia Audita/kumparan
Kagum, takjub, itulah yang terjadi saat saya berhasil menginjakkan kaki sampai di puncak Piaynemo, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, beberapa waktu lalu.
Sebab, dari gardu pandang yang ada di puncak Piaynemo, Raja Ampat, saya disajikan pemandangan menakjubkan dari bukit-bukit karst menjulang tinggi yang berserakan dari dalam laut, ditemani dengan kombinasi biru turquoise dan hijau toska air laut.
Sungguh menjadi pengalaman yang tak mungkin terlupakan bisa melihat langsung keindahan serpihan surga yang jatuh di tanah Papua. Begitulah banyak orang menyebutnya dan tak heran pula jika Raja Ampat dikatakan sebagai destinasi wisata yang wajib dikunjungi setidaknya sekali dalam seumur hidup.
Piaynemo, Raja Ampat
Suasana di Piaynemo, Raja Ampat. Foto: Marcia Audita/kumparan
Untuk dapat sampai ke pulau dengan julukan Little Wayag ini, wisatawan dapat menggunakan transportasi laut berupa speed boat atau kapal Ferry dari kota Sorong atau dari ibu kota Raja Ampat, Waisai yang terletak di Waigeo Selatan. Lama perjalanannya dua sampai tiga jam (tergantung dengan ombak dan kecepatan speed boat).
ADVERTISEMENT
Siang itu jam tangan yang saya gunakan memperlihatkan angka 11.30 WIT setibanya saya dan peserta Festival Pesona Bahari Raja Ampat 2019 lainnya di Piaynemo.
Sebelum menuju puncak Piaynemo, kami semua diminta berkumpul di dermaga yang juga menjadi satu dengan lokasi para pedagang kelapa, kepiting, dan minyak kelapa.
Piaynemo, Raja Ampat
Akses menuju Top View of Piaynemo. Foto: Marcia Audita/kumparan
Tak selang lama, seorang guide berkaus putih muncul dan memberikan beberapa arahan, serta imbauan penting saat hendak menuju dan setibanya di puncak Piaynemo.
Hal yang paling saya ingat saat itu adalah kami semua diminta untuk selalu menjaga kebersihan dan jangan sampai meninggalkan sampah sekecil apa pun juga. Sebab, wilayah Piaynemo, Raja Ampat, merupakan kawasan konservasi dan juga objek wisata karang.
Untuk dapat mencapai puncak Piaynemo wisatawan harus melewati 320 anak tangga. Jangan khawatir, selama perjalanan kamu akan ditemani rindangnya pepohonan yang tumbuh di sekitar kawasan Piaynemo, serta udara segar tanpa polusi.
Piaynemo, Raja Ampat
Suasana di Top view of Piaynemo. Foto: Marcia Audita/kumparan
Ketika sedang dalam perjalanan menuju puncak Piaynemo, saya sempat mendapati hal unik, yaitu kumparan mendapati batang pohon yang menyembul di tengah-tengah anak tangga sehingga membuat langkah agak sedikit terganggu.
ADVERTISEMENT
"Kami tidak boleh menebang pohon. Jadi kami biarkan pohon-pohon itu tumbuh alami," ucap Ian, guide yang menemani saya saat itu.
Setelah melewati 320 anak tangga dan meskipun matahari di Raja Ampat saat itu sangatlah terik, namun keringat dan lelah seolah terbayar setelah sampai di puncak Piaynemo.
Piaynemo, Raja Ampat
Seorang anak papua bermain di Piaynemo, Raja Ampat. Foto: Marcia Audita/kumparan
Pemandangan indah dan menakjubkan pun terhampar di hadapan gugusan pulau karang yang melingkar seakan membentuk laguna hijau di tengah birunya samudera. Terlebih ketika berhasil mengabadikan foto dengan latar belakang gugusan pulau, seolah menjadi kebanggaan tersendiri.
Di puncak Piaynemo, sudah banyak orang-orang terkenal yang berfoto-foto. Mulai dari artis dalam negeri, seperti Pevita Pearce, sampai Presiden RI Joko Widodo.
Piaynemo, Raja Ampat
Suasana di Top view of Piaynemo. Foto: Marcia Audita/kumparan
Selain itu, Stoffel Vandoorne, pebalap F1 juga pernah datang ke sana dan tak lupa, Ustadz Abdul Somad pun tak mau ketinggalan. Beliau juga datang ke Piaynemo dan tentunya tak melewatkan kesempatan untuk berfoto-foto.
ADVERTISEMENT
Dari perjalanan ini saya semakin mencintai Indonesia dengan segala keindahan alam yang dimiliki. Sebagai warga Indonesia, sudah selayaknya juga kita bersyukur dianugerahi alam Indonesia seindah ini dan jangan lupa untuk terus menjaganya agar tetap alami dan lestari.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan