Sanggup Berlibur ke Baduy Dalam, Desa Tanpa Listrik dan Internet?

6 Agustus 2019 17:41
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Suku Baduy Dalam Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suku Baduy Dalam Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan
ADVERTISEMENT
Diketahui bersama aliran listrik di wilayah DKI Jakarta, Banten dan sebagian Jawa Barat hingga Jawa Tengah mengalami pemadaman pada Minggu (4/8) sejak pukul 11.44 WIB. Beberapa wilayah bahkan mengalami kondisi black out selama belasan jam. Kejadian luar biasa ini tak pelak membuat aktivitas kota Jakarta dan sekitarnya menjadi tersendat.
ADVERTISEMENT
Akibat dari pemadaman listrik tersebut, traffic light di jalan raya pun tidak berfungsi, jaringan sejumlah provider telekomunikasi tumbang hingga transportasi massal seperti MRT, KRL Jabodetabek, KA Bandara dan LRT Jakarta terganggu. Beberapa masyarakat yang masih bisa mengakses internet tampak membanjiri timeline sosial media dengan keluhan #listrikpadam.
Seketika, masyarakat ibu kota jadi panik: listrik mati total, jaringan telepon tersendat dan internet seret. Beberapa netizen mengeluh kerjaannya menjadi terhambat, ada juga yang protes karena aktivitasnya terganggu. Tidak sedikit juga milenial yang menyebut mereka ‘mati gaya’ karena jaringan internet seolah hidup segan mati tak mau.
Jembatan menuju kampung Baduy Dalam Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Jembatan menuju kampung Baduy Dalam Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan
Namun tahukah kamu, kondisi yang dialami Jakarta dan sekitarnya pada Minggu siang hingga dini hari kemarin merupakan kondisi yang sehari-hari dijalani oleh Suku Baduy Dalam?
ADVERTISEMENT
Ya, bagi penduduk di kota besar layaknya Jakarta, mati listrik massal yang lalu pastinya membuat panik dan mati gaya. Namun, hidup tanpa listrik dan internet justru menjadi pilihan Suku Baduy Dalam.
Tidak ada aliran listrik dan internet bukan berarti suku ini terisolasi. Bagi kamu, para traveler, juga bisa berlibur ke desa ini dan menginap semalam di sana untuk merasakan kehidupan yang jauh dari hiruk pikuk kota.
Lalu seperti apa sesungguhnya kehidupan di Suku Baduy Dalam?
Suku Baduy merupakan kelompok masyarakat yang bermukim di kaki Gunung Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 kilometer dari kota Rangkasbitung.
Wilayah tersebut memiliki topografi berbukit dengan kemiringan tanah rata-rata 45 derajat dan terletak pada ketinggian 300-600 mdpl. Suhu udara berkisar 20 derajat celcius. Di Baduy terdapat 56 kampung dan terbagi menjadi 2 bagian besar, yaitu Baduy Dalam yang terdiri dari 3 kampung yaitu Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik serta Baduy Luar yang terdiri dari 53 kampung. Di Baduy Dalam inilah, masyarakatnya hidup tanpa listrik, tanpa teknologi, tanpa internet dan bebas dari penggunaan produk berbahan kimia.
ADVERTISEMENT
Taufik Hidayat, founder salah satu tour and travel specialist cultural trip Baduy, Jejak Baduy, menjelaskan masyarakat Baduy Dalam memiliki kehidupan yang sangat unik. Hingga saat ini masyarakat Baduy tetap berpegang teguh pada pendirian adat mereka. Menurut Taufik, kehidupan di Baduy Dalam jauh dari kata mewah. Sebaliknya, semua terlihat sederhana.
