Kumparan Logo

Seperti Tertukar, Ini Alasan di Balik Penamaan Greenland dan Iceland

kumparanTRAVELverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto yang diambil pada 16 Agustus 2023 ini menunjukkan gunung es, yang panjangnya kira-kira beberapa ratus meter, melayang di sepanjang Scoresby Sound Fjord, di Greenland Timur. Foto: Olivier Morin/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Foto yang diambil pada 16 Agustus 2023 ini menunjukkan gunung es, yang panjangnya kira-kira beberapa ratus meter, melayang di sepanjang Scoresby Sound Fjord, di Greenland Timur. Foto: Olivier Morin/AFP

Sebagian traveler mungkin bertanya-tanya, kenapa ya nama Greenland dan Iceland atau Islandia seperti tertukar? Ya, dua wilayah Nordik ini justru punya panorama yang tak sesuai dengan namanya, Greenland justru diselimuti es, sedangkan Islandia punya panorama yang hijau.

Di balik keunikannya tersebut, ternyata tersimpan sejarah menarik yang berkaitan dengan para penjelajah Viking lebih dari seribu tahun yang lalu. Seperti apa?

Dilansir Iceland Discover, Islandia atau "Iceland" jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia berarti "tanah es", sedangkan Greenland berarti "tanah hijau". Meski demikian, dalam bahasa Inuit, Greenland disebut sebagai "Kalaallit Nunaat" yang berarti "tanah para manusia".

Pulau Grimsey, pulau yang tak pernah malam hari. Foto: Andrew Baum/Shutterstock

Nama-nama yang dikenal dunia saat ini justru berasal dari bangsa Norse, atau para pelaut Viking yang gemar memberi nama berdasarkan kesan pertama mereka terhadap suatu tempat.

Sekitar tahun 985 Masehi, Erik the Red, seorang Viking yang diasingkan dari Islandia karena kasus pembunuhan, berlayar ke barat dan menemukan wilayah baru yang subur di bagian selatan pulau besar yang kini kita kenal sebagai Greenland.

Asal-usul Greenland

Greenland. Foto: muratart/Shutterstock

Kala itu, iklim masih lebih hangat daripada sekarang, memungkinkan area itu ditumbuhi rerumputan dan cocok untuk bercocok tanam. Erik pun menamai wilayah tersebut Greenland atau “tanah hijau,” dengan tujuan menarik lebih banyak pendatang untuk ikut menetap.

Strateginya berhasil. Banyak orang Norse pindah ke sana dan hidup dari perburuan walrus, serta perdagangan gadingnya. Sayangnya, pada abad ke-14, serangkaian bencana membuat koloni Viking di Greenland hilang.

Selain suhu yang menurun secara drastis, wabah Black Death juga berdampak pada perdagangan di Eropa, dan permintaan gading walrus tergantikan oleh gading gajah dari Afrika.

Islandia: Tanah Es yang Sebenarnya Hijau

Panorama kota Reykjavik di Islandia. Foto: Robert Harding Video/Shutterstock

Sebaliknya, Islandia justru lebih hijau dan hangat berkat arus laut hangat Gulf Stream. Hanya sekitar 10-14 persen wilayahnya tertutup gletser, sementara sisanya berupa lembah hijau dan padang rumput subur di musim panas.

Namun, kisah penamaan Islandia ternyata bermula dari pengalaman tragis seorang pelaut bernama Flóki Vilgerðarson. Flóki berlayar menuju pulau yang saat itu disebut Garðarshólmur (Pulau Garðar) atau Snæland (Tanah Salju).

Namun, perjalanannya penuh malapetaka, putrinya tenggelam di laut dan ternaknya mati, karena musim dingin yang ekstrem. Dalam kesedihan, Flóki naik ke puncak gunung dan hanya melihat teluk yang dipenuhi gunung es. Ia pun dengan getir menamai pulau itu "Iceland" atau “tanah es.”

Panorama kota Reykjavik di Islandia. Foto: Palmi Gudmundsson/Shutterstock

Ironisnya, meski Flóki menggambarkannya sebagai tempat keras dan dingin, laporan dari anggota kapalnya yang lain justru menyebut tanah itu subur dan hijau. Tak lama kemudian, para pemukim Norse datang berbondong-bondong, dan nama "Iceland" pun melekat hingga kini.

Kini, kontras antara nama dan kondisi kedua negara justru menjadi daya tarik wisata. Islandia dikenal dengan pemandangan vulkanik, air terjun, dan aurora borealis, sementara Greenland memikat dengan gunung es raksasa, fjord megah, dan budaya Inuit yang kuat.