Kumparan Logo

Monumen Bom Bali, Dari Peringatan Duka Menjelma Jadi Situs Wisata

kumparanTRAVELverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang pengunjung sedang menikmati kemegahan Monumen Bom Bali Foto: Helinsa Rasputri/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pengunjung sedang menikmati kemegahan Monumen Bom Bali Foto: Helinsa Rasputri/kumparan

Sebuah monumen berdiri gagah di tengah hiruk pikuknya Kelurahan Legian di Kuta, Bali. Wisatawan dalam dan luar negeri terlihat sibuk wara-wiri menikmati semarak Legian yang padat pertokoan, resto, pub dan bar.

Beberapa dari mereka sibuk memilih-milih pakaian, kaca mata, dan menawar harga dengan penjual. Sementara yang lainnya sibuk window shopping atau berfoto ria di sekitar kawasan Legian yang selalu sibuk.

Pagi itu, kumparan memang berniat menyambangi Monumen Bom Bali atau yang lebih dikenal sebagai Ground Zero Monumen. Berjalan kaki dari kawasan Jalan Padma, kumparan hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di monumen bersejarah ini.

Monumen Bom Bali berdiri megah sebagai peringatan akan tragedi memilukan 16 tahun yang lalu Foto: Helinsa Rasputri/kumparan

Lama kumparan memandang monumen megah yang berhias air mancur dan ditemani miniatur supertree seperti yang bisa kamu lihat di Gardens by the Bay, Singapura. Monumen ini rasanya tak terlihat banyak berubah dari pertama kali kumparan melihatnya pada tahun 2016 lalu.

Kemegahannya tak berkurang, ia masih tetap terjaga, dan selalu jadi incaran wisatawan. Ya, sebuah pemandangan yang lazim jika kamu melihat Ground Zero Monumen dipadati pengunjung yang berfoto ria, atau sekadar datang melihat lebih dekat monumen tersebut lekat-lekat seakan ikut merasakan kepedihan yang diterima korban dan para keluarga yang ditinggalkan.

Rasanya, datang berkunjung ke Legian, belum terasa lengkap kalau belum menyambangi monumen yang satu ini. Apalagi karena letaknya yang strategis, yaitu berada tepat di depan salah satu bank swasta, di tengah persimpangan jalan yang dipadati dengan lalu lintas kendaraan serta pertokoan di setiap sisinya.

Tanpa perlu menyisakan waktu tersendiri pun, kamu bisa menyambangi monumen yang indah tersebut kala sedang traveling di kawasan Legian, Bali.

Monumen Bom Bali di Jalan Legian Kuta yang selalu padat pengunjung Foto: Helinsa Rasputri/kumparan

Dibangun pada tahun 2003, Monumen Bom Bali diresmikan pada 12 Oktober 2004 oleh Bupati Badung yang menjabat saat itu, A.A. Ngr. Oka Ratmadi, S.H. Berlokasi di antara Sari Club dan Paddy's Reload, monumen yang diresmikan dengan nama Monumen Panca Benua itu jadi saksi bagaimana sebuah pemikiran dapat melenyapkan nyawa banyak orang.

Pasalnya, Monumen Bom Bali didirikan untuk memberikan penghormatan atas peristiwa memilukan yang dikenal sebagai Tragedi Bom Bali. Tragedi Bom Bali merupakan aksi teroris terbesar di Indonesia yang terjadi pada 12 Oktober 2002 silam tersebut menewaskan setidaknya 202 korban jiwa dari 20 negara dan 209 korban cedera.

Tragedi ini berasal dari dua ledakan bom beruntun yang terjadi hanya berselang 15 detik. Meledak pada pukul 23.05, tragedi ini tentunya menorehkan banyak luka, baik bagi penduduk setempat maupun wisatawan mancanegara.

Sekelompok turis sedang membaca nama-nama korban Tragedi Bom Bali Foto: Helinsa Rasputri/kumparan

Puas memandang dari kejauhan, kumparan melihat lebih dekat monumen bersejarah ini. Memasuki kawasan monumen terlihat pagar pembatas berdiri apik memagari monumen berwarna krem tersebut. Di tengah, terdapat air mancur berukuran sedang dengan mosaik bunga teratai, seakan memberikan sentuhan kesegaran pada Jalan Legian yang disinari matahari terik itu.

Di sekitarnya terdapat tumbuhan-tumbuhan eksotis yang ditanam dalam pot berukuran besar, sementara itu di dindingnya terlihat sebuah plakat marmer berukuran besar dengan tulisan bertinta emas. Di sana tertulis, 'Nama-Nama Korban Peledakan Bom di Jalan Legian Kuta - Bali, 12 Oktober 2002'.

Kemudian di bawahnya tertulis nama 202 korban jiwa yang tewas lengkap dengan asal negaranya. Kemudian pada bagian bawah plakat, kumparan melihat foto dua orang pria yang dipasang secara terpisah, batu bertuliskan angka 88, sebuah kotak hitam, dan beberapa batuan lainnya dengan tulisan 'Peace', 'Ed Waller', dan sebagainya.

Foto salah satu korban Tragedi Bom Bali yang diletakkan di Ground Zero Monument Foto: Helinsa Rasputri/kumparan

Beberapa turis terlihat berjalan mendekat, sejenak mengambil waktu untuk berdiam, membaca satu persatu nama yang tertera, mengambil foto dan kemudian melanjutkan perjalanan. Sementara yang lainnya, sibuk mengambil setiap sisi keindahan monumen bersejarah ini untuk dibagikan sesegera mungkin ke dalam media sosialnya.

Ya, kini dengan kecanggihan teknologi, dan hadirnya media sosial, khususnya Instagram, Monumen Bom Bali bukan hanya jadi sekadar pengingat semata bagi Bali, Indonesia, maupun dunia dengan kisah kelamnya. Tapi juga jadi daya tarik wisata Legian di tengah Pulau Dewata yang menawan.

Monumen yang lebih akrab di telinga wisatawan asing sebagai Ground Zero Monumen ini bahkan dicantumkan dalam website resmi Kecamatan Kuta Kabupaten Badung, Bali, sebagai salah satu destinasi wisata populer di Kuta.

Dari Monumen Bom Bali itu pula, terlihat bagaimana Bali mampu kembali bangkit dari kejadian pahit di masa lalu dan kembali menjadi primadona wisata Indonesia.