“Di Baduy Luar maupun Baduy Dalam tidak tersentuh aliran listrik. Mereka menolak untuk dimoderinisasi, mereka lebih memilih untuk mempertahankan nilai-nilai leluhur yang sudah diwariskan dan tetap mengikuti aturan adat leluhur mereka. Di sana tidak ada gadget, karena aturan adat,” ungkap Taufik kepada kumparan, Senin (5/8). Tak hanya itu, masyarakat Baduy Dalam juga hidup seragam, mulai dari warna pakaian (hitam untuk laki-laki dan putih untuk perempuan) hingga bentuk rumah yang mereka tinggali.
Suku Baduy Dalam Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suku Baduy Dalam Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan
Berdasarkan catatan Jejak Baduy, awal mula wisatawan masuk ke Baduy Dalam adalah pada medio 1990. Namun saat itu wisatawan yang berkunjung masih terbatas, salah satunya hanya berasal dari kalangan mahasiswa pecinta alam.
ADVERTISEMENT
Pada 1995, wisatawan yang berkunjung ke Baduy mulai ramai. Tren tersebut terus berkembang hingga awal tahun 2000-an dan akhirnya mulai muncul tour and travel yang melayani open trip ke Baduy Dalam.
“Hingga saat ini antusiasme wisatawan setiap minggu yang masuk ke Baduy Dalam sangat ramai. Kurang lebih bisa sampai 200 orang, karena mereka penasaran dengan kehidupan masyarakat Baduy Dalam,” ujar Taufik.
Menurut Taufik, terbentuknya Baduy Dalam menjadi tempat wisata budaya tidak terlepas dari keunikan masyarakatnya yang tetap memegang teguh nilai-nilai adat. Termasuk salah satunya menolak untuk di moderinasisi.
Sikap inilah yang kemudian akhirnya membuat wisatawan justru menjadi penasaran dengan kehidupan masyarakat Baduy. Ditambah, wisatawan yang berkunjung di sana juga diwajibkan untuk mengikuti aturan tersebut. Artinya, wisatawan tidak boleh menggunakan gadget termasuk berfoto saat mengunjungi Baduy Dalam.
ADVERTISEMENT
Salah satu traveler yang tertarik dan akhirnya memutuskan berkunjung ke Baduy Dalam adalah Anggi Eriati Soetarto. Perempuan yang akrab disapa Anggi ini ikut dalam salah satu open trip ke Baduy Dalam pada Juni 2019 lalu.
Sebagai anak perempuan kelahiran Lebak, Banten, Anggi merasa bahwa Suku Baduy merupakan bagian dari leluhurnya. Perasaan memiliki ini membuat Anggi merasa harus wajib datang ke sana.
“Saya penasaran sama suasana di sana. Ternyata betul kalau di Baduy Dalam itu tidak ada listrik sama sekali. Internet dan semua alat teknologi tidak diizinkan untuk digunakan,” kisah Anggi.
Sebagai orang Sunda asli, Anggi pun merasa tak cukup kesulitan untuk berinteraksi dengan warga lokal. Menurutnya, warga Suku Baduy sangat ramah terhadap para wisatawan.
ADVERTISEMENT
Berkunjung selama dua hari satu malam ternyata menorehkan kesan mendalam bagi Anggi. Salah satunya mengubah cara pandang Anggi terhadap kehadiran teknologi dan internet.
“Internet dan teknologi tidak selalu membuat kita bahagia dan tidak menjamin kita tidak kesepian. Nyatanya, selama di Baduy Dalam, saya menemukan kedamaian di hati dan pikiran saya,” tambahnya.
Berdasarkan pengalamannya tersebut, Anggi sangat merekomendasikan Baduy Dalam sebagai salah satu destinasi wisata antimainstream yang wajib dikunjungi. Apalagi saat ini generasi milenial cenderung memilih menginap di hotel mewah dengan fasilitas mumpuni.
“Saya sangat merekomendasikan Baduy Dalam sebagai destinasi antimainstream yang wajib dikunjungi demi warasnya hati dan pikiran,” ujarnya.
Nah, siapkah kamu liburan ke Baduy Dalam? Syaratnya, tidak boleh posting foto atau instastory, ya. Berani?
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020