kumparan
3 November 2018 12:21

Sensasi Main Bersama Bayi Hiu di Festival Takabonerate

Konten Spesial Takabonerate
Konten Spesial Takabonerate (Foto: Cornelius Bintang/kumparan)
Bagaimana rasanya bermain bersama bayi-bayi hiu? Sensasi bermain bersama bayi-bayi hiu bisa kamu rasakan dalam rangkaian Festival Takabonerate.
ADVERTISEMENT
Sebenarnya kapanpun kamu datang ke Takabonerate, bisa saja bermain dengan bayi-bayi hiu. Tapi saat Festival Takabonerate digelar, main bersama bayi hiu rasanya lebih meriah.
Festival Takabonerate di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, berlangsung pada 24-28 Oktober 2018. Acara yang telah digelar ke-10 kalinya itu menghadirkan beragam hiburan, tradisi unik, hingga aktivitas bawah air bagi para wisatawan.
Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar
M. Basli Ali, Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar memberikan sambutan di Pembukaan Festival Takabonerate. (Foto: Cornelius Bintang/kumparan)
Acara dimulai dengan pembukaan yang diadakan di Taman Pusaka, Kabupaten Kepulauan Selayar. Sekitar 200 orang menyaksikan langsung pembukaan festival dan membuat H.M Basli Ali, Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar, merasa bangga.
"Kami bangga banyak peserta yang datang memeriahkan kegiatan yang setiap tahun dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar. Kegiatan ini kita lakukan untuk mendukung pemerintah pusat dalam program 20 juta wisatawan asing yang datang ke Indonesia," ujar Basli dalam pembukaan Festival Takabonerate, di Taman Pusaka, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Rabu (24/10).
ADVERTISEMENT
Tak hanya mendukung pemerintah pusat, Festival Takabonerate juga merupakan sarana promosi untuk memperkenalkan potensi wisata yang ada di Kabupaten Kepulauan Selayar, khususnya kebaharian. "Oleh karena itu, kegiatan ini kita fokuskan di zona Taman Nasional Takabonerate," lanjut Basli.
Kesenian yang ditampilkan di Pembukaan Festival Takabonerate
Kesenian yang ditampilkan di Pembukaan Festival Takabonerate (Foto: Cornelius Bintang/kumparan)
Suasana riuh terasa ketika beragam hiburan mulai ditampilkan. Tarian khas Selayar hingga teater yang menceritakan tentang kehidupan kerang sukses membuat warga dan peserta yang datang terhibur.
Tak hanya wisatawan lokal, pembukaan Festival Takabonerate juga turut dihadiri oleh wisatawan asing. Salah satunya adalah Makche yang berasal dari Paris.
Video
Ia bercerita merasa senang dapat hadir di acara pembukaan ini. Bahkan, kadang dirinya juga tak kuasa menahan tawa saat menyaksikan Teater Tude yang disajikan dalam pembukaan tersebut.
ADVERTISEMENT
"Senang, menghibur sekali. Saya mengenal banyak budaya di sini," ujarnya.
Tarian ditampilkan di Pembukaan Festival Takabonerate
Tarian ditampilkan di Pembukaan Festival Takabonerate (Foto: Cornelius Bintang/kumparan)
Keseruan pembukaan Festival Takabonerate tak berakhir malam itu saja. Esok harinya, kumparanTRAVEL bersama peserta Festival Takabonerate lainnya diajak menjelajahi Lautan Flores selama tujuh jam untuk menuju Pulau Jinato.
Sambutan hangat warga Pulau Jinato membuat para peserta Festival Takabonerate tak berhenti tersenyum. Pengalungan bunga, bunyi merdunya gendang khas Sulawesi, hingga tarian tradisional benar-benar menghibur. Seakan tak mau kalah dengan warga di Pulau Selayar, warga Pulau Jinato juga turut menghadirkan drama musikal yang berjudul Ratapan Anak Jinato. Drama ini menceritakan bagaimana warga dan anak-anak di Pulau Jinato berusaha mempertahankan kelestarian terumbu karang di sana.
Anak-anak di Pulau Jinato
Anak-anak di Pulau Jinato (Foto: Cornelius Bintang/kumparan)
Selain itu, para peserta juga diajak untuk melihat kearifan lokal warga Pulau Jinato. Keramahan yang ditunjukkan ketika penyambutan ternyata terus berlanjut saat para peserta festival berkeliling melihat berbagai tempat pembuatan makanan lokal.
ADVERTISEMENT
"Mari dicicipi permennya. Permen ini terbuat dari gula aren dan jeruk nipis, rasanya enak," ujar salah satu ibu dengan ramah, ketika kami datang ke rumah warga yang membuat permen gula merah tersebut.
Tak perlu menunggu lama, para peserta pun langsung mencicipi permen tersebut. Gelak tawa juga tak henti terdengar dari bibir para peserta dan ibu-ibu Pulau Jinato sembari menyesap permen. Selain permen, ibu-ibu Pulau Jinato juga banyak yang membuat abon ikan untuk dijual kembali.
Setelah dua hari di Pulau Jinato, para peserta Festival Takabonerate kembali melanjutkan perjalanan menuju Pulau Tinabo. Pulau tak berpenghuni itu merupakan zona inti dari konservasi terumbu karang di Taman Nasional Takabonerate. Perlu waktu sekitar dua jam menggunakan kapal laut dari Pulau Jinato untuk sampai di Pulau Tinabo.
Keindahan bawah laut Pulau Tinabo
Keindahan bawah laut Pulau Tinabo (Foto: Agung Rizky)
Nah, di Pulau Tinabo inilah terdapat baby shark atau bayi hiu berjenis black tip yang berada di sekitar bibir pantai. Fenomena ini menjadi satu-satunya yang ada di dunia.
ADVERTISEMENT
Melihat banyaknya bayi hiu yang terdapat di bibir pantai, seketika para peserta mengabadikannya melalui ponselnya. Bahkan banyak juga yang langsung masuk ke air begitu melihat bayi hiu nan lucu tersebut.
Tak perlu takut bakal diserang, karena bayi hiu di Pulau Tinabo tersebut ramah pada manusia. Asalkan tidak terdapat darah atau hal yang memicu keagresifan hiu, kamu bisa bebas foto di tengah kawanan bayi hiu tersebut.
Bayi hiu di bibir pantai di Pulau Tinabo
Bayi hiu di bibir pantai di Pulau Tinabo (Foto: Andari Novianti/kumparan)
Setelah puas bermain bersama bayi hiu, para peserta juga dapat mengikuti kegiatan lainnya seperti snorkeling dan diving. Indahnya terumbu karang hingga kayanya biota seolah menjadi surga bagi para pecinta wisata bawah laut.
Nuansa tenang yang terdapat di Pulau Tinabo pun cocok bagi kamu yang penat dengan rutinitas kota. Jangan lupakan juga hamparan bintang yang bisa kamu lihat di malam hari. Ya, karena tak berpenghuni dan minim cahaya lampu, kamu bebas ber-stargazing di Pulau Tinabo.
ADVERTISEMENT
Siap berpetualang ke Taman Nasional Takabonerate?
Simak ulasan selengkapnya dalam konten spesial 'Takabonerate, Surga Tersembunyi di Sulawesi'.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan