Kumparan Logo

Upaya Mengembalikan Batu-batu Candi Plaosan ke Tempat Semula

kumparanTRAVELverified-green

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kompleks Candi Plaosan terlihat dari udara di Klaten, Jawa Tengah. Foto: Rama Saputra/kumparan.
zoom-in-whitePerbesar
Kompleks Candi Plaosan terlihat dari udara di Klaten, Jawa Tengah. Foto: Rama Saputra/kumparan.

Pernah kepikiran enggak, bagaimana tim pemugar mengetahui sebuah batu candi yang sudah berusia ratusan tahun harus dikembalikan ke bagian mana?

Ternyata, prosesnya tak sesederhana mencari bentuk yang terlihat cocok. Setiap batu perlu ditelusuri, dicocokkan dengan bagian lain, lalu dipastikan posisinya sebelum dipasang kembali.

Proses itu kini berlangsung dalam pemugaran Candi Plaosan di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Salah satu tahap pentingnya ditandai dengan peletakan batu tutup sungkup Candi Perwara Deret 1 Nomor 2 yang dilaksanakan pada Rabu, 9 September 2026.

Pemugaran dilakukan karena sejumlah candi perwara di kompleks tersebut sudah tidak lagi berdiri utuh. Batu-batu penyusunnya runtuh dan tersebar, sementara beberapa bagian struktur bawah juga mengalami kerusakan.

Padahal, Candi Plaosan menyimpan jejak peradaban dari masa Mataram Kuno yang telah bertahan lebih dari seribu tahun. Karena itu, memugar candi bukan sekadar membuat bangunannya kembali berdiri. Setiap bagian harus ditempatkan dengan dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Seperti Menyusun Puzzle yang Rusak

Staf Museum dan Cagar Budaya Bambang Kasatrianto menjelaskan, lokasi ditemukannya batu menjadi salah satu petunjuk awal untuk menentukan dari struktur mana batu tersebut berasal.

“Paling gampang itu melihat lokasi batu dulu ditemukan. Itu menjadi salah satu penentu di mana lokasi yang paling dekat,” ujar Bambang.

Dalam prosesnya, ada tenaga khusus yang disebut suker untuk mencari batu, dan steller yang mencocokkan lalu menentukan penempatannya.

Batu yang ditemukan kemudian dikelompokkan dan melalui proses anastilosis atau susun coba. Tim menyusun batu lapis demi lapis untuk melihat sambungan dan keterkaitan antara satu bagian dengan bagian lainnya.

“Setiap lapis ketemu, nanti lapis berikutnya ketemu. Misal di situ belum ketemu, kita mencoba mencari di lokasi lain yang memiliki ciri-ciri atau kesamaan atau sambungan, misal dari motif reliefnya,” jelas Bambang.

Jadi, bentuk bukan satu-satunya petunjuk. Lokasi penemuan, sambungan antarbatu, motif relief, hingga catatan mengenai batu yang pernah dipindahkan ikut membantu tim menentukan asalnya.

Pekerjaan itu kurang lebih seperti menyusun puzzle. Bedanya, sebagian kepingnya sudah berpindah, rusak, tertimbun, bahkan tidak lagi ditemukan.

Setelah susun coba, tim melakukan ekskavasi di bagian bawah candi. Dari penggalian itu, batu yang dulunya menjadi bagian tubuh hingga atap candi juga bisa ditemukan dalam kondisi tertimbun. Batu tersebut kemudian kembali dicocokkan sebelum dipasang.

Namun, tidak semua batu yang terlihat cocok langsung digunakan. Bambang mencontohkan proses pada Candi Perwara Nomor 50. Ada sejumlah batu yang diduga menjadi bagian dari bangunan tersebut, tetapi tim steller belum memiliki dasar yang cukup untuk memastikan posisinya.

Steller ini enggak berani untuk menentukan, ini benar nomor 50 atau enggak. Akibatnya, khusus di nomor 50 itu kita menggunakan batu baru,” katanya.

Batu baru digunakan untuk menggantikan bagian yang dibutuhkan struktur ketika batu aslinya tidak ditemukan. Bagian pengganti dibuat polos agar tetap dapat dibedakan dari batu asli.

Sebelum candi disusun kembali, bagian bawah bangunan juga diperkuat. Setelah struktur dinilai cukup stabil, batu dipasang perlahan mulai dari kaki, tubuh, hingga atap.

Satu candi perwara dapat dikerjakan sekitar 30 orang dengan tugas masing-masing. Kelima perwara yang saat ini dipugar memiliki tim berbeda sehingga prosesnya dapat berjalan bersamaan.

Perwara Nomor 2 Mulai Masuk Tahap Akhir

Kompleks Candi Plaosan dengan deretan candi perwara yang mengelilingi candi induk. Foto: Rama Saputra/kumparan.

Setelah melewati pencarian batu, susun coba, ekskavasi, dan penguatan struktur, pemugaran Candi Perwara Deret 1 Nomor 2 kini telah mencapai bagian atas bangunan.

Salah satu tahapnya adalah pemasangan batu tutup sungkup. Bambang menjelaskan, batu tersebut berfungsi sebagai penutup sekaligus salah satu bagian pengunci struktur atas candi.

