Kumparan Logo

3 Fakta Hari Perempuan dalam Sains pada 11 Februari, Kenapa Penting Dirayakan?

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi peneliti perempuan. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi peneliti perempuan. Foto: Shutterstock

Ladies, pada 11 Februari setiap tahunnya, dunia merayakan Hari Perempuan dan Anak Perempuan dalam Sains (International Day of Women and Girls in Science). Hari ini menjadi bentuk kepedulian terhadap para perempuan yang berkiprah dalam dunia STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dan dukungan untuk mereka yang baru ingin melangkah ke bidang tersebut.

Perayaan internasional ini ditetapkan oleh Majelis Umum UNESCO pada 22 Desember 2015. Mengutip situs resmi UNESCO, hari peringatan tersebut dihadirkan dengan tujuan untuk mengakui peran penting perempuan dan anak perempuan dalam sains dan teknologi.

Dalam keterangan resmi oleh UN Women, perkembangan sains, teknologi, dan inovasi mempercepat perubahan cara hidup masyarakat, tak terkecuali perempuan. Namun, perkembangan tersebut turut menghadirkan tantangan-tantangan baru bagi perempuan.

“Untuk perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia, perubahan ini membawa kebebasan baru, bentuk-bentuk baru terhadap akses informasi, dan kesempatan baru terhadap kreativitas, bersamaan dengan risiko baru terhadap keamanan, representasi, dan pembagian pekerjaan yang pantas,” ucap UN Women pada Minggu (11/2).

instagram embed

Ada apa di balik Hari Internasional untuk Perempuan dalam Sains? Kenapa hari ini menjadi sangat penting untuk dirayakan? Simak penjelasan fakta-fakta International Day of Women and Girls in Science yang telah kumparanWOMAN rangkum berikut ini.

1. Ambil tema menutup kesenjangan gender dalam sains

Dikutip dari situs resmi UNESCO, badan sains, pendidikan, dan budaya di bawah PBB ini menyerukan aksi untuk menutup kesenjangan gender di sains. Di 2024, UNESCO bertujuan untuk merancang rekomendasi-rekomendasi yang menargetkan akar dari ketidaksetaraan berbasis gender dalam sains.

“Kendati sudah ada progres yang tercipta dalam beberapa dekade terakhir, saat ini, hanya satu dari tiga peneliti dunia yang merupakan perempuan. Disparitas gender yang persisten ini adalah hasil dari tantangan-tantangan berlimpah yang terus dihadapi oleh peneliti perempuan, yang nantinya dapat menghalangi anak-anak perempuan untuk terjun ke dunia sains dan menghambat progres para perempuan dalam bidang ini,” jelas UNESCO, sebagaimana dikutip dari keterangan resmi.

Ilustrasi ilmuwan perempuan dalam sains. Foto: Shutterstock

2. Representasi perempuan di sains masih kurang

Salah satu alasan mengapa hari perayaan ini sangat penting adalah masih kurangnya representasi perempuan dalam sains. Ya, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kesenjangan gender dalam dunia ini masih sangat prominen.

Dikutip dari situs resmi PBB, perempuan cenderung menerima dana bantuan riset yang lebih kecil ketimbang rekan sejawatnya yang laki-laki. Peneliti perempuan cenderung memiliki karier yang lebih pendek dan tidak diupah dengan pantas.

Saat ini, secara global, jumlah peneliti perempuan dalam STEM tercatat hanya sebesar 33,3 persen. Sementara itu, menurut data oleh World Economic Forum, jumlah perempuan yang bekerja di bidang non-STEM mencapai 49,3 persen. Sebanyak 28 persen dari lulusan teknik adalah perempuan dan jumlah lulusan perempuan dalam bidang ilmu komputer dan informatika mencapai 40 persen.

Bagaimana dengan jumlah perempuan Indonesia yang berkecimpung di dunia sains? Data oleh Survei Angkatan Kerja Nasional 2020 menunjukkan, hanya 3 dari 10 perempuan Indonesia yang berkarier di bidang STEM.

Ilustrasi ilmuwan perempuan dalam sains. Foto: Shutterstock

Banyak penyebab dari rendahnya representasi perempuan dalam STEM. Menurut American Association of University Women (AAUW), stereotip gender yang dilekatkan pada sains menahan perempuan untuk mendalami bidang ini. Sains dianggap sebagai disiplin ilmu yang “maskulin” sehingga perempuan tidak cocok untuk berkarier di dalamnya.

Dikutip dari UN Women, kekerasan seksual terhadap perempuan dalam STEM menjadi faktor rendahnya representasi perempuan.

“Studi tahun 2022 yang dilakukan di 117 negara mengindikasikan bahwa satu dari dua peneliti perempuan melaporkan, mereka mengalami kekerasan seksual di tempat kerja. 65 persen dari responden mengaku bahwa kejadian tersebut berdampak negatif pada karier mereka,” ungkap UN Women dalam keterangannya, Minggu (11/2).

Tak hanya itu, sedikitnya jumlah role model bagi perempuan cukup menghalangi perempuan untuk berani terjun ke dunia STEM. Dunia mengenal Stephen Hawking, Charles Darwin, dan Albert Einstein; tetapi, tak banyak yang mengetahui bahwa ada seorang ilmuwan perempuan bernama Marie Curie yang tak kalah cerdasnya.

Ilustrasi perempuan yang berkarier di bidang teknologi. Foto: Shutter Stock

3. Perempuan bisa beri wawasan baru dalam sains

Hari Perempuan dalam Sains turut membuka mata dunia soal pentingnya partisipasi perempuan dalam STEM. Dilansir situs resmi UN Women, representasi perempuan dalam sains bisa membantu bidang ini lebih kreatif, inovatif, dan merefleksikan isu-isu yang berkaitan dengan perempuan.

“Perempuan dan anak perempuan membawa keberagaman dalam penelitian, memperluas kumpulan praktisi profesional dalam sains, dan memberikan perspektif baru untuk sains dan teknologi; ini memberikan manfaat kepada semua orang,” jelas PBB dalam keterangannya.

Inilah mengapa, menurut UNESCO, International Day of Women and Girls in Science sangat penting untuk membantu tercapainya kesetaraan gender dalam STEM.

“Hari perayaan ini adalah kesempatan untuk mempromosikan partisipasi serta akses yang penuh dan setara untuk perempuan dan anak perempuan dalam sain. Kesetaraan gender adalah prioritas global untuk UNESCO, dan dukungan terhadap anak perempuan, pendidikan mereka, dan kemampuan mereka agar ide-ide mereka didengar, adalah tuas untuk pembangunan dan perdamaian,” pungkas UNESCO.