3 Alasan Balikan dengan Mantan Buruk untuk Kesehatan Mental Kamu
·waktu baca 3 menit

Jagat maya tengah diramaikan dengan kabar dugaan putusnya hubungan influencer Awkarin dengan penyanyi Gangga Kusuma pada Sabtu (12/3). Keduanya diketahui sudah bertunangan pada 29 November 2021, tepat di hari ulang tahun Awkarin.
Sebelumnya pada 2019, hubungan Awkarin dan Gangga memang sempat kandas. Keduanya kemudian kembali menjalin hubungan pada 2021. Hubungan Awkarin dan Gangga pun diduga berakhir lagi pada Maret 2022.
Tidak sedikit warganet yang turut kecewa atas kabar tersebut. Ada pula yang mengungkapkan bahwa balikan dengan mantan tidak disarankan, terlebih ketika hubungan berakhir dengan kurang baik.
Sejumlah psikolog sebenarnya juga menyatakan bahwa menjalin kembali hubungan asmara yang sudah kandas bisa menjadi ide buruk. Ada beberapa alasan yang melandasi hal ini.
Nah, kumparanWOMAN telah merangkum penjelasan ilmiah soal tidak dianjurkannya balikan dengan mantan pacar. Simak selengkapnya di bawah ini, Ladies.
1. Risiko saling berkonflik lebih tinggi
Menurut psikolog Tyler Jamison dalam Psychology Today, pasangan yang putus dan kembali menjalani hubungan lebih berisiko untuk berkonflik. Bahkan, perseteruan antara keduanya bisa melibatkan kekerasan fisik dan verbal.
Jamison mengutip penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal National Center for Biotechnology Information (NCBI) Amerika Serikat pada 2013 lalu.
Menurut penelitian itu, orang-orang yang hubungannya putus-nyambung (churning) ternyata dua kali lipat berisiko mengalami kekerasan fisik, dibandingkan mereka yang hubungannya stabil atau yang putus sepenuhnya.
Kemudian, mereka yang hubungannya tidak stabil setengah kali lipat lebih berisiko mengalami kekerasan verbal, dibanding pasangan yang stabil atau putus sepenuhnya.
2. Peningkatan risiko tekanan psikis
Pasangan yang putus-nyambung berisiko mengalami peningkatan tekanan psikis. Mengutip USA Today, dalam sebuah penelitian dari University of Missouri yang dipublikasikan dalam jurnal Family Relations, tekanan psikologis dalam bentuk depresi dan kecemasan berisiko terjadi pada pasangan yang putus-nyambung.
Tingkat komitmen dan komunikasi yang ditemukan pada pasangan yang kembali menjalani hubungan disebut lebih rendah, dibandingkan pasangan yang hubungannya stabil.
3. Kehilangan diri sendiri
Dalam proses putus lalu balikan dengan mantan ternyata bisa membuat kamu kehilangan diri sendiri. Menurut psikolog Gary W Lewandowski Jr dalam Psychology Today, mereka yang cenderung ingin terus balikan dengan mantan kekasih adalah orang-orang yang mengalami kecemasan berlebih (high attachment anxiety) dan memiliki pemahaman konsep diri sendiri yang lebih rendah.
Lewandowski mengutip dari studi yang dilakukan oleh Morgan Cope dan Brent Mattingly, dipublikasikan dalam jurnal SAGE pada Oktober 2020.
Ia menjelaskan, ketika putus, orang-orang mengalami peristiwa yang membuatnya tidak stabil (destabilizing experience) dan kebingungan. Untuk mengurangi hal itu, seseorang berusaha kembali kepada mantannya.
Karena pasangan membuat mereka merasa seperti “diri mereka sendiri”, mereka pun akan kembali ke “zona nyaman” tersebut. Jika terlepas dari pasangan, mereka tidak akan merasa seperti "diri sendiri".
Dalam prosesnya, ini bisa menciptakan rasa ketergantungan dan akhirnya membuat mereka lebih mengutamakan perasaan dan kebahagiaan pasangannya di atas dirinya sendiri. Ini bisa membuat mereka melupakan diri sendiri.
Perlu dicatat, Ladies, keputusan untuk balikan dengan mantan selalu ada di tangan masing-masing. Namun, pertimbangan yang matang dan mengutamakan kebahagiaan diri sendiri harus selalu jadi nomor satu, ya!
