Kumparan Logo

Wisata Petualangan Jadi Tren Global, Kemenpar: Indonesia Bisa Jadi Unggulan

kumparanTRAVELverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi traveler traveling di alam sambil membuka smartphone. Foto: A_B_C/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi traveler traveling di alam sambil membuka smartphone. Foto: A_B_C/Shutterstock

Wisata petualangan (adventure tourism) tengah menjadi tren global yang kian digemari wisatawan dunia. Tak hanya mencari hiburan, banyak wisatawan kini mendambakan pengalaman yang lebih menantang, otentik, serta lekat dengan budaya lokal.

Asisten Deputi Manajemen Industri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenpar), Budi Supriyanto, menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk tampil sebagai destinasi unggulan di sektor ini.

“Indonesia punya gunung, laut, hutan, hingga kekayaan budaya yang bisa dikemas sebagai produk pariwisata berkelas dunia. Apalagi kita baru saja meraih gelar Asia’s Leading Adventure Tourism Destination, dalam ajang World Travel Award 2024,” kata Budi, seperti dikutip dari Antara.

Ilustrasi wisatawan Indonesia. Foto: Dok. Kemenparekraf

Dengan lanskap yang beragam, Indonesia menawarkan pilihan petualangan, mulai dari mendaki Rinjani, menyelam di Raja Ampat, menyusuri hutan Kalimantan, hingga wisata budaya di Sumba. Ragam aktivitas ini diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, sekaligus membuka lapangan kerja baru.

Selain itu, wisata petualangan dipandang strategis dalam mendorong praktik pariwisata berkelanjutan yang memperhatikan kelestarian alam, dan keberlangsungan budaya lokal.

Tantangan Pengembangan Pariwisata

Meski peluangnya besar, Budi menekankan adanya sejumlah tantangan yang harus dihadapi, seperti memastikan aspek keamanan wisatawan, menjaga kelestarian lingkungan, hingga meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia di sektor pariwisata.

“Kita perlu kerja sama erat antara pemerintah, industri, dan masyarakat, agar wisata petualangan tumbuh berkelanjutan, serta memberi manfaat luas,” ujarnya.

Ilustrasi wisatawan asing di Kawah Ijen Foto: Dok. Kemenparekraf

Pariwisata terbukti menjadi salah satu sektor yang menjaga ketahanan ekonomi nasional. Hingga Juni 2025, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tercatat naik 9,44 persen, sementara pergerakan wisatawan nusantara tumbuh 25,93 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Meski demikian, Budi mengakui masih ada tantangan lain, yakni rendahnya tingkat hunian di akomodasi legal.

“Dari kenaikan kunjungan, yang tercatat di akomodasi resmi baru sekitar 50 persen,” pungkasnya.