Kumparan Logo

Sepenggal Kisah Para Pengojek Bromo Usai Video Viral Turis Dipalak Rp 50 Ribu

kumparanTRAVELverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para pemilik jasa penyewaan kuda di Bromo. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Para pemilik jasa penyewaan kuda di Bromo. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Video wisatawan yang dimintai Rp 50 ribu oleh pengojek kuda di Gunung Bromo karena mengambil video tanpa izin viral di media sosial.

Video yang diunggah pemilik akun TikTok @aldidutcho tersebut, memperlihatkan detik-detik oknum pengojek kuda Bromo yang meminta uang ke wisatawan setelah mengambil video tanpa izin.

Video itupun menuai beragam komentar dari netizen di media sosial. Selain banyak yang menyayangkan kejadian tersebut, tak sedikit mereka yang merasa takut untuk berwisata ke Bromo.

Meski sempat viral dan menuai kehebohan di media sosial, permasalahan antara turis yang bersangkutan dan oknum pengojek kuda tersebut berakhir damai. Keduanya sepakat berdamai dan tidak akan mengulangi kejadian serupa.

Para pemilik jasa penyewaan kuda di Bromo. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Berkaitan dengan hal tersebut, kumparan pun mencoba mewawancarai beberapa para pengojek Bromo baik kuda dan motor terkait insiden yang sempat viral tersebut. Mereka mengatakan bahwa kejadian tersebut sudah diselesaikan secara kekeluargaan.

Viralnya wisatawan yang digetok Rp 50 ribu tersebut juga tak berdampak kepada kunjungan wisatawan. Hal tersebut disampaikan Bapak Tofa yang merupakan salah satu pemilik ojek motor di Bromo.

"Aman saja soalnya (masalah kemarin) sudah disidak sama petugas. Di atas, di pos," ujarnya saat ditemui kumparan di dekat pintu masuk menuju kawah Gunung Bromo, Sabtu (2/7).

Wisatawan yang memadati kawasan wisata Gunung Bromo pada Sabtu (2/7) saat libur sekolah. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Pemilik jasa ojek motor yang sudah lama berada di Bromo tersebut mengatakan bahwa kunjungan wisatawan tetap ramai, bahkan usai pandemi melandai.

"Mulai habis corona itu sudah ramai (lagi). Biasanya Sabtu sampai Minggu atau weekend itu juga ramai," ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Bapak Juna, salah satu pengojek kuda yang sempat mengantarkan perjalanan kumparan menuju puncak kawah Bromo. Ia juga menceritakan secara detail terkait insiden yang sempat viral tersebut.

Wisatawan yang memadati kawasan wisata Gunung Bromo pada Sabtu (2/7) saat libur sekolah. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

"Jadi, yang naik kuda enggak tau di video dia. Dan tiba-tiba dia minta uang Rp 50 ribu," ceritanya.

Ia tak menampik bahwa viralnya kejadian tersebut membuat ladang mata pencahariannya ikut tercoreng.

"(Setelah kejadian tersebut) ada aja pengunjung, tapi di media gongnya sudah tercoreng, ya, tapi tetap ramai, ya," ujarnya.

Harapan Para Pengojek Bromo

Wisatawan yang memadati kawasan wisata Gunung Bromo pada Sabtu (2/7) saat libur sekolah. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Bapak Juna dan Tofa tentu hanya segelintir dari mereka yang menggantungkan hidupnya sebagai pelaku pariwisata. Mereka pun berharap bahwa insiden tersebut tak lagi terulang.

Sebab, bagaimanapun kenyamanan pengunjung atau tamu adalah hal yang utama. Karena jika mereka nyaman, tentu wisatawan akan datang kembali ke destinasi wisata tersebut.

"Harapannya enggak ada gitu lagi, kan, kalau ke sini, kan, memikirkan tamu juga, ya. Karena, kalau kena satu, kena semua," ujar Juna.

Ia juga bersyukur hal tersebut tidak sampai membuat pemasukannya berkurang.

"Penghasilannya, kalau ramai bisa Rp 1,5 juta. Kalau sepi, Rp 250 ribu. Pas insiden kemarin, alhamdulillah, tetap ramai," pungkasnya.