Tradisi Minum Air Seni Unta ala Masyarakat Yaman, Berani Coba?

4 November 2018 16:44
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tradisi Minum Air Seni Unta ala Masyarakat Yaman, Berani Coba? (18391)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi minum air seni unta Yaman (Foto: Putri Sarah Arifira/kumparan)
ADVERTISEMENT
Bicara tentang tradisi memang tidak ada habisnya. Setiap tradisi yang berasal dari dalam maupun luar negeri memiliki ciri khas dan keunikannya masing-masing.
ADVERTISEMENT
Walaupun prosesi dan tata cara pelaksanaannya banyak yang mengundang kontroversi, tradisi tak pernah bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Pasalnya, tradisi adalah salah satu bentuk kearifan lokal yang memiliki tujuan mulianya masing-masing.
Yaman misalnya, demi menyembuhkan penyakit dan menjaga kesehatan, penduduknya melakukan sebuah tradisi turun-temurun yaitu meminum air seni unta. Ya, air seni unta.
Tradisi Minum Air Seni Unta ala Masyarakat Yaman, Berani Coba? (18392)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi unta (Foto: REUTERS/Faisal Al Nasser)
Air seni unta dipercaya masyarakat di Semenanjung Arab memiliki khasiat yang baik bagi kesehatan. Menenggak urin unta diyakini dapat mengobati penyakit pada pria dan membuat tubuh sehat serta bugar.
Sedangkan bagi wanita, air seni unta dipercaya dapat mengatasi masalah pada rambut seperti rambut rontok. Dengan mengonsumsi air seni unta, masyarakat Yaman percaya bahwa kulit kepala mereka akan lebih sehat, kerontokan berkurang, dan nantinya rambut mereka akan menjadi sehat, lebih indah, dan mengkilap. Wah, menarik sekali, kan?
ADVERTISEMENT
Hanya saja cara mengonsumsinya berbeda. Bagi pria, mereka mesti menenggak air seni dari hewan berpunuk tersebut. Sedangkan wanita atau orang-orang yang membutuhkan khasiat urin ini pada rambutnya, mereka dapat menjadikannya sebagai tonic atau sampo.
Tradisi Minum Air Seni Unta ala Masyarakat Yaman, Berani Coba? (18393)
zoom-in-whitePerbesar
Bachtiar Nasir minum air kencing unta (Foto: Instagram @bachtiarnasir)
Menariknya, karena praktik tradisi mengonsumsi air seni unta telah terjadi secara turun-temurun dan dianggap memiliki khasiat yang luar biasa, tak jarang dokter di Yaman meresepkannya bagi para pasien.
Begitu juga dengan pihak salon yang berurusan dengan masalah rambut konsumennya. Beberapa dari mereka menggunakan air seni unta sebagai treatment alami untuk mengurangi rambur rontok para pelangganya.
Selain dapat mengobati penyakit pada pria dan mengurangi kerontokan rambut, air seni unta diyakini masyarakat Yaman dapat mengobati kanker dan penyakit liver. Mengonsumsi air seni dan susu unta juga kabarnya dapat mengobati proriasis atau peradangan menahun pada kulit.
Tradisi Minum Air Seni Unta ala Masyarakat Yaman, Berani Coba? (18394)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Unta (Foto: Reuters/David W Cerny)
Sayang, pendapat ini ternyata ditentang oleh Universitas Sanaa, universitas pertama di Yaman yang telah berdiri sejak 1970. Universitas Sanaa mengklaim bahwa air seni unta dapat membahayakan sistem pencernaan manusia.
ADVERTISEMENT
Namun di balik kepercayaan penduduk Arab khususnya Yaman pada tradisi ini, ternyata tradisi meminum air seni sapi ini sudah ada sejak dulu kala. Karena tradisi ini, para peternak unta nomaden yang hidup dengan berpindah-pindah dapat lebih mudah mendapatkan uang.
Pasalnya dengan unta yang mereka bawa, mereka bisa menjual air seni ke setiap tempat yang mereka singgahi, asalkan tempat itu menjalankan tradisi mengonsumsi air seni unta. Pasalnya peternak unta biasanya berdomisili di daerah-daerah terpencil seperti Provinsi Hudeida dan Mukallah.
Tradisi Minum Air Seni Unta ala Masyarakat Yaman, Berani Coba? (18395)
zoom-in-whitePerbesar
Pasar Unta di Kairo, Mesir (Foto: REUTERS/Amr Abdallah Dalsh)
Walau diyakini memiliki berbagai macam khasiat bagi tubuh manusia dan ditawarkan sebagai salah satu 'cara' wisatawan mengalami kehidupan ala masyarakat lokal, ternyata secara ilmiah, statistik penelitian tentang urin unta masih jarang ditemukan. Sehingga wajar saja jika tradisi ini masih menjadi perdebatan dan tentunya menimbulkan kontroversi.
ADVERTISEMENT
Dilansir US News, WHO (World Health Organization) mengimbau agar praktik meminum air seni unta dihentikan. Menurut WHO, meminum air seni unta dapat meningkatkan peluang MERS (Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus).
Menurut rilis terakhir yang diterbitkan organisasi kesehatan dunia itu, terdapat sekitar 64 kasus penyakit di Korea Selatan yang berasal dari unta. Lima di antaranya bahkan dapat menyebabkan kematian.
Sebagai tindakan pencegahan, WHO bahkan mendesak masyarakat untuk menghindari susu maupun urin unta sebagai bahan konsumsi. Lebih ekstrem lagi, masyarakat bahkan dihimbau untuk menjauhi unta.
WHO menyarankan agar setiap orang yang melakukan kontak fisik dengan hewan, terutama unta mesti membersihkan tubuh untuk meminimalisir potensi virus yang beredar. Misalnya dengan mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh hewan serta menghindari hewan yang sakit.
Tradisi Minum Air Seni Unta ala Masyarakat Yaman, Berani Coba? (18396)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi unta (Foto: REUTERS/Faisal Al Nasser)
Tradisi minum air seni unta di Yaman bukanlah tradisi pertama atau satu-satunya yang menuai kontroversi. Di lain negara, ada tradisi Grindadrap di Denmark yang melakukan pembantaian secara besar-besaran pada ikan lumba-lumba dan mengundang perhatian para pemerhati binatang.
ADVERTISEMENT
Di Kenya, Afrika, Suku Pokot memiliki tradisi yang ditentang oleh UNICEF dan PBB karena dianggap melanggar hak kemanusiaan, Yaitu tradisi sunat wanita dengan tujuan menjaga kesetiaan mereka pada suaminya kelak sekaligus sebagai proses transisi menjadi wanita.
Bagaimana menurutmu, apakah kamu ingin mencoba pengobatan dengan air seni unta yang jadi tradisi masyarakat Yaman?
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020