Tato Tubuh, Tradisi Perempuan Suku Belu Agar Tak Jadi Budak Seks

1 Oktober 2022 8:05 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi suku yang punya tato. Foto: Bishal Ranamagar/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi suku yang punya tato. Foto: Bishal Ranamagar/Shutterstock
ADVERTISEMENT
Selama ini tradisi mentato tubuh menjadi salah satu identitas bagi Suku Mentawai. Tapi enggak hanya Mentawai, sebuah suku di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT), juga punya tradisi serupa.
ADVERTISEMENT
Bedanya, kalau Suku Mentawai menjadikan tato sebagai sebuah identitas, Suku Belu menjadikan tato sebagai cara agar terhindar dari budak seks.
Ya, di masa penjajahan Jepang, suku ini menggunakan tato sebagai tanda bahwa mereka sudah menikah dan tak lagi perawan.
Dilansir berbagai sumber, tradisi tersebut telah lama dilakukan oleh para perempuan Suku Belu. Suku Belu, atau disebut juga Suku Tetun/Tetum merupakan salah satu penduduk asli Pulau Timor.
Ilustrasi Suku Terasing Foto: Shutter Stock
Suku ini mendiami sebagian besar Kabupaten Belu, dan bahasa mereka disebut dengan Bahasa Tetun. Selain di Timor Barat, suku ini juga terdapat di Timor Leste.
Menurut cerita, Suku Belu sebelumnya dipercayai berasal dari Malaka, kemudian berpindah ke beberapa tempat sebelum akhirnya tiba di Pulau Timor, yaitu di Belu Selatan.
ADVERTISEMENT
Menariknya, para perempuan Suku Belu akan memakai tato dengan motif tertentu yang melambangkan status sosial mereka.

Tato dan Maknanya Bagi Suku Belu

Bagi masyarakat Suku Belu, tato yang dilukis di tubuh tak hanya menjadi sebuah kecantikan, tetapi juga untuk memperjelas status perkawinan.
Jika ditato pada kaki, hal itu menunjukkan bahwa perempuan tersebut belum menikah. Sedangkan tato yang dibuat di bagian tangan menandakan bahwa perempuan tersebut sudah menikah.
Ilustrasi suku yang punya tato. Foto: David Evison/Shutterstock
Biasanya, tato akan dibuat di kaki dan tangan dengan berbagai motif. Motif yang dibuat adalah motif bunga atau motif berulang, seperti kain tenun. Namun, tak hanya itu ada juga motif yang disesuaikan dengan permintaan seperti nama inisial dan lain sebagainya.
Pembuatan tato diawali dengan prosesi adat yang cukup rumit. Sebelumnya, mereka harus membuat pola di bagian tubuh yang ingin ditato.
Ilustrasi wanita di sebuah suku. Foto: WILLIAM RG/Shutterstock
Adapun, pola tersebut dibuat dengan menggunakan tinta yang berasal dari endapan asap di loteng rumah penduduk ataupun lampu-lampu petromak. Endapan asap tersebut kemudian diberi air dan jadilah sebuah tinta.
ADVERTISEMENT
Pola yang sudah dibuat tadi, kemudian diolesi oleh tinta dari endapan asap tadi yang akan dibuat permanen dengan duri pohon maja.
Duri tersebut ditusuk-tusukan ke kulit mengikuti pola yang ada, tujuannya supaya tinta meresap masuk ke lapisan kulit yang lebih dalam dan menjadi tahan lama.
Menariknya, meski menggunakan alat-alat tradisional dan sederhana, tato tersebut tidak mudah pudar.

Tradisi Agar Tak Jadi Budak Seks

Ilustrasi suku yang punya tato. Foto: David Evison/Shutterstock
Tradisi menato Suku Belu tak hanya menjadi perlambang status perkawinan, tetapi juga dilakukan untuk melawan perbudakan seks pada zaman penjajahan Jepang.
Tentara Jepang tidak akan menyentuh tubuh perempuan bertato, karena dia tahu perempuan-perempuan itu sudah bersuami. Jadi, hal tersebut dianggap sebagai bentuk perlindungan diri dan perlawanan mereka terhadap penjajah.
ADVERTISEMENT
Kalau mereka tidak menahan sakit untuk di tato, maka mereka bersiap untuk diperkosa atau dijadikan budak seks.
Adapun pada zaman penjajahan, perempuan menyembunyikan status mereka dengan menato lengan dan kaki untuk menyatakan bahwa mereka sudah menikah.
Bukti perjuangan ini masih bisa ditemukan pada lengan dan kaki perempuan Malaka yang berumur 60 tahunan ke atas.
Walau demikian, untuk sekarang ini tradisi tersebut sudah banyak mengalami pergeseran, begitupun tradisi tato sudah tidak dilakukan lagi.