Kumparan Logo

4 Desainer Perempuan yang Usung Fashion Ramah Lingkungan

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi desainer perempuan yang peduli dengan lingkungan. Foto: ANNE-CHRISTINE POUJOULAT / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi desainer perempuan yang peduli dengan lingkungan. Foto: ANNE-CHRISTINE POUJOULAT / AFP

Beberapa tahun terakhir, kita disadarkan bahwa mode tak selalu indah. Dosa industri fashion tak berhenti di harga yang kian tak tergapai di sektor label mewah, tanpa validasi dan transparansi. Sampah pakaian dan aksesori terus menjulang, dan masih terus bertambah.

Di antara sisi-sisi kelam itu, jumpai empat desainer perempuan ini. Mereka konsisten mengampu gaya yang mereka yakini akan membantu bumi dan para makhluk hidupnya dapat hidup tanpa derita.

Amy Powney - Mother of Pearl

instagram embed

Meski sejatinya label ini didirikan oleh Maia Norman, tapi adalah sang direktur kreatif, Amy Powney, yang sukses merentang kisah Mother of Pearl hingga kini. Amy bergabung dengan label ini pada 2006 sebagai asisten studio jahit. Tujuh tahun kemudian, ia sukses meraih posisi sebagai direktur kreatif sekaligus mengambil alih kepemilikan.

Latar belakang Amy yang tumbuh besar di desa terpencil di Lancashire, Inggris, berperan besar membentuk cintanya terhadap alam yang sehat. “Masa kecil saya unik. Sumber air kami berasal dari sumur galian ayah, sumber listrik kami dari turbin bertenaga angin. Kedua orang tua saya bekerja di pertanian lokal. Saya jadi paham tentang bagaimana manusia memberi kepada dan mengambil dari bumi.”

instagram embed

Pada 2017, Amy memenangkan BFC/Vogue Designer Fashion Fund. Ia lalu menggunakan dana kemenangannya untuk meluncurkan koleksi inti (core collection). Koleksi inti, seperti koleksi-koleksi lain Mother of Pearl, sesuai tercantum di situs resmi mereka, berkomitmen ramah lingkungan.

Terbuat dari materi organik dan natural, transparansi rantai pemasok, bertanggung jawab kepada kesejahteraan fauna serta berdampak minim terhadap lingkungan hidup. Diksi koleksi Mother of Pearl adalah klasik bersentuhan modern yang khas. Seperti sweater bernama Tallie. Berleher bentuk V dan berlengan longgar, diberi aksen kerut dan mutiara di bagian atas lengannya. Gaya yang ramah bagi ragam kesempatan.

instagram embed

Pada Maret 2023, Amy meluncurkan film dokumenter berjudul Fashion Reimagined yang berkisah tentang misinya mengenai mode berkelanjutan. “Satu hal penting yang harus berubah di dalam industri mode adalah kehadiran peraturan legislatif yang secara jelas mengatur semua parameter bisnis. Bila ada peraturan yang mengikat, para perusahaan dan label tidak akan bisa berkelit lagi.”

Stella McCartney

Desainer Inggris Stella McCartney. Foto: Michael Tran / AFP

Anak dari seorang aktivis kesejahteraan hewan, tak heran bila Stella mewarisi semangat kepedulian sang ibu. Setelah sukses membawa Chloé menjadi bisnis yang meraih keuntungan selama empat tahun sebagai direktur kreatif, Stella lalu mendirikan label atas namanya sendiri pada 2001. Garis desain yang mumpuni, menjadikannya salah satu desainer perempuan penting di jagat mode dunia saat ini.

Desainer Inggris Stella McCartney. Foto: Angela WEISS / AFP

Menarik mengamati evolusi desainnya sejak 2001. Muatan sensual tak melulu harfiah, muatan maskulin jadi terus hadir, penataan gaya semakin modern. Evolusi desain Stella juga menghadirkan daya pakai yang semakin tinggi, sejajar dengan misi jangka panjangnya: Circular Fashion. Misi ini mengandung desain yang restoratif, demi mengurangi sampah mode.

Langkah Stella dalam misi menjaga bumi dan isinya, ia dekatkan dua tahun lalu melalui Collab SOS Fund. Bersama seorang rekannya, mereka berdua menginvestasikan dana sebesar 200 juta dollar untuk menciptakan praktik bisnis mode yang lebih etis.

Para model memamerkan kreasi Stella McCartney di akhir peragaan busana koleksi busana ready to wear Women's Fall-Winter 2020-2021 di Paris, pada 2 Maret 2020. Foto: Anne-Christine POUJOULAT / AFP

Salah satu perusahaan yang telah memberikan hasil konkret adalah Protein Evolution. Mereka meluncurkan Biopure, teknologi yang mendaur ulang sampah plastik dan limbah produksi mode dengan menggunakan enzim dan kecerdasan buatan, mentransformasi polyester dan bahan-bahan sintetis lainnya menjadi bahan baku baru.

