Kumparan Logo

Study Tour Perlu Dihilangkan atau Tidak? Ini Kata Pengamat Pendidikan

kumparanTRAVELverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

Ilustrasi study tour. Foto: Badass artists/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi study tour. Foto: Badass artists/Shutterstock

Kegiatan study tour kini menjadi sorotan usai bus pariwisata yang membawa rombongan siswa SMK Lingga Kencana, Depok, mengalami kecelakaan maut di jalan raya Ciater, Subang, Jawa Barat pada Sabtu (11/5). Kecelakaan maut yang melibatkan bus pariwisata dan sejumlah kendaraan itu menewaskan 11 orang yang terdiri dari penumpang dan juga pengendara lainnya.

Buntut dari insiden tersebut publik mengkritik kegiatan study tour yang sebaiknya dihilangkan karena dinilai abai terhadap keselamatan dan keamanan siswa. Terbaru, Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat dan DKI Jakarta telah mengeluarkan larangan study tour dilakukan di luar sekolah. Lalu, apakah study tour memberikan manfaat bagi siswa dan bagaimana jika study tour dihilangkan? Ini kata pengamat pendidikan.

Pemerhati Pendidikan dan Penggerak Literasi, Andreas Tambah. Foto: Dok. Istimewa

Pemerhati Pendidikan sekaligus Penggerak Literasi, Andreas Tambah, mengatakan meski menuai pro dan kontra, study tour tetap diperlukan sebagai sarana pembelajaran siswa.

"Banyak yang pro dan kontra. Kalau menurut saya study tour ada baiknya karena belajar itu kan tidak harus di sekolah. Bisa juga dari luar tentang budaya dan sebagainya," ujar Andreas saat dihubungi kumparan pada Rabu (15/5).

Menurut dia, penyelenggaraan study tour memiliki banyak manfaat jika dilakukan sesuai dengan aspek pembelajaran yang berlaku. Sebagai contoh, dirinya dulu pernah mengikuti study tour di salah satu produsen baja terbesar di Indonesia dan hal itu masih membekas di benaknya hingga sekarang.

"Study tour tergantung tujuannya ya, kalau memang tujuannya untuk pembelajaran, untuk edukasi, memangnya salah? Kan, nggak juga. Misalnya gini, saya waktu SMA diajak ke Krakatau Steel di sana betul-betul proses pengolahan, peleburan besi baja, itu kita melihat semua. Sampai hari ini saya terbayang betul ternyata luar biasa ya, itu bagus," papar dia.

Ilustrasi study tour. Foto: Mbah Purwo/Shutterstock

Adapun, pelaksanaan study tour yang salah kata dia adalah pelaksanaan kegiatan yang tidak memperhatikan aspek keselamatan dan keamanan. Sebagai contoh, misalnya kegiatan tersebut semata-mata digelar hanya demi mencari cuan dan juga karena tergiur dengan harga murah.

"Nah kalau memang seandainya mau study tour itu transportasinya harus betul-betul punya jaminan. Saya lihat kebanyakan menggunakan bus-bus antarkota yang bukan khusus untuk study tour. Kedua, misalnya akomodasi penginapan dan lain sebagainya, karena kebanyakan oleh karena iming-iming murah karena nanti butuhnya banyak cari tempat-tempat yang memang tidak nyaman, tidak menjamin keselamatan anak-anak. Ini yang harus jadi perhatian," kata dia.

Perlu SOP yang Jelas

Untuk itu, menurut dia diperlukan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas sebelum pelaksaan study tour dilakukan. Mulai dari pemilihan destinasi wisata, transportasi hingga akomodasi yang digunakan semua harus sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan.

"Komite harus ambil peran, komite harus tegas tujuannya ke mana, kendaraan atau transportasinya apa itu harusnya kita harus punya standar gitu, lho," ujarnya.

Untuk itu, diperlukan pengawasan yang ketat baik dari sekolah atau komite sekolah. Sehingga kegiatan study tour tidak jadi ajang panitia untuk berbuat curang atau mengeruk keuntungan dari hal tersebut.

Anak study tour. Foto: Shutterstock

"Kalau semuanya diserahkan ke sekolah, ke panitia, biasanya panitia itu asal sudah mengelola uang orientasinya bagaimana supaya lebihnya banyak. Ini yang nggak beres yang seperti itu. Jadi saran saya, satu untuk komite atau orang tua harus memiliki standar perjalanan," tutur Andreas.

"Kedua, standar transportasi, akomodasi dia harus punya standarnya seperti apa karena begitu kejadian yang rugi tuh orang tua kok bukan sekolah. Jadi, kendaraannya seperti apa, safety-nya harus betul-betul diperhatikan," imbuhnya.

Ilustrasi study tour Foto: Dok. Unsplash

Ia menilai bahwa bus-bus yang tidak sesuai dengan peruntukkan menjadi penyebab maraknya kecelakaan saat study tour. Sebagai contoh, dalam penyelidikan bus Putera Fajar yang digunakan rombongan SMK Lingga Kencana, bus tersebut ternyata tidak sesuai peruntukkan. Armada tersebut diketahui merupakan hasil konversi bodi dari unit bus yang cukup lawas. Bahkan sampai mengubah jenis bodi dari standard deck (SD) menjadi super high deck (SHD).

Tak hanya itu, bus dengan nomor polisi AD 7524 OG itu, ternyata telah habis masa berlaku uji berkalanya sejak lima bulan yang lalu. Selain itu, penyebab kecelakaan diduga terjadi akibat bus mengalami rem blong.

"Rata-rata semua kejadian bus antarkota dan yang terbaru ini juga bus antarkota. Makanya saya bilang tadi itu harus menggunakan armada yang betul-betul digunakan untuk melayani hal-hal yang demikian jangan (wisata) menggunakan bus yang antarkota atau bus kota," tutur dia.

Bus Pariwisata vs Bus Antarkota

Ilustrasi bus pariwisata Foto: yahyaernanda/Shutterstock

Menurut dia, bus pariwisata yang sesuai peruntukkan dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang bisa menunjang kebutuhan penumpang. Sebagai contoh, bus pariwisata biasanya dilengkapi dengan pengeras suara untuk pemandu dan fasilitas keselamatan lainnya seperti APAR (Alat Pemadam Api Ringan), pintu keluar darurat, palu pemecah kaca, dan sebagainya.

"Terus ada tempat barang, tempat duduknya tidak mepet, itu memang standar perjalanan jauh, perjalanan wisata bagi penggunanya SOP-nya harus seperti itu," ungkap Andreas.

Memang biasanya bus pariwisata memiliki harga yang lebih mahal, namun lagi-lagi kata dia hal tersebut tentunya sangat sebanding dan jangan tergiur harga murah justru nyawa jadi taruhannya.

"Ya sekarang murah, tapi risiko nyawa melayang. Lebih baik, kan, kalau bagus, selamat, kan, oke. Pilihnya yang mana?," tukasnya.