Kumparan Logo

Reog Ponorogo, Tradisi yang Tetap Digandrungi Generasi Muda

kumparanTRAVELverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penari pentas Reog Ponorogo di Alun-Alun, Kabupaten Ponorogo. (Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Penari pentas Reog Ponorogo di Alun-Alun, Kabupaten Ponorogo. (Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan)

Suara gong dan gendang bertalu-talu di tengah alun-alun Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Ramai orang berduyun-duyun berkumpul di pusat suara itu. Padahal, gerimis tengah mengguyur kawasan itu.

Ternyata, pertujukan kesenian Reog Ponorogo tengah digelar di alun-alun. Menariknya, sebagian besar penarinya adalah anak-anak. Mereka nampak menari dengan gagah dan gemulai laiknya penari Reog profesional.

Menurut pegiat seni Reog, Sudirman, tradisi kesenian Reog Ponorogo telah diajarkan sejak usia dini. Bahkan, menjadi urusan gampang jika harus mencari ribuan penari Reog di sini.

Suasana pentas Reog Ponorogo di Alun-Alun, Kabupaten Ponorogo. (Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana pentas Reog Ponorogo di Alun-Alun, Kabupaten Ponorogo. (Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan)

"Sejak kelas dua sekolah dasar sudah diajarkan. Penarinya dari SD sampai SMA ada. Di Ponorogo setiap anak-anak punya panggilan jiwa menari yang kuat. Jadi kalau kita cari anak 5.000 pun ada," kata Sudirman kepada kumparanTRAVEL, Rabu (23/1).

"Setiap desa ada grup reog. Di desa saya, Desa Paju, Kecamatan Kota, reognya saja ada tiga grup," lanjutnya.

Sejak lama, Kota Reog disematkan bagi Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Sebab, dari sinilah tempat tumbuh kembangnya kesenian Reog.

Suasana pentas Reog Ponorogo di Alun-Alun, Kabupaten Ponorogo. (Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana pentas Reog Ponorogo di Alun-Alun, Kabupaten Ponorogo. (Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan)

Reog merupakan tarian yang menampilkan penari bertopeng kepala singa dengan hiasan bulu merak yang disebut Singabarong, Jathil, yaitu beberapa penari yang menunggangi kuda-kudaan dan warok, yang berada di balik topeng merah. Pakaian seluruh penarinya khas dengan warna kuning, merah, dan hitam.

Menurut Sudirman, warna-warna ini memiliki sejumlah arti. Kuning berarti keagungan, merah berarti sikap soerang ksatria. "Hitam adalah menep, artinya seseorang yang tinggi ilmunya sudah tidak memikir ke dunawian," ungkapnya.

Topek Reog untuk pentas Reog Ponorogo di Alun-Alun, Kabupaten Ponorogo. (Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Topek Reog untuk pentas Reog Ponorogo di Alun-Alun, Kabupaten Ponorogo. (Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan)

Reog Ponorogo tidak hanya dipentaskan di waktu-waktu tertentu saja, seperti pernikahan, khitanan, dan hari-hari besar nasional. Reog juga menjadi festival besar di Ponorogo, seperti Gebyar Jathil Masal yang digelar 17 Februari 2019 dan Reyog Jazz pada 9 -10 Agustus 2019.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ponorogo Slamet Ahmad mengatakan festival Gebyar Jathil Masal bakal masuk dalam rekor muri. Pasalnya, bakal ada 20 ribu penari yang ikut serta dalam festival itu.

"Gebyar Jathil Masal 2019 penari (bakal) kita masukkan ke rekor muri. Dua hari ini sudah mulai latihan koordinator dan penyesuaian-penyesuaian di penari dan pelatih," terang Slamet.