“Saat awal saya memulai, saya adalah si ‘eco weirdo’,” kata Stella.

“Mereka bicara tentang hubungan erat antara materi kulit dan kemewahan. Tapi bagi saya, membunuh hewan di rumah jagal bukanlah kemewahan,” tegas Stella. “Kemewahan bagi saya adalah memiliki ‘suara’, kebebasan, udara dan air bersih, hewan-hewan yang sehat dan bahagia, serta menjunjung ibu bumi sebagai yang maha tinggi.”

Anna Foster - E.L.V. Denim

instagram embed

Kisah Anna bersama E.LV. Denim, bermula dari keheranan. Perempuan Inggris ini tak habis pikir mengapa produksi global empat milyar potong denim per tahun hanya terbuat dari serat baru tanpa proses (virgin fibre). “Statistik yang paling mencengangkan adalah satu celana denim menghabiskan 10 ribu liter air dalam proses produksinya. Kuantitas yang sama dengan yang diminum seorang manusia dalam kurun waktu 13 tahun,” papar Anna.

Kecintaannya kepada mode, menurutnya turun dari sang ibu yang kerap mendaur naik baju-baju lama. “Pendekatan ibu yang amat menghargai setiap helai pakaian menanamkan nilai serupa di diri saya. Saya ingin menyalakan kembali kecintaan terhadap kisah yang dikandung setiap helai pakaian.”

Pengalaman Anna selama dua dekade sebagai jurnalis mode dan pengarah gaya di media-media i-D, Russh dan Lula, berujung manis bagi keputusan-keputusan desainnya. Denim-denim buangan yang berasal dari grosiran sisa charity shop, bereinkarnasi menjadi gaya yang chic tanpa jadi pongah, cool seraya elegan.

instagram embed

Celana dan kemeja denim dalam dua gradasi warna dan ragam cutting (lurus, flare, boyfriend), ujung celana kadang dibiarkan tanpa jahitan atau asimetris, rok mini dan rok maksi yang sama memikatnya,

Anna cerdas menyimpulkan arti gaya kasual. Anna dan timnya serius memilih denim-denim ‘buangan’ yang tidak diambil oleh butik-butik vintage yang hanya memilih denim dalam kondisi baik atau berasal dari label-label tertentu. “Kami memilih dengan cermat, memperhatikan aksen khas dan sifat materi setiap potong denim. Kami mengadaptasi polanya hingga ke hitungan milimeter. Efisiensi materi, adalah esensi dari misi kami,” tegas Anna.

Liya Kebede - lemlem

Model asal Ethiopia sekaligus founder brand fashion lemlem, Liya Kebede. Foto: LOIC VENANCE / AFP

Lemlem - yang berarti mekar - adalah nama yang dipilih Liya Kebede untuk usahanya yang lahir dari keprihatinannya atas para juru tenun Ethiopia yang kehilangan pekerjaan. Lahirlah satu misi, dua sisi: melestarikan seni tenun Ethiopia dan memberikan penghasilan bagi para juru tenunnya. Mengawali dengan koleksi baju anak-anak, lemlem lalu bergerak memproduksi koleksi untuk perempuan dewasa.

Terusan, atasan, dan bawahan ringan serta baju renang dan bikini, lemlem memang hanya memproduksi pakaian-pakaian bagi iklim tropis atau musim panas. Inspirasi Liya dalam mencipta motif horisontal bagi lemlem, ia dapatkan dari paduan warna-warni cerah yang kerap menghiasi jalanan di benua Afrika.

instagram embed

Meski dalam tradisi Ethiopia keahlian seni tenun diwariskan hanya dari ayah kepada anak laki-laki, Liya mengubah hal ini. Ia memutuskan untuk memberikan pelatihan kepada para perempuan agar mereka punya keahlian dan bisa mencari nafkah. Komitmen memproduksi mode yang ramah lingkungan, diwujudkan dalam pemilihan bahan-bahan sintetisnya. Polyester yang berasal dari daur ulang botol plastik, dan nilon regeneratif yang merupakan olahan dari sampah di darat dan lautan.

Misi etika sosial yang diemban lemlem, dibulatkan dengan jangkauan tangan Liya di area kesehatan perempuan. Pada 2011, ia membuka pusat kesehatan ibu hamil dan bersalin di Hawassa, Ethiopia. “Pertanggung jawaban sosial adalah sesuatu yang selalu saya ingin wujudkan dalam berkarier. Bekerja untuk bertumbuh, mengembangkan koleksi yang akan memberi dampak jangka panjang bagi para juru tenun lemlem.”

Teks: Rifina Marie