Kumparan Logo

OTA: Fleksibilitas Jadi Fondasi Perjalanan Hadapi Ketidakpastian

kumparanTRAVELverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi perempuan traveling memegang boarding pass. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan traveling memegang boarding pass. Foto: Shutterstock

Online Travel Agent (OTA) tiket.com menilai fleksibilitas dalam industri perjalanan bukan lagi sebuah nilai tambah, melainkan bagian penting dalam membangun kepercayaan, terutama ketika konsumen menghadapi ketidakpastian dalam bepergian.

Disrupsi seperti bencana alam, kendala operasional, hingga situasi geopolitik membuat rencana perjalanan, betapa pun rapi disusun, bisa terganggu kapan saja.

"Seiring meningkatnya harapan konsumen terhadap keandalan dan empati dalam layanan perjalanan, transformasi semacam ini di industry pariwisata semakin diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut," kata Co-Founder & CEO tiket.com, Dimas Surya Yaputra, seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima kumparan.

"Platform pemesanan kini tidak lagi hanya dituntut efisien, namun juga adaptif dan tanggap terhadap situasi darurat. Karena pada akhirnya, dalam dunia yang tak bisa ditebak, fleksibilitas bukan lagi soal kenyamanan tambahan, melainkan landasan utama membangun kepercayaan," tambahnya.

Co-Founder & CEO tiket.com, Dimas Surya Yaputra. Foto: Dok. Istimewa

Berdasarkan data Travelperk, 2 dari 5 penerbangan mengalami gangguan setiap hari. Di tahun 2024, sebanyak 78 persen wisatawan global melaporkan telah mengalami disrupsi perjalanan, dengan 43 persen mengalami penundaan lebih dari satu jam, dan 27 persen menghadapi pembatalan.

Sedangkan di Indonesia, gangguan akibat factor alam juga terus terjadi. Pada Februari 2025 misalnya, cuaca ekstrem di Bali dan Nusa Tenggara Barat mengganggu 11 penerbangan, mulai dari penundaan hingga pengalihan rute.

Kemudian, pada Juni 2025, erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di NTT menyebabkan pembatalan dan penundaan penerbangan dari dan menuju Bali, serta Labuan Bajo. Hal ini dilakukan, karena sebaran abu vulkanik yang mencapai ketinggian 10 km.

Tak hanya wisata, perjalanan bisnis juga turut terdampak. Sebanyak 85 persen pelaku perjalanan bisnis melaporkan penurunan produktivitas, dengan 54 persen tidak bisa hadir atau terlambat ke pertemuan penting, 40 persen menanggung biaya tambahan karena harus memesan ulang tiket dan akomodasi, serta lebih dari sepertiga harus bekerja lembur akibat keterlambatan.

Ilustrasi sepatu buat traveling. Foto: Olena Yakobchuk/Shutterstock

Fenomena ini menurut Dimas, tak hanya disebabkan oleh gangguan eksternal. Di tiket.com, mayoritas permintaan perubahan perjalanan, yaitu sekitar 80 persen karena alasan pribadi, seperti Kesehatan, kehamilan, kedukaan, dan kendala visa.

"Data ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan fleksibilitas layanan perjalanan kini meluas, tidak hanya untuk situasi darurat, tetapi juga karena urusan pribadi wisatawan," tuturnya.

Melihat hal ini, tiket.com memberikan fleksibilitas untuk setiap penumpang. Lewat Flight Disruption Protection, fitur ini memungkinkan pelanggan menerima kompensasi otomatis saat terjadi penundaan atau pembatalan, tanpa perlu proses klaim yang rumit.

Selain itu, ada pula fitur 100% Refund & Reschedule yang memberikan kelonggaran kepada konsumen untuk menyesuaikan rencana mereka hingga 24 jam sebelum keberangkatan.

"Dalam konteks tingginya pembatalan dan penjadwalan ulang karena alasan pribadi, fleksibilitas seperti ini memberikan ketenangan dan rasa aman saat menghadapi perubahan mendadak," pungkas Dimas.