Turbulensi Diprediksi Makin Ekstrem, Studi Ini Ungkap Penyebabnya
·waktu baca 3 menit

Turbulensi selama penerbangan kerap menjadi momok bagi penumpang pesawat. Guncangan udara hebat di ketinggian bisa jauh lebih menegangkan, bahkan untuk traveler berpengalaman.
Sayangnya, ilmuwan memperingatkan bahwa turbulensi diprediksi akan semakin buruk di masa mendatang akibat perubahan iklim global.
Hal itu terungkap dalam jurnal ilmiah yang dipublikasikan baru-baru ini, yaitu Journal of the Atmospheric Sciences oleh tim ilmuwan dari University of Reading, Inggris, seperti dilansir Best of Life.
Melanjutkan penelitian sebelumnya, studi ini menyoroti bagaimana peningkatan suhu global memengaruhi jet stream atau arus angin di ketinggian sekitar 35.000 kaki yang menjadi jalur terbang pesawat komersial.
Para ilmuwan menemukan bahwa pemanasan global menyebabkan wind shear atau perbedaan kecepatan angin antar ketinggian menjadi semakin kuat, menciptakan kondisi udara yang jauh lebih tidak stabil dan berpotensi menghasilkan turbulensi yang lebih parah.
“Peningkatan wind shear dan penurunan stabilitas atmosfer bekerja bersama menciptakan kondisi ideal bagi clear-air turbulence, guncangan mendadak tak terlihat yang dapat mengguncang pesawat tanpa peringatan,” jelas Joana Medeiros, peneliti doktoral dan penulis utama studi tersebut.
“Berbeda dengan turbulensi akibat badai, clear-air turbulence tidak terdeteksi radar, sehingga sulit dihindari pilot," lanjutnya.
Kasus Turbulensi Hebat Meningkat Drastis
Penelitian baru ini memperkuat temuan sebelumnya yang dirilis tahun 2023 dalam Geophysical Research Letters. Studi tersebut menunjukkan bahwa jalur penerbangan di atas Atlantik Utara mengalami peningkatan 55 persen jam turbulensi berat, dari 17,7 jam pada 1979 menjadi 27,4 jam pada awal dekade ini. Turbulensi sedang naik 37 persen dan turbulensi ringan meningkat 17 persen pada periode yang sama.
Lonjakan tersebut tidak hanya menambah kecemasan penumpang, tetapi juga membawa dampak ekonomi besar. Menurut salah satu penulis studi, Mark Prosser, industri penerbangan di AS menghabiskan antara 150 juta hingga 500 juta dolar AS per tahun untuk kerugian operasional terkait turbulensi. Selain itu, paparan turbulensi mempercepat keausan pesawat.
Berdasarkan data National Transportation Safety Board (NTSB), sejak 2009 hingga 29 Juli 2025, telah terjadi 207 kasus penumpang yang harus dirawat di rumah sakit minimal dua hari akibat cedera serius terkait turbulensi.
Prediksi: Bisa Meningkat Dua Hingga Tiga Kali Lipat
Menurut Paul Williams, ilmuwan atmosfer dan salah satu penulis studi, masa depan penerbangan diperkirakan akan jauh lebih bergejolak.
“Kita dapat melihat peningkatan dua hingga tiga kali lipat turbulensi parah di seluruh dunia dalam beberapa dekade mendatang,” ujar Williams kepada BBC.
“Jika saat ini kita mengalami 10 menit turbulensi berat, ke depan itu bisa menjadi 20 hingga 30 menit,” tambahnya.
Walau tidak semua turbulensi akan berujung pada insiden serius, pengalaman penerbangan dipastikan akan berubah.
“Pilot mungkin harus menyalakan tanda sabuk pengaman lebih lama dan menghentikan layanan kabin lebih sering. Maskapai juga butuh teknologi baru untuk mendeteksi turbulensi lebih dini demi melindungi penumpang,” kata Williams.
