Food & Travel31 Januari 2020 10:21

Survei: Orang Indonesia Rela Bayar Mahal Tiket Pesawat untuk Fasilitas

Konten Redaksi kumparan
Survei: Orang Indonesia Rela Bayar Mahal Tiket Pesawat untuk Fasilitas (1145255)
Ilustrasi tiket pesawat Foto: shutterstock
Bepergian menggunakan pesawat sudah menjadi bagian dari gaya hidup sebagian masyarakat Indonesia. Baik itu untuk sekadar berlibur, mudik, mengunjungi kerabat, atau kebutuhan lainnya. Dengan menggunakan pesawat, waktu dan biaya perjalanan dapat dipangkas, terutama untuk perjalanan dengan jarak yang relatif jauh.
ADVERTISEMENT
Sebagai konsumen, kamu pasti mencari cara termudah untuk mewujudkan liburan impian. Salah satunya dengan menggunakan layanan travel agent online yang menyediakan banyak tawaran menarik, seperti promo diskon.
Namun, ternyata banyak konsumen Indonesia yang mengaku kurang puas dan stres saat memilih tiket pesawat di layanan travel agent online. Hal senada juga diungkapkan oleh survei yang dilakukan Travelport --sebuah perusahaan yang melayani industri travel-- dan Galileo Indonesia, kepada 23 ribu responden di 20 negara.
Survei: Orang Indonesia Rela Bayar Mahal Tiket Pesawat untuk Fasilitas (1145256)
Ilustrasi mencari tiket pesawat. Foto: Abil Achmad Akbar/kumparan
Survei tersebut mengungkapkan bahwa 88 persen wisatawan Indonesia mengalami frustasi saat memilih maskapai penerbangam menggunakan layanan travel agent online. Hal itu karena mereka menganggap bahwa nilai tambah adalah prioritas utama dalam memilih maskapai penerbangan.
Nilai tambah yang dimaksud di sini adalah, bahwa para wisatawan tersebut mencari maskapai penerbangan yang dapat memberikan pelayanan tambahan atau add-ons, seperti ruang kaki yang lebih luas dan makanan ekstra.
Survei: Orang Indonesia Rela Bayar Mahal Tiket Pesawat untuk Fasilitas (1145257)
Gary Harford, Direktur Regional Wilayah Operator APAC Travelport (kanan), Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo), Elly Hutabarat, saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (30/1). Foto: Alfadillah/kumparan
Tidak hanya itu, 24 persen wisatawan Indonesia rela memberikan banyak informasi pribadinya kepada pihak maskapai, asalkan mendapat penawaran menarik yang mereka inginkan. Angka tersebut lebih banyak dibanding persentase rata-rata global yang hanya mencapai 17 persen.
ADVERTISEMENT
"88 persen wisatawan memilih value for money. 24 persen rela memberikan lebih banyak informasi pribadi kepada maskapai guna menerima penawaran yang dipersonalisasi. Ini massive opportunity for travel agent di Indonesia untuk dapat memberikan more relevant option for travelers," kata Gary Harford, Direktur Regional Wilayah Operator APAC Travelport kepada kumparan, Kamis (30/1).
Survei: Orang Indonesia Rela Bayar Mahal Tiket Pesawat untuk Fasilitas (1145258)
Ilustrasi pramugari membantu penumpang anak mengenakan seat belt Foto: Shutter Stock
Selain melihat fasilitas yang diberikan oleh pihak maskapai, para wisatawan Indonesia juga memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap maskapai penerbangan yang dipilih. Tidak hanya itu, 91 persen wisatawan Indonesia mengaku memprioritaskan keandalan maskapai dan jadwal penerbangan yang ideal.
Meskipun banyak wisatawan Indonesia yang memilih liburan karena banyaknya promo tiket murah yang bertebaran, survei tersebut justru membuktikan bahwa hanya 6 persen wisatawan Indonesia yang melakukan pemesanan tiket, karena pertimbangan harga tiket murah.
Survei: Orang Indonesia Rela Bayar Mahal Tiket Pesawat untuk Fasilitas (1145259)
com-Ilustrasi Mencari Tiket Pesawat Secara Online Foto: Shutterstock
Meski banyak wisatawan yang tertarik menggunakan teknologi digital dalam memesan tiket perjalanan wisata, survei juga menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu menjadi hal yang diprioritaskan. Presiden Direktur Galileo Indonesia, Raymond Setokusumo, mengatakan bahwa layanan travel agent konvensional juga masih menjadi pilihan wisatawan Indonesia dalam membeli tiket perjalanan wisata, khususnya generasi baby boomer dan Gen X.
ADVERTISEMENT
"Walaupun online terus berkembang, tapi offline juga ikut berkembang karena wisatawan akan terus bertambah. Keduanya sudah punya pasar masing-masing, jadi tidak perlu khawatir," tutup Raymond.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tim Editor
drop-down
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white