Kumparan Logo

Sudah Berusia 1.339 Tahun, Ini Kota Tertua di Indonesia

kumparanTRAVELverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Bendera Indonesia. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bendera Indonesia. Foto: Shutterstock

Ada yang bisa menebak apa kota tertua yang ada di Indonesia? Mungkin banyak sebagian dari orang yang belum tahu sebenarnya kota tertua di negara tercinta kita ini.

Dengan memiliki usia kurang lebih 1.339 tahun, Kota Palembang adalah kota tertua di Indonesia. Usia tersebut diambil berdasarkan prasasti Sriwijaya yang dikenal sebagai prasasti Kedudukan Bukit.

Dilansir situs Pemerintah Palembang, prasasti tersebut sudah ada sejak 16 Juni 682. Di mana pada saat itu penguasa Sriwijaya mendirikan Wanua di daerah yang sekarang dikenal sebagai Kota Palembang.

Kapal pencari 'harta karun' di sungai musi, Palembang, Sumatera Selatan. Foto: Abil Achmad Akbar/kumparan

Diberi nama Palembang karena dalam bahasa Melayu Pa atau Pe berarti menunjukkan suatu tempat atau keadaan, sedangkan lembang atau lembeng yang memiliki arti tanah yang rendah, lembah akar yang membengkak karena lama terendam air, atau genangan air.

Karena nama tersebutlah bisa dilihat menurut topografinya, kota ini dikelilingi oleh air dan terendam oleh air. Air-air itu berasal dari sungai, rawa, dan air hujan.

Dengan banyaknya air yang ada di Palembang, nenek moyang di sana pun turut memanfaatkannya untuk dijadikan transportasi yang ekonomis, efisien, punya daya jangkau, dan punya kecepatan yang tinggi.

Ada faktor yang sangat menentukan pembentukan pola budaya bersifat peradaban. Faktor tersebut ialah jaringan dan komoditi dengan frekuensi tinggi yang sudah terbentuk lebih dulu.

Perhiasan emas yang diduga peninggalan masa kerajaan Melayu kuno atau Kerajaan Sriwijaya ditunjukkan oleh pemiliknya di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (28/10/2021). Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto

Hal tersebut berhasil mendorong masyarakat lokal di sana menciptakan pertumbuhan pola kebudayaan tinggi di Sumatera Selatan.

Oleh sebab itu, Palembang dijadikan Ibu Kota Sriwijaya, yang menjadi kekuatan politik dan ekonomi di zaman klasik pada wilayah Asia Tenggara.

Namun, kejayaan Sriwijaya ternyata tidak berlangsung lama. Sriwijaya diambil oleh Kesultanan Palembang Darusallam pada zaman madya, sebagai kesultanan yang disegani di kawasan Nusantara.

Ilustrasi kapal nelayan. Foto: ANTARA FOTO

Banyak cerita, legenda, bahkan mitos yang beredar tentang Sriwijaya. Tentu semua peristiwa yang mereka lihat dicatat dengan baik oleh para pelaut dari China, Arab, dan Parsis.

Pada masanya, pelaut Arab dan Parsis menggambarkan bagaimana keadaan Sungai Musi dan melihat Palembang saat itu seperti salah satu kota di Inggris.

Belum lagi mereka juga menyatakan Palemban sebagai kota yang sangat besar. Sebab, ketika masuk ke kota ini, ayam jantan berkokok tanpa henti dan bersahut-sahutan.

Ilustrasi perahu rakit, Foto: Aditia Rizki Nugraha/kumparan

Kisah-kisah dari pelaut Arab dan Parsis tentu layaknya negeri dongeng. Tapi cerita dari pelaut China tentang kota Palembang akan lebih terasa realistis.

Mereka melihat warga kota ini hidup di atas rakit tanpa dimintai pajak, sedangkan untuk seorang pemimpin akan tinggal di rumah bertiang yang beralaskan tanah kering.

Para pelaut tersebut menyebut Palembang sesuai dengan bahasanya, yaitu Po-lin-fong atau Ku-kang yang memiliki arti pelabuhan lama.