Tradisi Chhaupadi, Mengasingkan Wanita Saat Haid karena Dianggap Bawa Bencana

Ada berbagai hal yang dilakukan oleh perempuan--baik secara terpaksa maupun tidak--untuk memenuhi tujuan tertentu. Misalnya, oleh perempuan di berbagai belahan dunia yang terpaksa melalui ritual aneh, unik, dan seringkali menyakitkan untuk menjalani suatu tradisi.
Chhaupadi salah satunya. Tradisi yang sudah berakar di wilayah pedesaan Nepal ini mendorong perempuan yang sedang dalam periode menstruasi atau haid untuk hidup terisolasi dan disiksa di dalam gubuk dengan alasan keagamaan dan adat.
Menurut bahasa Nepal, Chhaupadi, berarti memiliki kenajisan. Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun selama ratusan tahun. Wanita yang sedang menstruasi atau dalam masa nifas akan tinggal di tempat yang terpisah berbentuk gubuk yang dikenal sebagai gubuk menstruasi.
Dilansir Actionaid, perempuan yang sedang mengalami menstruasi itu dikhawatirkan akan memberi bencana untuk keluarga. Menurut keyakinan masyarakat setempat, apabila wanita yang sedang menstruasi atau masa nifas dibiarkan tinggal dalam rumah dan tidak diasingkan ke gubuk khusus, maka akan ada kejadian buruk yang hadir meliputi keluarganya.
Beberapa di antaranya seperti harimau yang datang, rumah terbakar, atau kepala rumah tangga yang menderita sakit secara tiba-tiba. Maka dari itu, mereka diusir dari rumah dan diasingkan.
Biasanya gubuk menstruasi dibuat secara khusus oleh keluarga untuk anak-anak perempuan dan menantu mereka. Misalnya gudang pertanian, lumbung, atau gubuk di antara kandang sapi, kerbau, atau kambing yang berbau tidak sedap.
Selama pengasingan, banyak perempuan yang meninggal. Penyebabnya: suhu yang amat panas, sesak napas akibat terlalu banyak menghirup asap api unggun, hingga digigit ular kobra. Mereka juga sering menjadi korban pemerkosaan.
Ritual ini dianggap tidak berperikemanusiaan lantaran banyak wanita yang meninggal dunia akibat tradisi tersebut. Pada awal tahun 2019 silam, seorang ibu dan dua anak laki-laki meninggal dunia di dalam gubuk saat sedang menjalani tradisi Chhaupadi di distrik Bajura.
Kala itu, Amba dan kedua anak-anaknya ditemukan tak bernyawa karena keracunan asap perapian yang nyalakan di dalam gubuk menstruasi tanpa jendela tempatnya terisolasi. Diperkirakan mereka meninggal akibat menghirup asap yang muncul dari perapian yang digunakan untuk menghangatkan badan saat musim dingin menerpa Nepal.
Menurut laporan New York Times, meskipun praktik Chaupadi dinyatakan ilegal oleh Mahkamah Agung Nepal sejak 2005, para perempuan di itu terus melakukan tradisi Chhaupadi. Hal itu karena tekanan sosial dan rasa bersalah yang selalu menimpa mereka setiap kali mengalami menstruasi.
Setiap malam, ratusan perempuan yang masih menjalani tradisi tersebut keluar rumah mereka dan berjalan melintasi bukit-bukit menuju gubuk menstruasi.
Selain itu, wanita yang sedang menstruasi dan dalam masa nifas juga dilarang melakukan ibadah, menyentuh ikon agama, pria, dan sumber air yang digunakan secara umum oleh masyarakat. Mereka juga tidak diizinkan untuk mandi dan mencuci pakaian.
***
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!
