Sandiaga Ingin Desa Wisata Dikembangkan Sebagai Destinasi Sound Healing
·waktu baca 3 menit

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno, menyampaikan gagasannya untuk menghadirkan Sound Healing sebagai metode pengobatan (wellness) alternatif di desa wisata. Dengan menggunakan alat musik tradisional atau instrumental, Sound Healing menurut Sandiaga, bisa menjadi sarana bagi traveler yang ingin mengatasi masalah kesehatan mental.
Sebab, berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2019, setidaknya ada 970 orang di seluruh dunia yang hidup dengan gangguan mental, kecemasan, dan depresi. Perilaku ini pun mengganggu hubungan dengan kerabat dekat, dan keluarga.
"Waktu saya bertugas di DKI (sebagai Wagub DKI), saya bersama Prof. Noriyu, melakukan penelitian. Dari seluruh warga Jakarta yang diteliti, ternyata hampir 20 persen mengalami some sort of mental health issue. Sehingga hal ini yang perlu kita sadari, kita pahami, dan kita deteksi secara dini," kata Sandiaga, dalam acara "Talkshow Sound Healing" di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sandiaga menambahkan, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif erat kaitannya dengan isu kesehatan mental, di mana semenjak pandemi COVID-19, wisata minat khusus wellness tourism banyak digemari wisatawan, terutama generasi Z yang sangat aware terhadap isu tersebut.
"Kata healing sendiri di mesin pencarian Google naik 500 persen semenjak COVID-19 tahun 2022. Lima kali lipat orang type kata healing, dan di destinasi wisata atau ekonomi kreatif ini healing-nya biasanya ke arah destinasi wisata dan sound healing," tutur Sandiaga.
Untuk itu, desa wisata sebagai salah satu destinasi wellness tourism dapat diisi dengan Sound Healing sebagai daya tarik wisata. Terlebih, Kemenparekraf sendiri telah mengembangkan desa wisata, yang saat ini berjumlah sekitar 6.016 desa wisata yang tergabung dalam Jadesta (Jaringan Desa Wisata) di seluruh Indonesia.
Enggak hanya desa wisata, saat ini juga sedang berjalan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) kesehatan di Sanur, Bali.
"Tiap daerah di Indonesia memiliki alat musik khasnya masing-masing, dan ini yang mau coba saya lihat, karena di Rumah Sakit Marzoeki terdapat angklung. Nanti kita sesuaikan dengan desa wisatanya. Misal di Jawa Barat mungkin dengan angklung, di Sulawesi Utara dengan kolintang, di Jawa Tengah dengan gamelan," ujar Sandiaga.
"Jadi, buat saya ini menambah produk wisata dan juga bagian dari memberikan layanan pariwisata kepada market yang semakin beragam, dan gen Z ini sangat menangkap issue mengenai lingkungan, mental health, musik. Ini sebagai bagian dari pada ekosistem secara keseluruhan," tambahnya.
Sound Healing untuk Kesehatan Mental
Sementara itu, Harpist, Actor, Music, Sound, and Frequency BioResonance Practitioner, Maya Hasan, CMP, mengatakan pada dasarnya Indonesia sangat kaya dengan alat musik tradisional. Dan musik ini bukan hanya dapat menjadi tindakan kuratif, melainkan juga preventif.
"Dan musik yang disarankan adalah musik instrumental, sehingga tidak ada memori-memori jelek yang terkait dengan misalnya kata-kata, kejadian dalam hidupnya," kata Maya.
Kehadiran musik di institusi kesehatan juga dinilai tidak hanya untuk menolong pasien, tapi juga para tenaga kesehatan, di mana stress level mereka bisa menurun, dan bisa lebih optimal dalam bekerja.
"Bahkan dengan musik bisa menurunkan kadar anastesi yang digunakan. Jadi untuk pasien-pasien lansia kalau perlu ada operasi, bisa memudahkan minimum anastesi, jadi mengurangi toksin-toksin yang masuk ke dalam tubuh,” pungkas Maya.