“Ibaratnya kalau puzzle-puzzle terakhir, yang di tengah itu malah jadi kuncinya,” ujarnya.

Pekerjaan belum sepenuhnya selesai setelah batu tutup sungkup terpasang. Tim masih perlu memasang bagian atas lainnya, termasuk mercu. Namun, sejumlah batu untuk tahap tersebut sudah lebih dahulu dicari dan melalui proses susun coba.

Peletakan batu tutup sungkup yang dilakukan pada Rabu, 9 September 2026 pun menjadi penanda bahwa pemugaran Perwara Nomor 2 mulai mendekati tahap akhir.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang hadir dalam prosesi itu turut menggambarkan rumitnya pekerjaan para pemugar. Menurutnya, sebagian batu telah hilang, sementara batu lainnya mengalami pelapukan.

“Kita bisa saksikan batu-batu ini seperti puzzle. Sebagian batu ini banyak yang sudah tidak ada atau hilang,” kata Fadli.

Karena itu, teknologi juga mulai dilihat sebagai salah satu cara untuk membantu proses pemugaran. Fadli mengatakan teknologi dan cara kerja baru dapat membantu tim menyusun kembali batu-batu candi yang kondisinya sudah tidak lagi utuh.

“Sekarang dengan adanya teknologi kita bisa menyusun puzzle dari batu-batu ini,” kata Fadli.

Meski demikian, pekerjaan di lapangan masih membutuhkan keterampilan tim pemugar. Suker bertugas mencari batu, sementara steller mencocokkan dan menentukan penempatannya sebelum batu kembali dipasang ke struktur.

Lima candi yang sedang dipugar, yakni Perwara Deret 1 Nomor 1, 2, 3, 10, dan 50, baru sebagian dari kompleks Plaosan. Kompleks tersebut memiliki 72 candi perwara dan 268 stupa.

Staf Museum dan Cagar Budaya Febri Wijanarko menjelaskan, berdasarkan kajian prasasti dan paleografi, pembangunan Candi Plaosan diperkirakan berlangsung sejak akhir abad ke-8 hingga pertengahan abad ke-9 Masehi.

Plaosan merupakan kompleks percandian berlatar Buddha dengan dua candi induk yang bentuknya hampir serupa, serta dikelilingi candi perwara dan stupa. Sejumlah elemen arsitekturnya juga menunjukkan pengaruh Hindu.

Peninggalan dari masa itu masih dapat ditelusuri lewat detail bangunannya, mulai dari relief, kalamakara, sulur-suluran, hingga mercu.

“Kalau kita mau belajar soal reliefnya sendiri kan banyak motif-motif yang ada di situ. Kemudian bicara ornamen candinya, ada kalamakara, sulur-suluran, ada mercu yang punya pemaknaan sendiri-sendiri,” kata Bambang.

Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Estiyanti Nurjadin mengatakan nilai keberagaman menjadi salah satu hal yang ingin diangkat dari Candi Plaosan.

Bukan hanya bangunannya yang ingin dipertahankan. Plaosan juga diharapkan tetap menjadi living heritage yang hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.

Kolaborasi dengan Djarum Foundation

Candi induk dan sejumlah candi perwara di Kompleks Candi Plaosan. Foto: Rama Saputra/kumparan.

Pemugaran lima candi perwara Plaosan dilakukan melalui kolaborasi Museum dan Cagar Budaya dengan Djarum Foundation.

Director Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, mengatakan pemugaran candi memiliki proses yang jauh berbeda dari memperbaiki bangunan pada umumnya.

“Prosesnya memang bukan proses seperti gedung kemudian dicat. Kita turunkan satu per satu, kemudian kita bongkar layer paling akhir, kita perkuat fondasinya, kemudian baru kita bangun kembali,” ujarnya.

Menurut Mutiara, pekerjaan tersebut melibatkan banyak pihak dengan keahlian berbeda, mulai dari arkeolog hingga tenaga pemugar yang bekerja langsung mencari dan mencocokkan batu.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin, mengatakan keterlibatan pihak swasta menjadi salah satu cara untuk memperluas upaya pelestarian, mengingat banyaknya warisan budaya Indonesia yang perlu dirawat.

Pekerjaan menjaga Plaosan juga tidak berhenti ketika pemugaran selesai. Mutiara mengatakan pengelolaan lingkungan di sekitar candi perlu diperhatikan, mulai dari sampah hingga pemilihan jenis tanaman agar tidak mengganggu struktur bangunan.

“Menjaga bangunan candi itu seperti merawat sejarah kita. Kita harus ingat dari mana asal kita dan bagaimana kita akan memberikan estafet ini kepada generasi muda,” tuturnya.

Batu tutup sungkup di Perwara Nomor 2 mungkin hanya satu bagian dari Kompleks Candi Plaosan. Namun, untuk mengembalikannya ke tempat semula, batu-batu lain harus dicari, dicocokkan, dan diperiksa satu per satu.

Sebab, dalam pemugaran candi, yang dijaga bukan hanya bangunannya, tetapi juga jejak sejarah yang tersimpan di dalamnya.

(kS)