Food & Travel
·
28 Maret 2021 8:10

Tradisi Minum Darah, Cara Suku Maasai Dapat Kekuatan Taklukkan Raja Hutan

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Tradisi Minum Darah, Cara Suku Maasai Dapat Kekuatan Taklukkan Raja Hutan (215941)
Upacara Kedewasaan Suku Maasai di Kenya Foto: Reuters/Baz Ratner
Setiap suku di berbagai belahan dunia memiliki adat dan tradisi masing-masing dengan keunikannya tersendiri. Terkadang, tradisi dan ritual yang dilakukan terdengar tak masuk akal dan membahayakan.
ADVERTISEMENT
Salah satunya suku Maasai, kelompok suku asli Afrika Timur. Suku yang memiliki pola hidup nomaden di Kenya dan Tanzania ini punya tradisi minum darah yang wajib dilakukan penduduknya.
Darah yang mereka minum merupakan darah segar yang diambil dengan cara melukai hewan ternak mereka. Menurut suku ini meminum darah dapat meningkatkan kekebalan tubuh mereka dan mampu meminimalkan efek dari mabuk.
Tradisi Minum Darah, Cara Suku Maasai Dapat Kekuatan Taklukkan Raja Hutan (215942)
Upacara Kedewasaan Suku Maasai di Kenya Foto: Reuters/Baz Ratner
Dilansir Atlas Obscura, menurut suku Maasai, minum darah adalah bagian dari makanan pokok yang terdiri dari, daging, susu, lemak, madu, dan kulit pohon. Baik darah dan susu biasanya dikonsumsi selama ritual dan perayaan, seperti pernikahan, tetapi juga berfungsi sebagai sumber kalori dan nutrisi.
Sejak dulu suku Maasai mahir mengolah setiap bagian sapi menjadi makanan yang enak. Biasanya mereka akan menggunakan susu sebagai campuran makanan. Mereka juga gemar memakan daging sapi yang masih mentah.
ADVERTISEMENT
Menurut para ahli, pandangan Suku Maasai terhadap darah seperti jenis makanan biasa dan makanan yang disucikan. Ibarat popeye yang menjadi kuat usai makan bayam, minum darah bagi suku ini memberikan kekuatan luar biasa untuk menaklukan raja hutan, seperti Singa.
Tradisi Minum Darah, Cara Suku Maasai Dapat Kekuatan Taklukkan Raja Hutan (215943)
Upacara Kedewasaan Suku Maasai di Kenya Foto: Reuters/Baz Ratner
Karena tujuan utama mereka mengambil darah sapi, jadi kebanyakan pria di suku Maasai tidak menyembelih sapi mereka. Tujuannya agar mereka bisa memaksimalkan produksi darah di dalam tubuh sapi.
Cara pengambilan darahnya cukup unik, biasanya sekelompok pria di suku Maasai akan memegangi satu ekor sapi. Kemudian mereka meletakkan wadah atau ember di sekitar leher sapi. Ketika mereka sudah menemukan titiknya, mereka akan menusuk sedikit permukaan kulit sapi menggunakan panah hingga darahnya keluar.
ADVERTISEMENT
Setelah darah yang diambil terasa cukup mereka akan mengobati sapi itu. Sehingga sang sapi tidak langsung mati dan darahnya bisa diambil lagi di kemudian hari. Sistemnya persis seperti susu perah.
Karena sapi dianggap sebagai hewan yang penting dalam budaya suku Maasai. Jadi proses pengambilan darahnya pun tidak kejam. Sapi dianggap sebagai simbol status. Semakin banyak seseorang memiliki sapi maka semakin tinggi statusnya di suku Maasai.
Tradisi Minum Darah, Cara Suku Maasai Dapat Kekuatan Taklukkan Raja Hutan (215944)
Upacara Kedewasaan Suku Maasai di Kenya Foto: Reuters/Baz Ratner
Darah sapi juga jadi minuman yang populer bagi orang tua di suku Maasai yang tidak bisa tidur. Bahkan meminum secangkir darah sapi diklaim bisa menyembuhkan pengar atau hangover setelah meminum alkohol.
Sementara itu, suku Maasai dikenal dengan tradisinya yang unik yaitu berburu singa sebagai salah satu syarat untuk dapat menjadi seorang prajurit. Berburu singa biasanya dilakukan oleh anak laki-laki dengan menggunakan tombak bersama dengan kelompoknya.
Tradisi Minum Darah, Cara Suku Maasai Dapat Kekuatan Taklukkan Raja Hutan (215945)
Upacara Kedewasaan Suku Maasai di Kenya Foto: Reuters/Baz Ratner
Mereka yang berhasil melumpuhkan singa akan dianggap dewasa dan memiliki derajat yang lebih tinggi. Namun, tak sembarang singa boleh Suku Maasai buru. Singa betina dan dan yang terluka adalah singa yang masuk kategori pengecualian dalam tradisi ini.
ADVERTISEMENT
Tradisi ini sah dilakukan Suku Maasai sejak zaman dahulu. Tanpa melakukan tradisi berburu singa, seorang anak laki-laki tidak akan pernah dianggap cukup dewasa. Dan hasilnya, mereka juga tidak akan bisa menjadi seorang prajurit. Yang bukan hanya melindungi diri dan keluarga, tetapi juga tanah tempat tinggal mereka, ternak, dan sukunya.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona).